Serikat Karyawan Garuda Minta Jokowi Turun Tangan, Awas Garuda Bisa Di-Indosat-Kan

Serikat Karyawan Garuda Minta Jokowi Turun Tangan, Awas Garuda Bisa Di-Indosat-Kan - inilah.com
(ist)

Gaduhnya isu pailit Garuda, Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Tomy Tampatty menduga ada upaya terstruktur untuk menjual Garuda ke tangan asing dengan harga murah. Seperti halnya penjualan Indosat di era Presiden Megawati.

“Ini kita khawatir Garuda bakal di-Indosat-kan. Melihat gejalanya seperti ini. Pertama, Wamen  Kementerian BUMN tidak terbelah. Wamen BUMN Kartika ngotot pailit, namun ada yang masih yakin dengan renegosiasi. Menyedihkan lagi, ada anggota PDIP di DPR yang ngotot agar Garuda bangkrut saja,” terang Tomy kepada Inilah.com, Jakarta, Senin (25/10/2021).

Seluruh pihak yang kompeten, kata dia, seharusnya belajar tentang sejarah Garuda. Maskapai penerbangan ini lahir di era Bung Karno. Susah payah, Bung Karno mencari pendanaan untuk membeli pesawat. Hingga rakyat Aceh rela menyumbangkan kekayaannya untuk membeli pesawat RI-001 Seulawah, cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.  

Baca juga  Erick Thohir: Ini Bos Saya

“Terus terang, kami heran ada kader PDIP yang justru mendorong Garuda bangkrut. Ingat, maskapai ini, hasil jerih payah Bung Karno dan rakyat Aceh. Yang enggak setuju Garuda jelas-jelas mengingkari ajaran Bung Karno,” ungkap Tomy.

Dari penelusuran Inilah.com, Anggota Komisi VI asal PDI Perjuangan Evita Nursanty mendukung Kementerian BUMN menutup Garuda, apabila negosiasi utang menemui jalan buntu alias deadlock.

Selanjutnya, anak buah Megawati ini, mendukung Pelita Air Service maju sebagai pengganti Garuda. Langkah ini dinilai lebih pas ketimbang memberikan dana Penyertaan modal Negara (PMN) kepada Garuda. “Kami di DPR sudah tegas mengatakan tidak mungkin itu (Garuda) diselesaikan dengan penyertaan modal negara,” kata Evita.

Baca juga  Fajar/Rian Pastikan Indonesia Melaju ke Final Piala Thomas

Masih menurut Tomy, sebagai perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), isu Garuda pailit atau bangkrut, berdampak kepada anjloknya harga saham. Bukan tak mungkin ada duit asing masuk untuk memiliki Garuda dengan harga obral.

“Kalau murah, kemudian asing masuk. Siapa yang berani jamin tidak akan begitu? Kita kan punya preseden Indosat yang dijual pada 2002. Makanya kita minta Presiden Joko Widodo turun tangan. Agar tidak benar-benar terjadi,” tegas Tomy.

Kegalauan Tomy, bisa jadi tak mengada-ada. Masih ingat kasus Indosat? Kalangan milenial kelihatannya harus buka-buka lagi berita tahun 2002. Kala itu, Presiden Megawati yang berkuasa, memutuskan untuk melego (divestasi) 50 persen saham Indosat kepada asing.

Baca juga  Erick Thohir: Sinergi BUMDes dan BUMN Perlu Dioptimalkan

Pembelinya Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT), perusahaan telekomuniasi asal Singapura. Tepatnya 15 Desember 2002, STT resmi menjadi penguasa Indosat dengan 50 persen saham.

Kala itu, STT menyedot 41,94 persen saham, yakni 434.250.000 saham Indosat, senilai US$630 juta, atau setara Rp5,62 triliun (kurs Rp 8.900/US$). Harga per lembar saham Indosat Rp12.950 per.

Keputusan Megawati menjual Indosat, sempat menuai kritik pedas. Mengingat Indosat adalah aset strategis sebagai perusahaan pemilik satelit dan operator selular. Dan, Indosat dianggap sebagai BUMN yang menguntungkan negara. Namun, godaan untuk menjualnya ternyata lebih gede.

Tinggalkan Komentar