Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Studi A10: Zero Trust, Cloud dan Kerja Jarak Jauh Mendorong Ketahanan Digital

Minggu, 12 Jun 2022 - 08:40 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Studi A10
Istockphoto

Perusahaan jaringan perangkat lunak asal AS, A10 Networks baru saja merilis penelitian di seluruh dunia yang mengungkap tantangan-tantangan dan prioritas-prioritas organisasi enterprise di era pasca pandemi saat ini sebagai mana yang kita pelajari untuk hidup dengan pandemi COVID-19 dan bagaimana hal ini membentuk persyaratan teknologi masa depan.

Dari 225 organisasi perusahaan yang disurvei di Asia Pasifik, sebanyak 95% menunjukkan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap semua aspek ketahanan digital perusahaan.

Tingkat kekhawatiran secara keseluruhan adalah yang tertinggi di seputar pengoptimalan alat keamanan untuk memastikan keunggulan kompetitif dan memberikan pengalaman pengguna yang unggul dengan pelanggan yang mengakses ekosistem mereka dengan mudah dan aman.

Lebih lanjut, organisasi juga sangat memperhatikan kemampuan internal mereka untuk melayani IPv4 dan bermigrasi ke IPv6 serta menunjukkan kesadaran akan pentingnya menyeimbangkan keamanan dan efisiensi.

Private cloud merupakan lingkungan yang disukai

Peningkatan trafik jaringan telah menambah tantangan yang dihadapi oleh responden, dengan 81% organisasi bisnis Asia Pasifik melaporkan peningkatan volume trafik jaringan selama 12 bulan terakhir.

Peningkatan ini rata-rata 39% dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 47%.

Ketika ditanya mengenai perkiraan kerusakan lingkungan jaringan masa depan mereka, 75% organisasi bisnis Asia Pasifik mengatakan itu akan berbasis cloud, dengan 33% menunjukkan private cloud sebagai lingkungan pilihan mereka.

Namun, mereka tidak diyakinkan oleh penyedia layanan cloud mereka, dengan 48% menyatakan bahwa mereka tidak dapat memenuhi kesepakatan tingkat layanan atau service level agreement (SLA) mereka.

Baca juga
Studi: Infeksi Varian Omicron Bisa Picu Kekebalan Terhadap Delta

Studi Enterprise Perspectives 2022 dilakukan oleh organisasi riset independen Opinion Matters pada 2.425 profesional aplikasi dan jaringan senior dari sepuluh wilayah: Inggris, Jerman, Eropa Selatan (Italia dan Prancis), Benelux, Eropa Timur, Nordik, AS, India, Timur Tengah dan Asia Pasifik.

Penelitian ini diselenggarakan untuk memahami tantangan, kekhawatiran, dan perspektif organisasi perusahaan besar sebagaimana mereka terus menyesuaikan strategi dan infrastruktur TI mereka dengan desakan keras transformasi digital dan lingkungan kerja hybrid.

Ancaman Siber makin Meningkat

Tidak diragukan lagi, lanskap ancaman yang makin intensif menyebabkan banyak kekhawatiran: dibandingkan dengan wilayah lain, responden Asia Pasifik lebih khawatir tentang hilangnya data dan aset sensitif jika terjadi pelanggaran data karena serangan siber. Kekhawatiran lain termasuk ransomware, potensi downtime atau lockdown jika terjadi serangan DDoS, dan dampaknya terhadap brand dan reputasi.

 

Dalam menanggapi kekhawatiran tersebut, penelitian tersebut menujukkan pergeseran yang jelas menuju pendekatan Zero Trust, dengan 39% organisasi bisnis Asia Pasifik mengatakan bahwa mereka telah mengadopsi model Zero Trust dalam 12 bulan terakhir.

Kenormalan baru dapat menyerupai kenormalan lama

Walaupun telah terjadi pergeseran infrastruktur untuk mendukung kerja dari rumah dan jarak jauh yang tersebar, 63% organisasi bisnis Asia Pasifik mengatakan bahwa semua atau sebagian besar karyawan akan bekerja di kantor secara jangka panjang, dibandingkan dengan rata-rata 62% yang disurvei di seluruh kawasan. Hanya 14% mengatakan bahwa hanya sedikit atau tak ada karyawan akan bekerja dari kantor, dan sebagian besar akan jarak jauh. Hal ini bertentangan dengan perkiraan pergeseran seismik ke hybrid enterprise permanen dengan profesional aplikasi dan jaringan yang mengharapkan kenormalan lama untuk menegaskan kembali dirinya sendiri.

Baca juga
Sekitar 90 Persen UMKM di Bandung Terdampak Pandemi

“Dunia telah berubah tanpa dapat ditarik kembali,” komentar Anthony Webb, Vice President A10 International di A10 Networks. “Laju transformasi digital telah meningkat jauh melampaui harapan. Namun, saat kita keluar dari mode krisis, organisasi kini fokus pada ketahanan digital, beralih ke cloud, dan memperkuat pertahanan mereka. Ada kebutuhan yang jelas untuk membantu karyawan bekerja dengan cara yang mereka rasa paling nyaman. Dan kami melihat pergeseran bertahap ke model Zero Trust. Kembalinya ke lingkungan kantor mungkin disebabkan oleh kecemasan yang kuat yang dimiliki oleh para profesional TI tentang keamanan, cloud dan aspek ketahanan digital dan keberlanjutan, serta kemampuan sistem TI mereka untuk mengatasinya.”

Prioritas investasi teknologi

Dalam hal prioritas investasi, kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin tidak diragukan lagi telah matang, dengan 52% organisasi perusahaan Asia Pasifik mengatakan mereka telah menerapkan teknologi ini dalam 12 bulan terakhir. Selanjutnya, 45% mengatakan mereka telah menerapkan teknologi blockchain, serta 42% mengatakan mereka telah menggunakan perangkat IoT untuk membantu fungsi-fungsi bisnis.

Baca juga
Perjalanan Luar Angkasa Berdampak pada Pengeroposan Tulang

Menariknya, ketika ditanyakan teknologi mana yang paling penting untuk ketahanan bisnis dalam tahun mendatang, teknologi metaverse meraih nilai paling tinggi, diikuti oleh teknologi kecerdasan buatan, pembelajaran mesin dan blockchain.

Melihat ke masa depan, adopsi inisiatif keamanan siber kemungkinan akan menjadi lebih tinggi, dan ini termasuk model Zero Trust. Dengan harapan implementasi yang lebih luas, karena organisasi perusahaan Asia Pasifik menjadi terdidik akan manfaatnya. Jelas dari studi ini bahwa tidak mungkin ada kelegaan dari tekanan pada bisnis Asia Pasifik di tahun-tahun mendatang.

“Dengan meningkatnya ancaman, dampak pascapandemi, konflik Rusia-Ukraina saat ini, belum lagi kenaikan harga energi dan inflasi,” tutup Webb. “Organisasi bisnis benar-benar perlu mempertimbangkan banyak masalah. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan harus terus berinvestasi pada teknologi modern, seperti Zero Trust, yang memungkinkan automasi dan perlindungan, serta keseimbangan pertahanan dan kelincahan untuk infrastruktur multi-faktor yang makin meningkat.”

Tinggalkan Komentar