Smelter Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Dibangun di Kotabaru

Smelter Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Dibangun di Kotabaru - inilah.com
Foto istimewa

Keinginan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat baterai mobil listrik dunia, tampaknya segera terwujud. 

Perusahaan patungan antara CATL produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia dengan Putailai produsen katoda baterai lithium terbesar di dunia itu, pada tahap pertama bekerjasama dengan PT SILO membangun smelter RKEF (rotary kiln electric furnace). 

Dengan mengandeng PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) yang merupakan bagian dari Salim Group, perusahan papan atas tambang biji besi itu melakukan ground breaking proyek smelter RKEF PT. Excellen Silo Ferroalloy di Kotabaru, Kalimantan Selatan. 

“Kedua perusahaan ini memiliki keunggulan di bidangnya  masing-masing, kami bekerjasama untuk mencari pasokan sumber daya logam untuk bahan baku baterai mobil listrik,” kata Presiden Direktur PT Excellen Silo Ferroaloy Huang Shanfu.

Baca juga  Taliban Hanya Terbitkan 6000 Paspor per Hari, Warga Afghanistan Berebut

Nilai investasi yang ditanamkan dalam proyek tersebut mencapai USD 65 Juta. Ditargetkan berproduksi pada  Mei 2022 mendatang. 

Pada tahap pertama Smelter yang ramah lingkungan ini nantinya akan memproduksi sekitar 80 ribu ton ferronickel per tahun dan akan secara langsung menyerap 350 orang lebih karyawan dari penduduk lokal.

Selanjutnya proyek tahap kedua adalah smelter leaching yang memproduksi bahan baku baterai mobil listrik dengan nilai total investasi sebesar 220 juta USD, di mana direncanakan pembangunan dimulai pada awal tahun 2022, dan commissioning produksi pada Juli 2023. 

Sementara itu, Presiden Direktur PT SILO, Effendy Tios menambahkan bahwa industri membedayakan cadangan mineral dari Pulau Sebuku yang memiliki potensi sangat besar.

Baca juga  Kantor LBH Yogya Diserang Molotov, Dugaan Terkait Kasus

Diharapkan, pembangunan smelter ini akan segera menggerakkan industri terkait serta meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat. 

“Dalam kerja sama ini, SILO menjadi suplayer bahan baku, sehingga perusahaan tetap independen dikelola sesuai undang-undang dengan memperhatikan kepentingan negara Indonesia,” ujarnya. 

Disebutkan juga, efek ekonomi yang paling dirasakan masyarakat adalah ketersediaan listrik selama 24 jam serta tumbuhnya beberapa jaringan telekomunikasi. 

“Karena listriknya sudah tersedia, maka jaringan komunikasi juga bermunculan. Beberapa BTS dibangun,  komunikasi telepon seluler makin lancar,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar