Jumat, 12 Agustus 2022
14 Muharram 1444

Server Polisi Dibobol Peretas, Data 1 Miliar Warga China Bablas

Selasa, 05 Jul 2022 - 11:25 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Ilustrasi Peretas (Foto istock)
Ilustrasi Peretas (Foto istock)

Seorang peretas mengklaim telah mencuri informasi pribadi 1 miliar warga China dari database kepolisian Shanghai, yang akan menjadi salah satu pelanggaran data terbesar dalam sejarah jika terbukti benar.

Mengutip The Guardian Selasa (05/07/2022), dalam postingannya di Breach Forums pada pekan lalu, pengguna internet anonim yang dikenal sebagai “ChinaDan” menawarkan lebih dari 23 terabyte data untuk 10 bitcoin yang setara dengan sekitar 200 dolar AS. “Pada tahun 2022, database Shanghai National Police (SHGA) bocor. Database tersebut berisi banyak informasi tentang miliaran warga China. Basis data informasi termasuk nama, alamat, tempat lahir, nomor identitas, nomor ponsel, dan riwayat kejahatan,” tulis postingan itu.

Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan mengenai keaslian klaim dari postingan itu. Pemerintah Shanghai dan departemen kepolisian tidak menanggapi permintaan komentar.

Baca juga
Eko Kuntadhi Bela Tim Kreatif Holywings, Felix Siauw: Persis Jawaban Penghuni Neraka

Postingan ChinaDan menjadi viral dan tersebar secara luas di platform media sosial Weibo dan WeChat China selama akhir pekan. Banyak pengguna yang khawatir bahwa postingan itu bisa menjadi kenyataan.

Kepala penelitian kebijakan teknologi di konsultan yang berbasis di Beijing, Trivium China, Kendra Schaefer, mengatakan jika materi yang diklaim peretas berasal dari Kementerian Keamanan Publik, itu akan membuat kondisi kian memburuk.

“Yang paling jelas itu akan menjadi salah satu pelanggaran terbesar dan terburuk dalam sejarah,” kata Schaefer.

Klaim peretasan datang ketika China telah berjanji untuk meningkatkan perlindungan privasi data pengguna online. Pemerintah menginstruksikan raksasa teknologinya untuk memastikan penyimpanan yang lebih aman setelah keluhan publik soal salah urus dan penyalahgunaan.

China dalam beberapa tahun terakhir mengalami sejumlah insiden kebocoran data. Pada tahun 2016, informasi sensitif tentang individu Cina yang kuat, termasuk pendiri Alibaba, Jack Ma, telah diposting di Twitter. Insiden ini membuat khawatir pihak berwenang China. Tahun lalu, China mengesahkan undang-undang yang mengatur bagaimana informasi dan data pribadi yang dihasilkan di dalam perbatasannya harus ditangani.

Tagar “Kebocoran data Shanghai” diblokir di Weibo pada Minggu sore, tetapi masih ada beberapa diskusi di media sosial China tentang insiden ini. Pengguna mengungkapkan keterkejutan dan kekecewaan, dengan beberapa mengatakan bahwa mereka sekarang adalah “manusia transparan”.

Tinggalkan Komentar