Soal Ceramah UAH Disinggung PWNU Jatim, Cak Nanto: Kami Harap Pahami Secara Utuh Ceramahnya

Soal Ceramah UAH Disinggung PWNU Jatim, Cak Nanto: Kami Harap Pahami Secara Utuh Ceramahnya - inilah.com
Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau Cak Nanto mengajak semua tokoh agama untuk tidak mudah membuat kesimpulan dari informasi yang tidak lengkap.

Hal itu disampaikan Cak Nanto menanggapi pernyataan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar untuk tidak mempercayai para ustaz di luar NU atas pernyataan Ustaz Adi Hidayat (UAH) bahwa tidak ada haditsnya bacaan iftitah takbirotul ihrom Allahu Akbar Kabira Walhamdulillahi Katsira dan seterusnya.

“Saya sudah lihat videonya, utuh. Ada penjelasan Ustaz Adi Hidayat (UAH) soal doa iftitah. Ada ko,” kata Cak Nanto kepada Inilah.com, Senin (6/9/2021).

Baca juga  Ridwan Kamil Buka Turnamen Tenis Meja UAH Super Series 2021

Cak Nanto berharap, siapapun agar tidak mudah memberi penilaian tanpa melihat masalahnya secara utuh.

“Saya kira ini cuma salah persepsi dan tak perlu dijadikan masalah besar hingga nanti menimbulkan keresahan. Kami berharap dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan perdebatan,” tegas pemuda kelahiran Sumenep itu.

Sebelumnya dalam petikan video yang diunggah di YouTube, KH Marzuqi Mustamar menyinggung potongan ceramah UAH soal doa iftitah.

“Kok bisa Ustaz Adi Hidayat da’i setingkat nasional jadi kebanggaan Muhammadiyah bisa bicara bacaan iftitah kabira tidak ada haditsnya. Itu makin membuktikan jangan percaya ustadz di luar NU,” kata KH Marzuqi dalam video dari akun channel youtube info at.

Baca juga  Prihatin Kondisi Tenis Meja Tanah Air, Turnamen Super Seri 2021 Digelar

Kiai Marzuki menyesali pernyataan Ustaz Adi Hidayat tentang bacaan iftitah takbirotul ihrom Allahu Akbar Kabira Walhamdulillahi Katsira dan seterusnya yang ia katakan tidak ada haditnya.

Dalam video official Ustaz Adi Hidayat yang utuh telah membahas bahwa ada 12 doa pembuka shalat yang diajarkan Nabi SAW kepada umat Islam.

“Dari 12 macam doa itu, ada yang bacaannya sangat pendek, menengah, dan panjang,” ujar UAH.

Di sini UAH mengatakan ada semacam persepsi keliru yang berkembang di tengah-tengah kaum Muslim Indonesia bahwa masing-masing bacaaan itu punya afiliasi Ormas atau golongan tertentu.

Tinggalkan Komentar