Selasa, 16 Agustus 2022
18 Muharram 1444

Sri Lanka, Jebakan Utang China, dan Kewaspadaan Indonesia

Selasa, 28 Jun 2022 - 01:52 WIB
Sri Lanka Utang China
(foto: Times of India)

Sri Lanka mengalami terpaan badai ekonomi dahsyat. Kebangkrutan salah satunya disumbang dari jebakan utang pembangunan insfrastruktur dari China. Seperti Sri Lanka, Indonesia juga banyak menggantungkan banyak pinjaman kepada negara yang sama. Berhati-hatilah karena kondisi di Sri Lanka bisa menular.

Negara berpenduduk 22 juta orang itu berada dalam cengkeraman krisis ekonomi terburuknya sepanjang sejarah negara itu merdeka pada 1948. Sri Lanka kehabisan devisa untuk membiayai impor kebutuhan dasar seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Sri Lanka gagal membayar utang luar negerinya senilai US$51 miliar pada pertengahan April dan sejak itu membuka pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk dana talangan. PBB telah mengeluarkan seruan sebesar US$47 juta untuk membeli makanan pokok bagi 1,7 juta warga Sri Lanka dalam empat bulan ke depan.

Gubernur Bank Sentral Sri Lanka atau Central Bank of Sri Lanka (CBSL), Nandalal Weerasinghe mengakui keuangan negara di ujung selatan India itu sudah tidak mampu lagi membayar utang. “Kami harus fokus mengimpor kebutuhan pokok. Bukan membayar utang luar negeri. Kita sudah sampai di titik membayar utang menjadi sangat menantang dan tidak mungkin,” kata Weerasinghe yang juga mantan direktur eksekutif alternatif IMF mengutip Times of India.

Per akhir 2021, utang luar negeri Sri Lanka mencapai US$50,72 miliar atau 60,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). China adalah kreditur terbesar Sri Lanka, melalui skema Belt and Road Initiative (BRI) dan berinvestasi dalam infrastruktur di seluruh pulau yang berlokasi strategis, yang diposisikan di sepanjang jalur pelayaran internasional timur-barat utama. Termasuk pembangunan Pelabuhan Hambantota.

Total utang Sri Lanka ke China mencapai US$8 miliar atau 1/6 dari total utang luar negerinya. Dari berbagai proyek infrastruktur yang dibiayai dana utangan China, banyak yang tak memberikan efek domino terhadap perekonomian Sri Lanka. Bahkan, China meminta jatah ekspor produk ke Sri Lanka senilai US$3,5 miliar.

Baca juga
Premium dan Pertalite Dihapus, Ketua Komisi VII Dorong Harga Pertamax Turun jadi Rp7.000

Pinjaman Sri Lanka kepada China ini dinilai sebuah kecerobohan besar. Gawatnya lagi, pemerintah Sri Lanka sudah mencoba lobi China pada awal 2022 untuk melakukan restrukturisasi utang, namun China menolak. Bahkan menetapkan bunga yang mencekik leher.

Sebuah kelompok diplomatik yang disebut Quad beranggotakan Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat telah menyatakan keprihatinan atas pengaruh China yang berkembang di wilayah tersebut. Memang pengaruh investasi China ini bukan faktor terpenting tapi menjadi salah satu faktor pendorong kebangkrutan.

Pengaruh kepada Indonesia

Peristiwa ekonomi di negara lain bukan tidak mungkin suatu saat nanti terjadi di Indonesia. Seperti apa yang dialami Sri Lanka bisa menimpa Indonesia, karena itu harus menjadi pelajaran.

“Jika tidak ada langkah antisipasi. Pengalaman bangsa lain harus menjadi perhatian bersama bagi Indonesia yang sangat dinamis perkembangannya. Yang sebenarnya cukup fragile, tapi juga lumayan strong,” papar Wijayanto Samirin, ekonom senior Universitas Paramadina, Jakarta.

Peringatan ini tentu harus menjadi perhatian. Mengingat Indonesia juga tengah jor-joran menerima banyak investasi asal China. Beberapa proyek besar dan strategis di Tanah Air tak lepas dari kucuran dana dari China.

Investasi China di Indonesia, menurut laporan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Vol XVI pada Mei 2022 dari Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mengalami kenaikan. Hingga Maret 2022, China menempati posisi keempat sebagai negara pemberi utang terbesar bagi Indonesia.

Jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan I-2022 tercatat sebesar US$411,5 miliar atau setara dengan Rp6.033 triliun (kurs Rp14.661 per dolar AS). Dari jumlah tersebut, utang Indonesia ke China tercatat sebesar US$22 miliar atau setara dengan Rp322 triliun dengan asumsi nilai tukar yang sama.

Baca juga
Soal Pelita Air yang akan Mengganti Garuda, Kementerian BUMN: Yang Penting Punya Flag Carrier

Sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), China selalu menjadi salah satu negara pemberi utang terbesar ke Indonesia. Utang Indonesia ke China sebelum era Presiden Jokowi sebenarnya juga meningkat dari tahun ke tahun namun tidak signifikan.

Utang luar negeri Indonesia dari China pada tahun 2011 tercatat sebesar US$3,7 miliar atau sekitar Rp33,3 triliun sesuai dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berlaku pada saat itu (kurs Rp9.000 per dolar AS). Pada 2012, angkanya naik menjadi US$5 miliar, lalu pada 2013 meningkat lagi menjadi US$6,1 miliar dan pada 2014 mencapai US$7,8 miliar.

Pada era Presiden Jokowi, tepatnya pada tahun 2015, utang Indonesia ke China melonjak hampir dua kali lipat, dari US$7,8 miliar pada 2014 menjadi US$13,6 miliar pada 2015. Utang Indonesia dari China pun terus melonjak hingga saat ini. Pada Maret 2022, Indonesia tercatat memiliki utang sebesar US$22 miliar atau senilai Rp322 triliun ke China.

Jika dibandingkan utang Indonesia ke China pada 2011 sebesar Rp33,3 triliun, dengan catatan adanya perbedaan nilai tukar, lonjakan utang yang terjadi hingga saat ini hampir mencapai 10 kali lipat.

China saat ini menduduki peringkat keempat dari negara pemberi pinjaman kepada Indonesia. Urutan pertama diduduki Singapura kemudian berturut-turut, Amerika Serikat, dan Jepang.

Mewaspadai Jebakan Utang China

Tak hanya Sri Lanka, beberapa negara di dunia harus terjebak utang akibat gencarnya pembangunan infrastruktur yang didanai China. Seperti Kenya dan Maladewa.

BBC News sempat merilis miliaran dolar AS uang asal China juga telah mendongkrak perekonomian beberapa negara Eropa. Namun ada beberapa kesepakatan yang ternyata mengundang masalah. Para kritikus menyebut hal itu sebagai ‘jebakan utang’, di mana China dapat memilih apa yang terjadi jika pinjaman tidak dilunasi.

Baca juga
Jenazah Eril Tiba di Gedung Pakuan Bandung, Ridwan Kamil Pimpin Salat Jenazah

Di seluruh Eropa, ketika banyak pemerintah khawatir atas invasi Rusia ke Ukraina pasca-pandemi, Beijing terus memperluas portofolionya. Menjalankan sejumlah pelabuhan dan tambang di Eropa, dengan membangun jalan dan jembatan, berinvestasi di tempat yang tidak dimiliki pihak-pihak lain.

Tetapi negara-negara Eropa itu mempertimbangkan dengan cermat imbalan dan risiko dari penandatanganan kesepakatan dengan China. Mereka semakin waspada terhadap apa yang disebut jebakan utang, yaitu ketika pemberi pinjaman, seperti pemerintah China dapat mengambil konsesi ekonomi atau politik jika negara yang menerima investasi tidak dapat membayarnya kembali.

Ada juga klaim-klaim para pekerja setempat yang dieksploitasi oleh perusahaan China –dalam hal gaji, kondisi dan tingkat kepegawaian.

Apa yang terjadi di Sri Lanka dan di Eropa serta beberapa negara tentunya patut menjadi pelajaran dan kewaspadaan bagi Indonesia. Memang benar, negara membutuhkan dana asing besar untuk pertumbuhan dan pemulihan perekonomian setelah pandemi, tetapi tentu tak boleh buru-buru jika tidak ingin mengalami hal seperti seperti Sri Lanka.

Apa artinya keputusan tergesa-gesa demi ambisi ekonomi tapi akan menjadi penderitaan rakyat di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar