Jumat, 20 Mei 2022
19 Syawal 1443

Sri Lanka Perpanjang Jam Malam Usai 50 Rumah Pejabat Dibakar

Sri Lanka Pejabat
(foto: Nikkei Asia)

Pihak berwenang Sri Lanka memperpanjang jam malam hingga Kamis (12/5/2022) setelah semakin banyak rumah pejabat yang dibakar massa, termasuk hotel mewah milik putra mantan presiden.

Dengan perpanjangan jam malam maka toko-toko, tempat usaha dan perkantoran ditutup selama tiga hari berturut-turut.

Mengutip BBC, larangan pergi keluar rumah diperpanjang sesudah pembakaran rumah-rumah pejabat oleh massa penentang pemerintah belum dapat diatasi meskipun aparat keamanan telah diperintahkan menembak para perusuh di tempat pada Selasa (10/5/2022).

Para demonstran menyerukan mundurnya Presiden Gotabaya Rajapaksa karena terjadinya krisis ekonomi terparah negara itu. Kakaknya, Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, mundur pada Senin (9/5/2022) di tengah bentrokan tentara dan para pengunjuk rasa.

Namun, mundurnya Mahinda Rajapaksa gagal meredam protes. Oleh karena itu, pemerintah menginstruksikan tentara untuk melepaskan tembakan bagi siapapun yang menjarah atau ‘membahayakan nyawa orang’.

Baca juga
Polisi Sita 24 Ton Minyak Goreng yang Ditimbun di Gudang Petir

Pemerintah mengerahkan puluhan ribu tentara, personel angkatan laut dan udara untuk berpatroli di jalan-jalan ibu kota Kolombo.

Lebih dari 50 rumah milik para pejabat telah dibakar, termasuk rumah keluarga Rajapaksa, beberapa menteri, dan anggota parlemen. Dalam kerusuhan pada Selasa malam, massa juga membakar hotel mewah milik putra mantan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa.

Sebelumnya para perusuh membakar kediaman yang dijadikan museum oleh keluarga Rajapaksa di Desa Hambantota, bagian selatan Sri Lanka.

Hingga kini delapan orang meninggal dunia dan lebih dari 200 orang diyakini terluka dalam bentrokan.

Tayangan yang dibagikan di media sosial memperlihatkan sejumlah rumah dilalap api dan disambut gegap gempita dari massa.

Perdana Menteri Mengundurkan Diri

Perdana Menteri Sri Lanka Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri di tengah gelombang demonstrasi massal yang memprotes cara pemerintah menangani krisis ekonomi.

Baca juga
Logistik Dirasa Cukup, Korban Semeru Harapkan Bantuan Uang

Pria berusia 76 tahun itu mengirimkan surat pengunduran diri kepada adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Dalam surat tersebut, dia menulis mengenai harapan dirinya untuk mengatasi krisis ekonomi namun kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya tampaknya tidak memuaskan kubu oposisi kecuali kalau dia mundur.

Pengunduran diri, menurut Rajapaksa, diniatkan untuk mendorong terbentuknya ‘pemerintahan yang terdiri dari semua partai demi menuntun negara ini keluar dari krisis ekonomi’.

Sejak gelombang demonstrasi muncul pada awal April, para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor perdana menteri guna menuntut PM Rajapaksa lengser.

Demonstrasi ini memicu bentrokan berdarah antara kubu antipemerintah dan pendukung Rajapaksa di Ibu Kota Kolombo.

Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk sejak meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1948. Pemerintah bahkan meminta warganya yang berada di luar negeri untuk mengirimkan uang ke dalam negeri demi memenuhi kebutuhan bahan pangan dan bahan bakar, setelah negara itu gagal membayar utang luar negeri senilai US$51 miliar (Rp732 triliun).

Baca juga
Fenomena Bunuh Diri, Mengapa Terus Terjadi?

Cadangan devisa Sri Lanka telah habis dan tidak lagi bisa menopang kebutuhan rakyat, seperti makanan pokok, obat-obatan, dan bahan bakar.

Para dokter di Sri Lanka mengatakan sudah banyak rumah sakit kehabisan obat-obatan dan persediaan penting karena krisis ekonomi negara itu memburuk.

Kondisi ini membuat marah sebagian masyarakat mengingat kebutuhan hidup sehari-hari tak lagi terjangkau.

Pemerintah menyalahkan pandemi COVID-19 yang mematikan sektor pariwisata. Namun, sejumlah pakar menilai bahwa ini merupakan kesalahan pemerintah dalam mengelola perekonomian.

Tinggalkan Komentar