Selasa, 16 Agustus 2022
18 Muharram 1444

Selamat Datang Era Suku Bunga Tinggi, Potensi Resesi Membesar

Rabu, 29 Jun 2022 - 17:58 WIB
Selamat Datang Era Suku Bunga Tinggi, Potensi Resesi Membesar
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengingatkan tim ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan ancaman suku bunga tinggi di AS, bisa menyengsarakan perekonomian Indonesia.

Kepada Inilahcom, Rabu (29/6/2022), Bhima menerangkan, suku bunga tinggi di negeri Paman Sam itu, membuat dolar AS menguat, sementara rupiah babak belur. Pelemahan ini terjadi lantaran banyak dolar AS yang ‘pulang kampung’ alias capital outflow.

Para investor mencabut duitnya di pasar keuangan Indonesia, mengalihkan ke obligasi AS atau dolar AS yang lebih menjanjikan cuan gede. Lantaran uang asing minggat ini, melahirkan imported inflation. “Sekarang sudah dirasakan rumah tangga di Indonesia. Harga-harga semakin mahal, khususnya bahan pangan dan energi,” ungkap Bhima.

Baca juga
BI: Triwulan III, Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$423,1 Miliar

Peluang resesi? Menurut Bhima, sangat mungkin. “Bahkan sinyal resesi juga menguat dan akibatkan indonesia melambat ekonomi nya. Pengangguran naik, konsumen akan sulit mencicil kredit karena naiknya suku bunga pinjaman akibatkan kontraksi diberbagai sektor usaha,” tuturnya.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings, memperkirakan, era suku bunga rendah ini, tak bertahan selamanya. Tahun ini, The Fitch memperkirakan, BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). Sedangkan tahun depan, diperkirakan naik hingga 100 bps.

“Kami memperkirakan era suku bunga rendah akan berganti, ini untuk mengurangi perbedaan suku bunga dengan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) dan menghindari depresiasi rupiah yang tajam,” tulis The Fitch, Selasa (28/6/2022).

Baca juga
BI: Transaksi Pembayaran Melonjak Selama Ramadan dan Idul Fitri

Namun keputusan ada di Bank Indonesia (BI) yang dinahkodai Perry Warjiyo. Sejauh ini, petinggi BI kompak, tidak mau buru-buru mengerek suku bunga acuan. BI masih akan terus mencermati tekanan inflasi ke depan, termasuk ekspektasi inflasi dan dampaknya pada inflasi inti.

Perry juga mengaku tengah fokus dalam menjaga pergerakan nilai tukar rupiah didukung dengan pengendalian inflasi dengan tetap memperhatikan bekerjanya mekanisme pasar dan fundamental. Dalam hal ini, Perry terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah agar imported inflation tetap terjaga.

Sebelum menaikkan suku bunga acuan pun, BI sudah melakukan normalisasi kebijakan moneter, lewat penyerapan likuiditas. Hal ini dilakukan dengan peningkatan kewajiban giro wajib minimum (GWM) secara berkala serta menaikkan efektivitas operasi moneter.

Baca juga
Wall Street Kecewa dengan Data Kuartalan dan Panasnya Inflasi

 

Tinggalkan Komentar