Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Soal Kebhinekaan, Gubernur Anies Ikuti Jejak Sang Kakek

Soal Kebhinekaan, Gubernur Anies Ikuti Jejak Sang Kakek

Budayawan Geisz Chalifah menilai, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan adalah sosok yang mau belajar serta menjunjung kebhinekaan berlandaskan keadilan.

Dikutip dari akun twiter pribadi @GeiszChalifah, Selasa (1/2/2022), Geisz menyebut Gubernur Anies memiliki kapasitas berbeda, kekuatan narasi kapasitas intelektual, kemampuan mengelola managerial untuk berkolaborasi dgn semua pihak.

Geisz menyebut Gubernur Anies sangat ringan untuk membantu semua tempat ibadah yang ada di Jakarta tanpa terkecuali. “Dia faham merajut kebhinekaan hanya bisa dengan hadirnya keadilan,” tulisnya.

Selain itu, Geisz menyisipkan video pendek Gubernur Anies menceritakan sosok kebhinekaan sang kakek, AR Baswedan yang begitu menginspirasi.

Ya, betul. H Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan, adalah tokoh Islam pendiri Partai Masyumi. Menjelang Indonesia Merdeka, AR Baswedan adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bersama sejumlah pendiri bangsa lainnya, AR Baswedan terlibat aktif dalam penyusunan UUD 1945.

Baca juga
Masalah Jantung, Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Masuk Rumah Sakit

“Kakek saya adalah salah satu yang terlibat dalam perancangan Republik ini. Dan persahabatannya, melampaui, melampaui. Etnik, suku, agama dan lainnya. Melampaui itu semua. Kebetulan salah satu sahabat beliau di Yogya adalah Romo Mangun (Mangunwijaya) dan Romo Dick Hartoko. Kalau ketemu sudahlah pasti ngobrol lama. Saya juga heran,” paparnya.

Suatu ketika, AR Baswedan menelpon sekretaris M Natsir, tokoh Masyumi sahabatnya. Rupanya, sang kakek mengundang mantan Natsir untuk berdiskusi di rumahnya. Dua tokoh nasional lainnya yang hadir adalah Frans Seda dan Kasimo. “Tiba-tiba ada becak datang. Penumpangnya tiga orang. Satu, namanya AR Baswdan. Dua, namanya Frans Seda. Tiga, namanya Kasimo,” papar Anies.

Baca juga
Peringati Maulid Nabi, PAN Tegaskan Komitmen Inklusi Menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam

Asal tahu saja, Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda adalah tokoh gereja dan mantan menteri era 60-an. Sedangkan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, atau Kasimo adalah salah satu pendiri Partai Kristen Indonesia.

“Dari pagi sampai sore, berempat non-stop berdiskusi. Agamanya beda, pikirannya beda. Ruangan itu pasti penuh perdebatan. Pasti. Akan tetapi, mereka bukan musuh. Mereka itu lawan debat, lawan bicara. Mereka adalah sahabat dalam memikirkan negeri ini,” imbuh Anies.

Meski berbeda, mereka bisa berkumpul. Kenapa? Kata Gubernur Anies, karena mereka bukan sedang bagi-bagi keuntungan bisnis. Mereka tidak sedang bagi-bagi kapling urusan Republik. “Mereka sedang memikirkan bagaimana indonesia maju,” tuturnya.

Baca juga
Foto: Uji Coba Halte CSW Integrasi Bus Transjakarta dengan MRT Jakarta

Kejadian ini, begitu menginspirasi Gubernur Anies. Alangkah indahnya kalau kebersamaan yang dicontohkan sang kakek, bisa terwujud kembali di Jakarta, bahkan Indonesia. “Persahabatan melampaui itu semua. Bapak ibu sekalian, kita ingin kembalikan suasana bersama itu semua ke Jakarta. Kembali ke Indonesia,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Komentar