Rabu, 10 Agustus 2022
12 Muharram 1444

Sri Lanka Berjuang Kumpulkan US$587 Juta untuk Bayar Pengiriman BBM

Senin, 04 Jul 2022 - 19:23 WIB
Sri Lanka Bbm
(AP Photo)

Sri Lanka sedang berjuang keras mengumpulkan US$587 juta untuk membayar sekitar separuh pengiriman BBM, demikian pernyataan seorang menteri utama negara itu hari Minggu (3/7/2022) ketika negara yang kekurangan uang itu berusaha mengatasi krisis keuangan terburuknya dalam beberapa puluh tahun.

Negara berpenduduk 22 juta jiwa ini tidak mampu membayar impor bahan makanan, pupuk, obat-obatan dan BBM yang penting karena krisis dolar yang parah.

Menteri Tenaga Kerja Kanchana Wijesekera menyebut pengiriman BBM baru sedang disiapkan, tetapi pihaknya sedang berjuang mengumpulkan cukup uang untuk membayar pengiriman itu karena bank sentral hanya dapat memasok sekitar US$125 juta.

Baca juga
IMF Prediksi Inflasi Tembus 8,7 Persen dan Bunga Pinjaman Luar Negeri Naik

Sri Lanka hanya memiliki sisa cadangan 12.774 ton solar dan 4.061 ton bensin, ujar Wijesekera kepada wartawan di Kolombo.

“Minggu ini kami membutuhkan US$316 juta untuk membayar pengiriman baru. Jika kami menambahkan dua pengiriman minyak mentah, maka jumlahnya akan meningkat menjadi US$587 juta,” tambahnya.

Pengiriman pertama 40.000 ton diesel dari Coral Energy diharapkan tiba pada 9 Juli dan pembayaran sebagian pengiriman sebesar US$49 juta udah harus dilakukan untuk pengiriman kedua dari Vitol pada Kamis ini (7/7/2022).

Hentikan Kegiatan

Sangat terbatasnya stok solar dan bensin membuat Sri Lanka pekan lalu menutup sekolah, meminta PNS untuk bekerja dari rumah, dan membatasi pasokan BBM pemerintah untuk layanan penting.

Baca juga
Kamrussamad Ingatkan Sri Mulyani, Jangan Remehkan Resesi Ekonomi

Wijesekera mengatakan negara harus berusaha mengumpulkan dana dari pasar terbuka dan mencari opsi pembayaran yang lebih fleksibel dari pemasok.

Ditambahkannya, rencana untuk menyelesaikan utang sebesar US$800 juta kepada tujuh pemasok –untuk pembelian BBM tahun ini– sedang dibahas.

Pejabat-pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan akan terus melangsungkan pembicaraan dengan Sri Lanka untuk kemungkinan penyediaan dana talangan sebesar tiga miliar dolar. Pekan lalu mereka telah menyelesaikan kunjungan selama 10 hari ke Kolombo.

Namun, pencairan dana talangan segera dari IMF tidak memungkinkan karena negara itu harus terlebih dahulu memulihkan beban utangnya pada jadwal yang mampu dikelola oleh negara itu.

Tinggalkan Komentar