Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Sisi Mengenaskan dari Tragedi Kanjuruhan

Senin, 03 Okt 2022 - 12:33 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Suporter Aremania menggelar doa bersama di luar stadion di Malang, Indonesia, pada hari Minggu (2/10/2022). (Foto: Reuters)
Suporter Aremania menggelar doa bersama di luar stadion di Malang, Indonesia, pada hari Minggu (2/10/2022). (Foto: Gettyimages)

Pil pahit harus ditelan masyarakat Indonesia dari arena olahraga, yang seharusnya menjadi panggung penggembira bagi nilai-nilai sportivitas. Berdasarkan data dari kepolisian 125 penonton sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, tewas usai laga pekan ke-11 BRI Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam.

Insiden terburuk dalam sejarah sepak bola Indonesia ini menjadi puncak dari setumpuk masalah yang terjadi di tubuh sepak bola nasional. Terutama edukasi nilai sportivitas sebagai esensi olahraga, untuk menghargai kemenangan dan menerima kekalahan sebagai bagian dari pertandingan. Selain itu, tentang manajemen keselamatan dan prosedur pengamanan tepat untuk menangani kerusuhan di stadion.

Sebagian pendukung Arema yang tidak puas menyerbu lapangan setelah tim kesayangan mereka dikalahkan Persebaya, 2-3. Saat massa semakin sulit dikendalikan, polisi membubarkan mereka dengan melepaskan gas air mata, yang sesungguhnya dilarang digunakan di stadion menurut Pasal 19 poin (b) Regulasi Keselamatan dan Keamanan Stadion FIFA.

Gas air mata juga dilepaskan ke area penonton, menimbulkan kepanikan saat penonton berdesak-desakan mencari pintu keluar. Gas yang biasa digunakan polisi untuk membubarkan kerusuhan itu diketahui bekerja dengan menyebabkan iritasi pada mata, mulut, tenggorokan, paru-paru, dan kulit.

Selain sesak napas, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI),  Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, sebagian besar korban meninggal dunia akibat gas air mata bisa karena trauma kepala atau dada, diduga karena berdesakan atau terinjak-injak.

Baca juga
Ketum PAN Siap Berikan Karpet Biru untuk Ridwan Kamil

Usut tuntas

Tragedi Kanjuruhan memantik duka cita mendalam dan keprihatinan banyak pihak, termasuk dari Presiden Joko Widodo. Presiden meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk memantau pelayanan medis bagi korban yang sedang dirawat di rumah sakit.

Presiden Jokowi juga telah memerintahkan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali, Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, dan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan untuk mengevaluasi menyeluruh pelaksanaan laga sepak bola dan prosedur pengamanan.

”Khusus kepada Kapolri saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” ujarnya.

Merlin 214164360 0ed0b090 E230 4b6f Af49 F634dd47313d Threebytwomediumat2x - inilah.com
Foto: Gettyimages

Kepala Negara juga memerintahkan PSSI untuk menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan. ”Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini dan berharap ini adalah tragedi terakhir sepak bola di Tanah Air,” kata Presiden Jokowi.

Dukungan untuk mengusut tuntas kasus ini juga diserukan banyak pihak, antara lain Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ahmad Taufan Damanik, dan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid. Usman mengatakan, penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat keamanan sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Baca juga
Inilah Daftar 30 Pemain Timnas Indonesia di Piala AFF U-19

Adapun pengamat olahraga Fritz E Simandjuntak menilai tragedi ini adalah dampak dari manajemen sistem keselamatan di stadion yang rendah. Insiden ini harus menjadi momentum pemangku kebijakan terkait untuk merevolusi manajemen sistem keselamatan dalam laga sepak bola menjadi lebih aman dan modern.

”Terlepas dari faktor penyebab di lapangan, tragedi itu menunjukkan bahwa PSSI, operator liga PT LIB, maupun panitia lokal tidak bisa mengelola manajemen keselamatan dengan baik. Kehadiran aparat baru sebatas keamanan, bukan untuk keselamatan,” ujar Fritz.

Selain itu, indikasi rendahnya manajemen sistem keselamatan terlihat dari penolakan PT LIB atas permintaan kepolisian untuk memajukan waktu pelaksanaan laga dari pukul 20.000 menjadi pukul 15.00. Menurut data PT LIB, pendukung Arema yang menyaksikan laga itu mencapai 42.588 orang, atau 102 persen dari kapasitas Stadion Kanjuruhan.

Pelajaran penting

Tragedi Kanjuruhan terjadi 33 tahun setelah tragedi Hillsborough, saat 97 penonton tewas akibat berdesak-desakan di tribune berdiri jelang laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, Sheffield, Inggris, 15 April 1989. Dampak dari insiden itu antara lain pada dihilangkannya tribune berdiri di semua stadion di Liga Inggris, digantikan dengan kursi tunggal untuk penonton.

Baca juga
Wapres Ma`ruf Amin Luncurkan Beasiswa Baznas untuk 3.000 Santri
Suporter Aremania Memberikan penghormatan di luar stadion di Malang, Indonesia, pada hari Minggu (2/10/2022). (Foto: Reuters)
Suporter Aremania Memberikan penghormatan di luar stadion di Malang, Indonesia, pada hari Minggu (2/10/2022). (Foto: Reuters)

Oleh karena itu, tragedi Kanjuruhan juga harus bisa menjadi pelajaran bagi PSSI dan penyelenggara Liga untuk berbenah. Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menekankan, sepatutnya sepak bola Indonesia berbenah mengarah ke lebih modern. Mencontoh sepak bola Inggris, yang beruntun dihantam kerusuhan suporter pada tragedi Heysel (1985) dan tragedi Hillsborough (1989), mereka mampu bertransformasi menjadi kompetisi yang lebih baik dengan klub maupun suporter yang jauh lebih dewasa.

”Semoga tragedi Arema dan Persebaya menjadi bahan evaluasi menyeluruh, dengan harapan tidak mengorbankan kompetisi yang baru dimulai usai pandemi Covid-19. Penyelenggara, suporter, dan klub harus saling bekerja sama menciptakan iklim kompetisi yang lebih baik. Euforia yang muncul percuma kalau tidak diimbangi suporter yang lebih dewasa, dan kualitas wasit yang lebih baik,” tegas Marciano.

Tinggalkan Komentar