Senin, 29 Mei 2023
08 Dzul Qa'dah 1444

Sengketa Sawit dengan Uni Eropa, Zulhas Ajak Malaysia Ambil Sikap

Senin, 13 Feb 2023 - 13:39 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Sengketa Sawit dengan Uni Eropa, Zulhas Ajak Malaysia Ambil Sikap - inilah.com
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat melakukan pertemuan dengan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertanian dan Komoditas Malaysia Dato’ Sri Haji Fadillah bin Haji Yusof di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (10/2/2023).

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengajak kerja sama negeri Jiran untuk mengambil sikap. Ajakan tersebut terkait kasus sengketa sawit (DS593 dan DS600) Indonesia dan Malaysia atas kebijakan deforestasi Uni Eropa yang diskriminatif.

“Upaya bersama ini dapat berkontribusi mengamankan akses pasar sawit dan produk lainnya yang terdampak oleh kebijakan Uni Eropa,” kata Mendag Zulhas, sapaan akrabnya, setelah melakukan pertemuan dengan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertanian dan Komoditas Malaysia Dato’ Sri Haji Fadillah bin Haji Yusof di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (10/2/2023).

Sebelumnya, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag, Natan Kambuno mengatakan, Indonesia masih menunggu hasil gugatan atau putusan di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) atas kebijakan diskriminasi sawit yang diterapkan Uni Eropa.

“Perkembangan sengketa gugatan diskriminasi sawit antara Indonesia dengan Uni Eropa di WTO (DS593) masih menunggu diterbitkanya Report oleh Panel WTO yang diperkirakan akan terbit awal atau pertengahan tahun 2023,” ujar Natan, Senin (30/1/2023).

Baca juga
Data Ekonomi AS yang Kuat Jadi Bumerang bagi Rupiah

Selain soal sengketa sawit, Mendag menyampaikan, Indonesia siap menandatangani review Border Trade Agreement (BTA) antara Indonesia dan Malaysia secepatnya. Indonesia mendorong agar proses internal Malaysia juga dapat segera diselesaikan.

Secara umum, kedua menteri membahas tantangan dan dinamika perdagangan global. Mereka juga fokus membahas tantangan dan dinamika itu terhadap komoditas sawit dan karet yang dimiliki kedua negara di kawasan Uni Eropa.

Begitu juga dengan upaya stabilisasi harga karet alam dunia. “Saya dan Deputi Perdana Menteri Dato’ Sri Haji Fadillah Bin Haji Yusof bertemu untuk membahas peningkatan berbagai peluang kerja sama yang masih bisa dijajaki lebih jauh,” ujar Mendag.

Kedua menteri membahas sikap Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi tantangan global. “Ini menyangkut komoditas unggulan yang sama-sama dimiliki kedua negara,” ungkap Mendag Zulhas.

Dalam pembahasan tentang komoditas karet, Mendag menyampaikan manfaat organisasi internasional yang menaungi komoditas karet dan menyambut baik usulan negeri Jiran untuk bekerja sama menangani hama penyakit tanaman karet yang menurunkan produktivitas hasil karet alam di tingkat petani.

Baca juga
PM Malaysia Anwar Ibrahim Terima Kunjungan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah

Oleh karena itu, keberadaan organisasi seperti International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan International Rubber Consortium (IRCo) bermanfaat bagi tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Thailand).

Lebih lanjut, keduanya sepakat untuk mendorong kerja sama tripartit tersebut menjadi cakupan ASEAN dengan mengundang negara ASEAN lainnya untuk bergabung di saat Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023.

“Indonesia dan Malaysia sepakat berkolaborasi merumuskan program strategis ITRC dan IRCo sebagai upaya konkret menyejahterakan petani dan menyetabilkan harga karet,” kata Mendag yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional.

Zulhas juga mengatakan, Indonesia siap menjadi tuan rumah Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia-Malaysia. Indonesia juga mengusulkan agar pertemuan ke-4 JTIC dapat diselenggarakan back-to-back dengan pertemuan ASEAN Economic Ministers’ Meeting pada Maret 2023 di Magelang, Jawa Tengah.

Baca juga
Usai Digoyang Pejabat Hedon, Sri Mulyani Dikelilingi 39 Pejabat 'Kemaruk' Jabatan

Mendag Zulkifli Hasan juga mengharapkan dukungan Malaysia untuk menyukseskan Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023.

Pada 2022, total perdagangan Indonesia-Malaysia meningkat 30,37 persen menjadi 27,9 miliar dolar AS atau Rp424,5 triliun mengacu pada kurs Rp15.215,25 per dolar AS dari 2021 yang sebesar 21,4 miliar dolar AS. Indonesia mencatatkan surplus 3 miliar dolar AS pada 2022, atau naik 18,13 persen dibandingkan 2021.

Malaysia menempati posisi ke-5 sebagai negara tujuan ekspor Indonesia dan posisi ke-4 sebagai negara asal impor Indonesia.

Tinggalkan Komentar