Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Sifat Buruk Manusia

Kamis, 01 Des 2022 - 05:19 WIB
Ilustrasi muslim berdoa (Foto: istock)
Ilustrasi muslim berdoa (Foto: istock)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij [70]:19-21)

Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wasith, ketika menafsirkan rangkaian ayat di atas menegaskan bahwa pada umumnya manusia itu suka mengeluh. Mereka punya sifat buruk berupa keinginan (ambisi) yang berlebihan, sedikit kesabaran banyak berkeluh kesah. Jika ditimpa kesulitan berupa kemiskinan atau sakit, mereka banyak mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, serta diliputi kesedihan berkepanjangan. Tetapi sebaliknya, jika diberi kebaikan dan kemudahan berupa kesehatan yang sempurna, kekayaan melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang prestisius, mereka cenderung bersifat kikir, sombong dan tidak peduli dengan orang lain.

Itulah beberapa sifat buruk manusia pada umumnya. Ketika kesulitan hidup datang mendera, dia merasa seolah-olah langit akan runtuh, bumi berguncang dan dunia akan kiamat. Dia kabarkan ke setiap orang yang dijumpainya bahwa dia tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan. Dia ceritakan penderitaannya kepada semua orang. Dia ingin orang lain tahu bahwa dia sedang dalam keadaan susah, dengan harapan setiap orang akan iba dan menaruh belas kasihan kepadanya. Dia tidak pernah berpikir sedikit pun tentang karunia serta nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dia hilangkan semua kebaikan Allah kepadanya.

Baca juga
Kisah Akhlak Para Wali: Shalat Sunah 40 Ribu Rakaat

Di sisi lain, ketika dia tengah diliputi kebaikan dan kemudahan hidup. Lagi-lagi sifat buruknya muncul. Dia menjadi orang yang sangat kikir, tidak mau berbagi sedikit pun kebahagiaan yang dimilikinya kepada orang lain. Dia simpan dan genggam erat-erat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dia berbangga diri dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya. Dia menjadi jemawa dengan jabatan jabatan dan kedudukan yang telah berhasil direngkuhnya. Dia menjadi sombong dengan segala yang dimilikinya. Dia lupa bahwa semua yang saat ini ada dalam kehidupannya adalah nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Semua yang dimilikinya sesungguhnya hanyalah titipan Allah semata.

Baca juga
Kisah Akhlak Para Wali: Mengharumkan Nama Allah

Untuk menyadarkan kita semua akan sifat buruk tersebut, ada baiknya kita menyimak uraian ayat ke-26 dari QS. Ali ‘Imran berikut ini. “Katakanlah: ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang-orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa segala kekuasaan, kelimpahan, kemuliaan yang ada pada manusia semua berasal dari Allah Swt. Sebaliknya, segala kehinaan, kerendahan, ketidakberdayaan akan Allah hadirkan kepada mereka yang terlena dan terbuai oleh tipu daya gemerlap dunia.

Baca juga
Memaknai Haji Mabrur dalam Hidup

Betapa banyak kita saksikan dalam kehidupan ini, orang-orang yang Allah karuniai kelimpahan rezeki, tetapi alih-alih bersyukur justru mereka lalai dan terlena dengan nikmat tersebut. Mereka gunakan harta serta kekayaan yang melimpah itu untuk berbuat maksiat kepada Allah. Mereka banggakan kekayaan yang dimilikinya. Mereka menjadi manusia-manusia yang angkuh dan sombong. Mereka juga sangat kikir. Mereka enggan membelanjakan harta dan kekayaannya di jalan Allah. Mereka memilih untuk menempuh hidup dalam kemewahan. [Didi Junaedi, Qur’anic Inspiration]

Tinggalkan Komentar