Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

Sok-sokan Bangun 10 Bandara, Angkasa Pura I Kini Terjebak Utang Jumbo

Kamis, 09 Des 2021 - 06:34 WIB
Faikfahmi - inilah.com
Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi

Satu per satu BUMN terjebak masalah utang gede alias jumbo. Setelah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, kini muncul PT Angkasa Pura I (Persero) punya utang super jumbo.

Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi mengakui, utang besar yang melilit perusahaan bakalan semakin memperburuk keadaan. “Ada potensi akan meningkat lebih buruk lagi bila tidak dilakukan upaya penyehatan atau restrukturisasi,” ujar Faik, Jakarta, Rabu (8/12/2021).

Faik mengatakan, perseroan memiliki utang kepada kreditur dan investor sebesar Rp28 triliun, per November 2021. Selain itu, perseroan memiliki kewajiban kepada karyawan dan supplier senilai Rp4,7 triliun. “Sehingga total kewajiban kita sekitar Rp32,7 triliun. Namun kewajiban kita kepada kreditur dan investor itu sekitar Rp28 triliun per November 2021,” ujar Faik.

Baca juga
AirAsia Turun Kelas dari Bisnis Maskapai ke Taksi Online

Meski begitu, Faik menjamin, utang yang ditarik Angkasa Pura I, menghasilkan aset yang meningkat signifikan. Pada 2017, aset perseroan tercatat Rp24,7 triliun. Tahun depan, aset perusahaan diprediksi melonmpat hampir Rp23 triliun menjadi Rp47,3 triliun.

Faik mengatakan, besarnya utang perseroan disebabkan oleh pembangunan sepuluh bandara yang dilakukan sebelum masa pandemi Covid-19. Pembangunan bandara itu diperlukan untuk mengatasi persoalan kurangnya kapasitas bandara yang dioperasikan perusahaan.

“Jumlah penumpang dilayani di bandara AP I lebih tinggi dari kapasitas tersedia,” ujar dia. Per 2017, misalnya, kapasitas bandara yang dikelola perseroan hanya cukup menampung 71 juta penumpang per tahun. Padahal, realisasi penumpangnya bisa mencapai 90 juta orang per tahun.

Baca juga
Punya Utang Gede, Bisnisnya Rugi Terus, Garuda Bisa Tinggal Kenangan

Persoalan kurangnya kapasitas bandara itu, menurut dia, bisa beranak menjadi persoalan lain, misalnya pelayanan hingga keamanan penumpang. Untuk itu, diperlukan pembangunan bandara guna menambah kapasitas tersebut.

Untuk pembangunan tersebut, ia mengatakan perseroan tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun Penyertaan Modal Negara, melainkan menggunakan pendanaan internal dan eksternal melalui kredit sindikasi perbankan dan obligasi.

Faik mengatakan perkara utang menjadi masalah setelah kinerja keuangan perusahaan tak kunjung pulih akibat pandemi Covid-19. Akibatnya, utang tersebut berpotensi meningkat lebih buruk lagi apabila tidak dilakukan upaya penyehatan atau restrukturisasi.

Karena dampak signifikan akibat pandemi, Angkasa Pura berupaya melakukan penyehatan atau restrukturisasi. “Yang meliputi restrukturisasi finansial, operasional, penjaminan dan fund raising, serta kami melakukan transformasi bisnis dan optimalisasi aset,” ujar Faik.

Tinggalkan Komentar