Minggu, 04 Desember 2022
10 Jumadil Awwal 1444

Setelah Nikel, Perusahaan China Akan Masuk Blok Masela

Kamis, 24 Nov 2022 - 04:07 WIB
Setelah Nikel, Perusahaan China Akan Masuk di Blok Masela
Kegiatan Eksplorasi di Blok Masela. (Foto: Reuters)

Perusahaan asal China sudah mengajukan ketertarikannya untuk masuk dalam pengelolaan blok Masela. Masuknya perusahaan China ini untuk menggantikan posisi Shell yang bakal hengkang dari Indonesia dalam pengelolaan di blok Masela.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto mengatakan saat ini sudah ada empat perusahaan yang menyatakan tertarik. Menurutnya perusahaan itu nantinya akan menggantikan Shell yang akan melepas 35 persen hak partisipasi Blok Masela.

“Cukup banyak, at least kita indikasikan ada 3 dan 4 gitu ya. Cuma kan masing-masing punya syarat sendiri-sendiri. Harus dikolaborasikan oleh Inpex,” ungkap Dwi saat di Nusa Dua, Bali, Rabu (23/11/2022).

Dia mengatakan, satu dari empat perusahaan yang tertarik masuk dalam pengelolaan Blok Masela adalah PetroChina Company Ltd. Namun hingga kini perusahaan-perusahaan tersebut masih dalam proses studi.

Baca juga
Efek Perang Rusia-Ukraina, Anak Buah Sri Mulyani Akui Beratkan APBN 2022

“Termasuk (PetroChina). Tapi masih menunggu hasil studi masing-masing dari blok itu,” kata Dwi.

Dia menjelaskan keputusan final soal kepastian perusahaan-perusahaan pengelola Blok Masela akan pihaknya umumkan pada akhir tahun ini. Sebab banyak perusahaan-perusahaan asing yang sudah menyatakan ketertarikannya.

Sebelumnya, Pertamina dan ExxonMobil sudah menyatakan minatnya untuk masuk dalam participating interest (PI) Blok Masela. Selain itu ada Petroliam Nasional Berhad atau Petronas yang juga menyatakan minatnya.

Saat ini Inpex Dorporation selaku pemegang mayoritas PI Blok Masela tengah membangun kolaborasi strategis dengan perusahaan BUMN, Pertamina. Harapannya dalam proses komunikasi kedua perusahaan akan segera menemui titik temu.

“Di saat yang sama Petronas juga tertarik untuk masuk kalau memungkinkan kerja sama dengan Pertamina dalam hal penggantian Shell ini. Ini perkembangan terakhir tentang Shell,” kata Dwi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII, Rabu (16/11/2022).

Baca juga
Usai Kecelakaan Kerja, DPR Usul Proyek Listrik Panas Bumi Digeser ke SKK Migas

China Kuasai Nikel

Sebagai informasi, perusahaan China banyak menguasai tambang di Indonesia khususnya untuk tambang nikel. Bahkan menurut DPR, China menguasasi 90 persen nikel yang ada di Indonesia.

Selain itu China juga mengeruk keuntungan yang lumayan dari nikel Indonesia. Sebab setiap tahunnya, China memperoleh cuan sekitar Rp450 triliun dari nikel.

Anggota Komisi VII DPR Fraksi Partai Demokrat Zulfikar Hamonangan mempertanyakan fakta ini saat rapat kerja dengan Menteri ESDM Arifin Tasrif. Sebab dengan kondisi ini Indonesia tidak akan bisa menjadi produsen nomor satu baterai lithium jika hanya mengandalkan nikel.

“90 persen tambang nikel yang ada di Indonesia itu dikuasai China, Pak Menteri. Bahkan, benar atau tidaknya, pajaknya pun dibebaskan 30 persen. Ini kebijakan-kebijakan yang aneh. Sementara, perusahaan-perusahaan pribumi banyak tersingkirkan, izin-izin mereka dicabut,” katanya dalam Rapat Kerja di Komisi VII DPR RI, Senin (21/11/2022).

Tinggalkan Komentar