Rabu, 08 Februari 2023
17 Rajab 1444

Sifilis Melonjak, Waspadalah Mengingat Bahayanya Penyakit Ini

Rabu, 05 Okt 2022 - 14:11 WIB
Sifilis Penyakit
(ist)

Lonjakan dalam jumlah kasus penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis di Eropa dan AS telah menimbulkan kekhawatiran. Tidak menutup kemungkinan penyakit kelamin menyebar dengan cepat ke Indonesia. Apa bahayanya penyakit sifilis ini dan bagaimana cara mencegahnya?

Sebuah data baru-baru ini yang dirilis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, jumlah infeksi sifilis baru melonjak 26 persen antara 2020 dan 2021, dengan 52.354 kasus sifilis primer dan sekunder dilaporkan di AS tahun lalu. Tidak hanya itu, tingkat klamidia dan gonore juga meningkat dari 2020 hingga 2021 –ketiga infeksi ini meningkat 4,4 persen secara keseluruhan tahun lalu.

Beberapa bintang film dewasa di Inggris memilih untuk menahan diri dari syuting menyusul laporan wabah sifilis di Eropa ini. Menurut laporan Independent, PASS, sebuah perusahaan yang menjalankan database sertifikat kesehatan seksual untuk aktor dewasa AS, mengatakan bahwa mereka diberitahu tentang beberapa tes sifilis positif di antara bintang porno di Eropa.

PASS yang telah mengeluarkan peringatan mereka tentang sifilis di portal sumber daya global untuk pekerja industri dewasa minggu lalu juga menyatakan bahwa tes kesehatan seksual tidak standar dalam industri hiburan dewasa di Eropa. “Pemain individu, pencipta, dan studio mungkin ingin mempertimbangkan untuk menghentikan produksi mereka sendiri sampai tingkat risikonya diketahui,” katanya dalam pernyataan itu.

Sifilis merupakan salah satu PMS yang ditularkan melalui kontak seksual dan menyebabkan lesi kulit dan ruam. Infeksi bakteri dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, jika tidak diobati, sifilis dapat memicu masalah serius, termasuk secara permanen mengubah dan merusak organ dalam dan fungsi otak bahkan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani.

Baca juga
Menilik Kemungkinan Lonjakan Kasus Covid-19 di PON XX

Data CDC menunjukkan bahwa pria yang berhubungan seks dengan pria 106 kali lebih mungkin terinfeksi sifilis dibandingkan pria yang berhubungan seks dengan wanita. CDC merekomendasikan bahwa pria yang berhubungan seks dengan pria harus menjalani tes sifilis sesering mungkin atau setiap tiga hingga enam bulan jika mereka memiliki banyak pasangan anonim.

Kelompok lain yang berisiko tinggi terkena sifilis termasuk orang kulit hitam Amerika, yang hampir lima kali lebih mungkin terinfeksi daripada orang kulit putih Amerika. Faktor sosial ekonomi—termasuk kurangnya akses ke perawatan kesehatan yang baik –juga dapat membuat orang menjadi lebih rentan.

Sangat Menular

Sifilis sangat menular yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius tanpa pengobatan. Ini disebabkan oleh bakteri yang disebut Treponema pallidum. Infeksi dapat berkembang secara bertahap dan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan bagian seksual selama hubungan seks vaginal, oral atau anal.

Sementara mengutip Healthline, sifilis lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan pria. Pada awal infeksi, beberapa kasus sifilis tidak menunjukan gejala ataupun berskala ringan. Namun, infeksi yang berkembang akan membuat penyakit ini semakin parah.

Ada beberapa tahap gejala penyakit ini, yakni utama atau primer, sekunder, tersembunyi dan tersier. Namun, sayangnya pada tahap tersembunyi, seperti namanya, gejala di tahap ini tidak terlihat, namun infeksi tetap bergerak aktif. Pada dua tahap pertama, penyakit ini sebutkan sangat mudah menular. Lalu pada tahap tersierlah tahap yang paling merusak kesehatan.

Tahap primer atau utama terjadi sekitar 3 hingga 4 minggu pasca infeksi bakteri. Gejala pertama adalah munculnya luka bulat kecil yang biasa disebut chancre. Tempatnya bisa di mana saja, sesuai dengan tempat masuknya bakteri, bisa di mulut, alat kelamin ataupun rektum.

Baca juga
4 Peran Penting Ayah Dalam Mengasuh Anak

Hal ini dikarenakan sifilis bisa menular melalui kontak seksual termasuk seks oral. Luka ini umumnya bertahan selama 2 hingga 6 minggu. Gejalanya pembengkakan kelenjar getah bening. Sayangnya, luka ini tidak menimbulkan rasa sakit sehingga orang seringkali tidak menyadarinya dan mudah sekali menular pada orang lain.

Sementara gejala sifilis sekunder meliputi sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, kelelahan, demam, penurunan berat badan, rambut rontok hingga nyeri sendi. Sedangkan sifilis tersier adalah tahap terakhir yang bisa menimbulkan kondisi serius seperti kebutaan, kehilangan pendengaran, kondisi kesehatan mental, hilang ingatan, kerusakan jaringan lunak dan tulang, penyakit jantung, neurosifilis, gangguan neurologi seperti stroke ataupun meningitis.

Sekitar 15 sampai 30 persen orang terinfeksi sifilis yang tidak mendapatkan pengobatan akan mengalami komplikasi yang dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium lanjut, penyakit ini dapat merusak otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan persendian. Masalah-masalah ini dapat terjadi bertahun-tahun setelah infeksi asli yang tidak diobati. Dalam kasus yang jarang terjadi, juga dapat menyebabkan kematian.

Vaksinasi dan Pencegahan

Sifilis dapat didiagnosis dengan tes darah di rumah sakit atau klinik atau peralatan rumah. Namun, sifilis tetap tidak dapat diobati sampai saat ini. Sementara penelitian sedang mengembangkan vaksin untuk infeksi, sebuah laporan di The Washington Post mengatakan sifilis adalah penyakit yang sangat sulit untuk dicegah dengan vaksinasi karena bakteri telah beradaptasi untuk keluar dari sistem kekebalan.

Melakukan tes dan pengobatan untuk sifilis sangat penting bagi orang hamil. Sifilis kongenital pada orang hamil dapat meningkatkan risiko keguguran, lahir mati, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, atau bayi meninggal segera setelah lahir. Bayi yang bertahan hidup juga dapat mengalami gejala seperti kelainan bentuk tulang, ketulian, meningitis, kelainan bentuk gigi dan hidung pelana serta masalah dengan otak.

Baca juga
Celine Dion Idap Stiff-Person Syndrome, Kenali Penyakit Langka Ini

Bayi tidak selalu memiliki gejala saat lahir, tetapi dapat mengembangkannya beberapa minggu atau bahkan bertahun-tahun kemudian sehingga harus tetap up to date untuk melakukan pengujian. Sifilis kongenital yang dapat mengakibatkan kematian dan cacat lahir, telah meningkat sebesar 24 persen dari tahun ke tahun.

Mengingat tidak adanya vaksin untuk sifilis, pencegahan penyebaran sifilis menjadi hal yang sangat penting. Mayoclinic menekankan satu-satunya cara pasti untuk menghindari sifilis adalah dengan menghindari atau tidak berhubungan seks. Pilihan terbaik berikutnya adalah melakukan hubungan seks monogami hanya dengan pasangannya. Kedua pasangan hanya berhubungan seks satu sama lain dan tidak ada pasangan yang terinfeksi.

Tips pencegahan lainnya adalah menggunakan kondom saat berhubungan seks. Kondom dapat mengurangi risiko tertular sifilis, tetapi hanya jika kondom menutupi luka sifilis. Saran lainnya adalah hindari narkoba. Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan lain dapat mengarah pada praktik seksual yang tidak aman.

 

Tinggalkan Komentar