Minggu, 26 Juni 2022
26 Dzul Qa'dah 1443

Si Manis Mengintai, Awas Menyusul Minyak Goreng!

Kamis, 09 Jun 2022 - 02:02 WIB
Si Manis
(istimewa)

Belum selesai persoalan harga dan pasokan minyak goreng, kini Si Manis mulai mengintai. Harga gula konsumsi di Tanah Air mulai merangkak naik. Akankah stok dan harga gula mengikuti fenomena yang terjadi pada minyak goreng?

Ancaman krisis pangan dunia memaksa banyak negara melakukan langkah-langkah proteksionis. Mereka mulai memperkuat ketersedian stok pangan di dalam negerinya. Salah satunya adalah ketersediaan gula. Sejumlah negara produsen gula mulai menahan diri melakukan ekspor. Semuanya berjaga-jaga, lebih mementingkan kebutuhan warganya.

Seperti yang dilakukan India. Pemerintah negara itu telah meminta eksportir untuk mengajukan izin pengiriman ke luar negeri antara 1 Juni dan 31 Oktober 2022. Pembatasan ekspor gula India ini merupakan yang pertama kalinya dalam enam tahun untuk mencegah lonjakan harga domestik. Kebijakan ini berpotensi membatasi ekspor musim ini pada 10 juta ton. India adalah produsen gula terbesar di dunia dan eksportir terbesar kedua setelah Brasil.

India memang bukan pemasok utama gula bagi Indonesia. Pemasok utama gula untuk Indonesia adalah Thailand serta Australia. Namun, pembatasan ekspor itu bisa memicu efek domino terhadap harga gula global. Sehingga pada akhirnya akan berdampak kepada harga gula di pasar domestik.

Mengutip TradingEconomics, harga gula mentah di pasar internasional pada sesi perdagangan Selasa (7/6/2022) tercatat berfluktuasi di kisaran 19,3-19,4 sen dolar AS per pon. Namun, kalangan pengamat memprediksikan harganya kembali naik ke level di atas 20 sen dolar AS per pon seperti pada minggu kedua April 2022. Bahkan diprediksi naik ke 21,22 sen dolar AS dalam 12 bulan mendatang. Hal ini bisa terjadi menyusul semakin ketatnya pasokan di pasar global.

Baca juga
Jeep Wrangler dan Gladiator Model 2021 Hadir di Indonesia

Sementara di pasar domestik harga gula juga sudah mulai merangkak naik. Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, Selasa (7/6/2022), harga gula pasir lokal rata-rata masih bertahan dalam beberapa hari terakhir di Rp14.750 per kg. Sedangkan di Jakarta, Info Pangan Jakarta menyebugtkan, di hari yang sama rata-rata berada di kisaran Rp14.446 per kg. Masih jauh lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) gula pasir yang sebesar Rp13.500 per kg.

Pasokan gula

Kebutuhan gula nasional memang cukup tinggi, Menurut Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (Apegti), total kebutuhan gula nasional pertahun adalah sebesar 4.392.960 ton per tahun atau 332.800 ton per bulan, termasuk untuk pemenuhan cadangan gula nasional yakni 10 persen dari kebutuhan gula nasional.

Lalu bagaimana pemenuhan gula produksi dalam negeri? Industri Gula Nasional (IGN) dari Pabrik Gula (PG) milik pemerintah dan swasta hanya mampu memproduksi gula 2.800.000 ton per tahun. Sehingga terjadi defisit kebutuhan gula nasional hingga 1.592.960 ton per tahun.

Baca juga
Cegah Penyelundupan, Ekonom INDEF Usulkan Beli Migor Curah Pakai Kupon

Karena itu, terpaksa pemerintah melakukan impor gula untuk memenuhi kekurangannya. Impor dilakukan melalui BUMN seperti PTPN, PPI, RNI, Bulog dan lain-lain serta melalui perusahaan Swasta pemilik API-P atau API-U (Permendag RI Nomor 14 Tahun 2020, Tentang Ketentuan Impor Gula).

Pada 2022, pemerintah mengalokasikan importasi kepada perusahaan negara bidang pergulaan sebesar 250.000 ton, yakni berupa 150.000 ton gula kristal putih (GKP) dan 100.000 ton gula mentah (raw sugar). Pada awal Februari 2022, holding pabrik gula milik BUMN, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) sudah mengimpor sebanyak 25.000 ton gula mentah.

Saat ini, masih ada sekitar 79 unit Pabrik Gula (PG) milik BUMN di berbagai daerah. Namun, tidak semuanya mampu beroperasi mengingat tergolong berusia tua peninggalan Belanda. Ada juga yang tidak bisa beroperasi lagi karena kekurangan bahan baku tebu. Sudah lama persoalan pabrik gula tua ini dibiarkan tanpa adanya upaya investasi penggantian mesin atau pun peningkatakan kapasitas produksi.

Pabrik gula di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI telah memulai musim giling. Dalam unggahan media sosial Instagram @ptpn11, disebutkan akan menyukseskan musim giling 2021/2022 demi tercapainya ketahanan pangan nasional sehingga harga gula di masyarakat dapat kembali normal. “Semua pabrik gula PTPN XI saat ini telah memulai aktivitas giling tahun 2022,” tulis @ptpn11, Senin (6/6/2022).

Baca juga
Kedelai Mulai Mahal, Perajin Tahu dan Tempe di Daerah Mulai Resah

Ada 13 pabrik gula yang dikelola PTPN XI, yakni PG Soedhono, PG Poerwodadie, PG Redjosarie, PG Pagottan, PG Kedarwoeng, PG Wonolangan, PG Gending, PG Wiringanom, PG Pandjie, PG Assembagoes, PG Pradjekan, PG Semboro, dan PG Djatiroto.

Masih ada optimisme bahwa harga gula masih bisa bertahan dengan situasi panen dan musim giling sehingga pasokan dalam negeri yang akan bertambah. Selain itu, ada tambahan dari realisasi impor dari sisa kuota tahun lalu.

Namun, dengan adanya isu kenaikan harga gula mentah dunia ini, Indonesia sudah seharusnya segera bertindak cepat. Kalau tidak, fenomena antrian untuk mendapatkan gula yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia setelah beras akan terjadi lagi yang pernah dialami minyak goreng. Semoga tidak. [ikh]

Tinggalkan Komentar