Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

Sri Lanka Bangkrut Korban Jebakan Utang Infrastruktur China

Senin, 27 Jun 2022 - 12:10 WIB
Sri Langka Bangkrut Korban Jebakan Utang Infrastruktur China
Gubernur Bank Sentral Sri Langka atau (Central Bank of Sri Lanka/CBSL), Nandalal Weerasinghe

Pemerintah Sri Lanka diguncang badai ekonomi hebat sepanjang sejarahnya yang merdeka pada 1948. Salah satu pemantiknya utang infrastruktur yang dicekoki China melalui Belt and Road Initiative (BRI).

Gubernur Bank Sentral Sri Langka atau Central Bank of Sri Lanka (CBSL), Nandalal Weerasinghe mengakui keuangan Sri Langka tengah payah. Menurut mantan direktur eksekutif alternatif Dana Moneter Internasional (IMF) itu, Sri Lanka sudah tidak mampu lagi membayar utang.

Mengutip Times of India, Senin (27/6/2022), simpanan dolar AS yang tersisa di brangkas pemerintah Sri Lanka. Mau-tak mau, pemerintah memprioritaskan urusan perut ketimbang bayar utang.

Baca juga
Bos Lapangan Banteng Klaim APBN 2021 Aman dari Defisit

“Kami harus fokus untuk mengimpor kebutuhan pokok. Bukan membayar utang luar negeri. Kita sudah sampai di titik membayar utang menjadi sangat menantang dan tidak mungkin,” kata Weerasinghe.

Per akhir 2021, utang luar negeri Sri Lanka mencapai US$50,72 miliar. Atau 60,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dan, China adalah kreditur terbesar Sri Lanka, melalui skema Belt and Road Initiative (BRI), termasuk pembangunan Pelabuhan Hambantota. Total utang Sri Lanka ke China mencapai US$8 miliar atau 1/6 dari total utang luar negerinya.

Dari berbagai proyek infrastruktur yang dibiayai dana utangan China, banyak yang tak memberikan efek domino terhadap perekonomian Sri Lanka. Bahkan, China meminta jatah ekspor produk ke Sri Lanka senilai US$3,5 miliar.

Baca juga
Di Balik Ekonomi Melejit 5,01 Persen, Analis Ini Bilang Keropos

Sejumlah media mainstream di Hong Kong menuliskan bagaimana kecerobohan Sri Langka berutang ke China untuk memoles infrastukturnya.

“Dari awal, kecerobohan meminjam dari China buat infrastruktur yang tak menguntungkan membuat negara itu di titik ini,” tulis Hong Kong Post.

Sejatinya, pemerintah Sri Lanka sudah mencoba lobi China pada awal 2022. Tujuannya ya restrukturisasi utang, namun China menolak. Bahkan menetapkan bunga yang mencekik leher.

Tinggalkan Komentar