Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

Solar Langka, Nelayan di Sulsel tak Bisa Melaut

Solar Langka, Nelayan di Sulsel tak Bisa Melaut

Sejumlah nelayan dari Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan mengeluhkan kelangkaan solar yang menghambat aktivitas mereka untuk mengarungi samudera mengais rezeki.

Salah satunya nelayan asal Galesong bernama Sulaeman, seorang pengepul rumput laut di Pulau Luang Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku mengatakan.

“Seharusnya kami berangkat sebelum Ramadan, tapi sampai sekarang solarnya belum cukup,” ujar Sul sapaan akrab Sulaeman di Takalar, Sulsel, Jumat (8/4/2022).

Selain langka, Sul mengatakan harga solar juga terbilang mahal.

Namun, ia mengakui bahwa untuk bisa memenuhi kebutuhannya melaut, harus menggunakan pihak ketiga lantaran tidak tahan antre berlama-lama, hingga harus bermalam di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).

Baca juga
Tok! GoTo Dapat Persetujuan Efektif untuk IPO dari OJK

Harga normal solar pada setiap SPBU sebesar Rp5.150 per liter, sementara jika menggunakan pihak ke tiga, harganya bervariasi. Mulai dari Rp6.500, Rp7.000 hingga Rp7.500 per liter. Harga tersebut termasuk jasa angkut dan antar solar ke tempat tujuan.

“Padahal sebelumnya masih Rp6.000/liter dengan harga yang sama. Ini karena susah dapat solar jadi pihak penjual ini juga naikkan harga,” tambah Sul.

Sul menyebut harga mahal kini tidak lagi jadi masalah, yang terpenting ialah kebutuhan melaut harus segera terpenuhi. Baginya, menunggu bahan bakar minyak (BBM) sama saja dengan kerugian, karena mesti tinggal di rumah tanpa pendapatan atau pemasukan sama sekali.

Baca juga
Musim Mudik, Menteri Arifin Khawatirkan Maling BBM Subsidi Berkeliaran di SPBU

Sementara kebutuhan solar atau bbm menjadi hal yang pasti harus ada, terlebih tempat tujuan melaut merupakan daerah terluar, yakni Pulau Luang, sehingga ia setidaknya harus menyiapkan solar sebanyak 3 ton.

Jumlah solar itu untuk kondisi iklim normal, sedangkan pada cuaca ekstrem, kebutuhan BBM bisa mencapai 5 ton.

Abdul Latif sebagai seorang juragan nelayan telur ikan (patorani) juga merasakan hal yang sama, bahwa kesulitan memperoleh BBM untuk para nahkoda kapalnya.

“Biasanya uang (modal) yang tidak ada, sekarang malah solar yang susah kita dapat. Padahal musim telur ikan cuma sekali setahun dari bulan April hingga Oktober,” ujarnya.

Baca juga
Pemerintah Resmi Hapus Premium, Diganti Pertalite

Ia berharap pemerintah serius menangani kelangkaan solar sebagai kebutuhan dasar para nelayan bisa kembali melaut, tanpa harus menunggu lama dan membayar mahal.

Tinggalkan Komentar