Kamis, 02 Februari 2023
11 Rajab 1444

Semua Pasti Diuji

Senin, 14 Nov 2022 - 23:48 WIB
Foto: istock

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Sudah menjadi sunatullah bahwa setiap manusia pasti akan diuji dengan beragam bentuk ujian. Ada yang diuji dengan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan datangnya penyakit. Ada juga yang diuji dengan orang-orang yang dicintainya.

Beragam ujian tersebut sengaja Allah hadirkan untuk mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalnya. Al-Quran menyebutnya dengan istilah “Ahsanul amalan”. Fudhail bin Iyadh memaknainya dengan “ashwabuhu wa akhlashuhu”, yaitu yang paling benar dan paling ikhlas amalnya.

Melalui hadirnya beragam ujian tersebut, akan terlihat jelas siapa yang mudah mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, hingga akhirnya putus asa terhadap rahmat Allah, dan siapa yang tetap teguh menjaga keimanannya dengan sikap rida dan sabar terhadap serangkaian ujian yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Ujian dan cobaan yang menimpa seseorang akan menjadi parameter keimanannya.

Baca juga
Kemenag RI dan Arab Saudi Bahas Rencana Haji-Umrah

Jika menilik ayat di atas, maka ujian dan cobaan yang menimpa manusia hadir dalam bentuk yang ‘tidak menyenangkan’ dalam pandangan manusia; ketakutan, kelaparan, kemiskinan, serta kematian.

Jika kita menilik ayat lainnya di dalam Al-Qur’an, maka kita akan menjumpai bentuk ujian dan cobaan lainnya yang hadir dalam wajah yang ‘lebih menyenangkan’, dan seringkali melenakan kita, yaitu kelimpahan harta dan keturunan (anak). QS. Al-Anfal [8]: 28 menegaskan hal tersebut, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Ibn ‘Arabi dalam tafsirnya, ketika menjelaskan makna ayat tersebut menegaskan bahwa harta dan keturunan itu bisa menjadi penghalang (hijab) bagi seseorang untuk dekat dengan Allah, karena ia lebih disibukkan dengan mengurus keduanya. Bahkan, lebih lanjut Ibn ‘Arabi menegaskan bahwa harta dan anak bisa menjadikan seseorang berbuat syirik kepada Allah, jika mencintai keduanya melebihi cintanya kepada Allah.

Baca juga
Kisah Lauren Booth, Jurnalis Asal Inggris yang Masuk Islam

Dari beberapa keterangan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa setiap manusia pasti diuji dengan beragam bentuk ujian, baik ujian yang datang dalam rupa yang ‘tidak menyenangkan’, seperti kekhawatiran dan kegelisahan serta ketidakpastian, kesulitan ekonomi, kehilangan orang-orang yang dicintai, maupun yang hadir dalam wajah ‘yang menyenangkan’, seperti kelimpahan harta dan keturunan, kesuksesan, popularitas dan sebagainya. Kesemua bentuk ujian itu pada akhirnya akan menunjukkan sikap seseorang yang sesungguhnya. Apakah dia tetap teguh mempertahankan keimanannya, ataukah justru lalai dan terjerumus ke kurang dosa.

Akhirnya, ayat ke-155 surah Al-Baqarah tersebut ditutup dengan kalimat. “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Sabar baik ketika ditimpa ujian, cobaan serta musibah yang ‘tidak menyenangkan’, dan sabar ketika diuji dengan kesenangan dan keberlimpahan. [Didi Junaedi, Qur’anic Inspiration]

Tinggalkan Komentar