Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

SMI Bilang Cicilan Utang Turun 56,9 Persen, Jumlahnya Tetap Gede

Sabtu, 02 Jul 2022 - 10:00 WIB
SMI Bilang Cicilan Utang Turun 56,9 Persen, Jumlahnya Tetap Gede
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Kabar baik, kewajiban bayar cicilan utang di semester I-2022, turun dibandingkan periode sama di 2021. Tapi utang tetap gede.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) menerangkan, realisasi pembiayaan (bayar) utang yang dianggarkan dalam APBN 2022 di semester I, menurun 56,9 persen menjadi Rp191,9 triliun, dibandingkan semester I-2021 yang mencapai Rp444,8 triliun.

“Penerimaan negara yang luar biasa kuat dan belanja yang tetap didukung untuk pemulihan dan penanganan ekonomi, serta menjaga rakyat, maka pembiayaan utang mengalami penurunan yang luar biasa tajam,” kata Sri Mulyani, dikutip Sabtu (2/7/2022).

Oleh karena itu, ia berpendapat penurunan pembiayaan utang tersebut adalah salah satu indikator kesehatan APBN yang luar biasa baik.

Penurunan pembiayaan utang terjadi karena drastisnya pengurangan penerbitan surat berharga negara (SBN) neto maupun pinjaman neto.

Baca juga
Kemenkeu Sebut Penerapan Cukai Minuman Berpemanis Siap Berlaku 2023

Sri Mulyani menyampaikan penerbitan SBN neto menurun 60,7 persen pada paruh pertama tahun ini, sehingga pemerintah hanya menerbitkan surat utang sebesar Rp182,4 triliun. “Bandingkan dengan semester I tahun lalu di mana kami harus menerbitkan SBN senilai Rp464 triliun,” tuturnya.

Ia melanjutkan pinjaman neto juga menurun sangat dalam hingga 149,4 persen menjadi hanya Rp9,5 triliun.

Dengan demikian dalam menghadapi guncangan dan dengan memanfaatkan windfall profit, pemerintah akan mengelola pembiayaan utang agar bisa semakin hati-hati.

Untuk keseluruhan tahun ini, pembiayaan utang diperkirakan mencapai Rp757,6 triliun atau lebih rendah sekitar 22 persen dari target Rp943,7 triliun.

Baca juga
Sri Mulyani Ingin Segera Ucapkan Selamat Tinggal Dolar AS

Di sisi lain, Bendahara Negara ini menyebutkan keseimbangan primer APBN saat ini mencatatkan kondisi yang positif sebesar Rp259,7 triliun.

Keseimbangan primer adalah selisih dari total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. “Ini adalah positif dari keseimbangan primer yang sangat besar dan pertama kali dalam empat tahun terakhir,” ungkapnya.

Tinggalkan Komentar