Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Suku Bunga Naik, Moduit: Reksa Dana Semakin Menarik

Sabtu, 25 Jun 2022 - 14:27 WIB
Suku Bunga Naik, Moduit: Reksa Dana Investasi Menarik
Pasar reksa dana.

Perang Rusia-Ukraina ternyata berdampak kepada sektor keuangan. Kira-kira, investasi apa yang masih menjanjikan cuan.

Akibat perang Rusia-Ukraina yang melahirkan inflasi tinggi, sejumlah negara kompak mengerek naik suku bunga acuan. Awal Mei 2022, Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) sebesar 50 basis poin (bps). Demi menekuk agresifnya laju inflasi AS yang mencapai 8,6 persen.

Presiden European Central Bank (ECB), Christine Lagarde menyampaikan rencana mengerek suku bunga acuan 25 bps pada Juli 2022.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI 7 Days Repo Rate) pada level 3,5 persen, lantaran posisi mata uang rupiah dan infasi masih stabil.

Baca juga
Paus Fransiskus Pimpin Doa untuk Perdamaian Ukraina

Namun, sejumlah ekonom memperkirakan, BI bakal segera menaikan suku bunga acuan. Kalau tidak dilakukan, berpotensi memengaruhi nilai tukar dan aliran dana asing (capital outflow).

Sentimen kenaikan suku bunga biasanya sangat berkolerasi dengan kinerja instrumen investasi portofolio, termasuk reksa dana.

Head of Advisory & Investment Connoisseur Moduit, Manuel Adhy Purwanto mengatakan, aset investasi obligasi lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Namun, secara real yield atau selisih imbal hasil terhadap inflasi, obligasi Indonesia masih menarik ketimbang obligasi negara maju atau berkembang lainnya.

Investasi saham bagaimana? Menurut Manuel, instrumen saham bergantung kinerja perusahaan dalam membukukan pertumbuhan pendapatan atau laba.

Baca juga
Tangan Dingin Gubernur Khofifah, Investasi Jatim Lampaui Capaian Nasional

“Dalam kondisi suku bunga naik, investor akan cenderung lebih selektif mencari perusahaan berkualitas dengan cashflow yang baik,” beber Manuel, dikutip Sabtu (25/6/2022).

Dia bilang, reksadana yang memiliki strategi investasi ke saham unggulan (blue chip), bisa menjadi pilihan investasi untuk saat ini. “Koreksi di pasar saham dapat menjadi kesempatan yang tepat bagi investor reksa dana yang berorientasi untuk tujuan jangka panjang,” ungkapnya.

Sementara, khusus investor yang memiliki tujuan investasi jangka pendek dengan profil konservatif, Moduit menyarankan untuk memberikan porsi alokasi investasi lebih besar pada reksa dana pasar uang, karena lebih stabil dan minim fluktuasi.

Baca juga
Harga Minyak Jauh di atas Asumsi APBN, Beban Subsidi BBM-Elpiji Makin Ngos-ngosan

“Apalagi tren kenaikan suku bunga berpotensi mendatangkan return lebih tinggi pada reksa dana jenis ini,” imbuhnya.

 

Tinggalkan Komentar