Sepanjang September BPS Catat Impor Melejit 74%, Lagi-lagi China yang Untung

Sepanjang September BPS Catat Impor Melejit 74%, Lagi-lagi China yang Untung - inilah.com

Gara-gara belanja vaksin COVID-19 dari China, nilai impor Indonesia pada September 2021, naik signifikan hingga hampir 74 persen.
 
Selain impor vaksin China, barang konsumsi yang membanjiri pasar Indonesia adalah daging kerbau India dan sapi Australia. Nilai impor ketiga produk tersebut mencapai US$1,79 miliar.
 
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), impor September 2021 mengalami kenaikan 73,94 persen. Di mana, impor barang konsumsi juaranya senilai US$1,79 miliar. Adapun produk impor terbesar berasal dari China berupa vaksin COVID-19, disusul daging kerbau India dan sapi Austalia.

“Dominasi impor konsumsi itu adalah impor vaksin dari China meningkat 3.100,92 persen. Kemudian, disusul impor daging kerbau dari India dan Australia yang naik 57,9 persen,” ucap Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers virtual, Jumat (15/10/2021).

Selain dua komoditas itu, kata dia, sumbangan pada realisasi impor konsumsi juga cukup banyak dari Jerman, Jepang, dan India dalam bentuk impor bahan obat-obatan. Jumlah impornya tercatat naik 73,94 persen.

Baca juga  Awas, Daging Brazil Mengandung Penyakit Sapi Gila

Kendati impor vaksin dan kerbau meningkat dari China dan India pada bulan lalu, namun realisasi nilai impor dari kedua negara itu, sejatinya turun. Tercatat, impor China ke Indonesia pada September 2021 turun US$518,2 miliar menjadi US$4,43 miliar. Sementara impor India ke Tanah Air turun US$148,8 juta, menjadi US$515,8 juta.

Menurut BPS, realisasi impor Indonesia secara keseluruhan memang tengah menurun dari sejumlah negara mitra pada bulan lalu. Tercatat, realisasi impor Indonesia senilai US$16,23 miliar pada September 2021 atau turun 2,67 persen dari Agustus 2021.

Realisasi impor konsumsi yang masuk ke Indonesia dari berbagai negara mitra dagang sejatinya turun sekitar 5,28 persen pada September dari Agustus 2021. Namun, secara tahunan naik 59,66 persen dari September 2020.

Baca juga  1.921 Dosis Vaksin untuk Warga Aceh Dibuang

Kondisi serupa juga terjadi pada impor bahan baku/penolong yang turun 2,27 persen menjadi US$12,09 miliar dan barang modal berkurang 2,66 persen menjadi US$2,35 miliar.

Bukan cuma impor dari China dan India yang turun ke Indonesia, tapi ekspor komoditas dari dalam negeri ke kedua negara juga turun. Realisasi ekspor Indonesia ke India turun US$482,5 juta menjadi US$1,23 miliar. Sementara realisasi ekspor Indonesia ke China melorot US$236,5 juta menjadi US$4,54 miliar pada bulan lalu.

Margo mengatakan, penurunan ekspor ke India terjadi karena berkurangnya pengiriman komoditas lemak dan minyak hewan/nabati sebanyak 67,63 persen dan pupuk 53,55 persen.

“Sementara yang ke China, turunnya itu disebabkan karena menurunnya ekspor kita untuk bahan bakar mineral turun 15,22 persen, kemudian lemak dan minyak hewan/nabati 19,02 persen,” jelasnya.

Baca juga  BPS: Ekonomi Kuartal III Tumbuh Cuman 3,5 Persen, Sri Mulyani Meleset

Kendati begitu, BPS belum bisa menjelaskan alasan penurunan ekspor ke kedua negara yang kebetulan sedang mengalami krisis energi. “Kalau dikaitkan dengan isu krisis energi, mungkin perlu kajian lagi. Kita belum bisa kaitkan, tapi yang menyebabkan turun bisa dipelajari,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan, nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan juga turun 3,84 persen menjadi US$20,6 miliar pada September dari Agustus 2021. Ia menduga hal ini terjadi karena ada penurunan permintaan dari berbagai negara mitra dagang di dunia.

“Penurunannya untuk ekspor nonmigas itu turun 6,24 persen, itu lebih dalam dibandingkan penurunan nilai ekspor nonmigasnya yang tercatat 3,38 persen. Ini dapat diartikan ada penurunan permintaan dari negara mitra dagang karena ada penurunan volume,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar