Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

Suhu Panas Ekstrem di Atas 50 Derajat Celsius Meningkat Dua Kali Lipat

Kamis, 16 Sep 2021 - 17:20 WIB
Suhu Panas Ekstrem di Atas 50 Derajat Celsius Meningkat Dua Kali Lipat - inilah.com

Jumlah hari-hari dengan suhu panas ekstrem per tahun, di mana suhu menyentuh 50 derajat Celsius, telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1980-an, menurut penelitian BBC.

Suhu panas ekstrem seperti ini juga terjadi di lebih banyak area di dunia, dibandingkan sebelumnya. Keadaan ini membawa tantangan-tantangan baru pada kesehatan manusia dan cara kita menjalani hidup.

Jumlah total hari-hari dengan temperatur di atas 50 derajat Celsius meningkat setiap tahun di empat dekade terakhir.

Antara tahun 1980-2009, suhu di atas 50 derajat Celsius rata-rata sebanyak 14 hari setiap tahun. Angka ini naik menjadi 26 hari per tahun pada 2010-2019.

Pada periode yang sama, suhu mencapai 45 derajat Celsius ke atas terjadi rata-rata sekitar dua pekan per tahun.

Baca juga
Dosis Keempat Vaksin COVID-19 Lindungi Lansia Tiga Kali Lipat

“Kenaikan suhu ini 100 persen disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil,” kata Dr Friederike Otto, pakar iklim Jerman yang merupakan Direktur Asosiasi Institut Perubahan Lingkungan di Universitas Oxford, Inggris.

Seiring dengan memanasnya Bumi, suhu ekstrem semakin mungkin terjadi, dan dengan semakin intens.

Panas yang tinggi bisa mematikan bagi umat manusia dan alam, juga menyebabkan permasalahan besar untuk gedung-gedung, jalanan, dan sistem penyedia daya.

Suhu yang mencapai 50 derajat Celsius umumnya terjadi di Timur Tengah dan kawasan Teluk.

Setelah temperatur yang memecah rekor, setinggi 48,8 derajat Celsius di Italia dan 49,6 derajat Celsius di Kanada musim panas ini, para ilmuwan memperingatkan bahwa hari-hari dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius akan terjadi di tempat-tempat lain, kecuali bila kita mengurangi emisi akibat bahan bakar fosil.

Baca juga
Penelitian di AS: Orang Tidak Divaksin 11 Kali Berpotensi Meninggal Karena COVID-19

“Kita harus bertindak cepat. Lebih cepat kita mengurangi emisi, kita semua akan lebih baik,” ujar Dr Sihan Li, peneliti iklim di Universitas Oxford, Inggris.

“Dengan terus adanya emisi dan kurangnya aksi, bukan hanya keadaan panas ekstrem ini akan semakin gawat dan sering, namun respons darurat dan pemulihan akan semakin sulit dilakukan,” Dr Li memperingatkan.

Analisis BBC juga menemukan bahwa selama beberapa puluh tahun terakhir, suhu maksimum naik 0,5 derajat Celsius dibandingkan dengan rerata jangka panjang dari 1980 sampai 2009.

Namun kenaikan temperatur ini belum dirasakan secara merata di seluruh dunia: Eropa Timur, bagian selatan Afrika, dan Brasil merasakan suhu maksimum naik hingga lebih dari 1 derajat Celsius, sementara beberapa wilayah Arktik dan Timur Tengah merekam kenaikan suhu lebih dari 2 derajat Celsius.

Baca juga
Sejumlah Perusahaan Top Dunia Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim

Para ilmuwan menyerukan agar para pemimpin dunia di pertemuan iklim PBB pada November mendatang mengambil tindakan mendesak. Dalam pertemuan itu, para pemerintah negara di seluruh dunia akan diminta untuk berkomitmen mengurangi emisi untuk membatasi kenaikan suhu global.

Tinggalkan Komentar