Selasa, 06 Desember 2022
12 Jumadil Awwal 1444

Tafsir Bencana Seperti Gempa Bumi di Cianjur

Rabu, 23 Nov 2022 - 04:34 WIB
musibah
Penampakan rumah warga yang rusak akibat gempa di Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022). (Foto: Inilah.com/Agus Priatna)

Bencana kembali terjadi di Tanah Air. Kali ini gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022) yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia. Bagaimana kita sebaiknya menafsirkan sebuah bencana?

Masya Allah. Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim. Tiada yang mampu menahan kekuatan dahsyatnya bencana alam. Mahabesar Kuasa Allah dan tiada yang lebih dahsyat selain perbuatan-Nya.

Musibah dan bencana alam termasuk gempa bumi adalah salah satu bentuk peringatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, hujan besar yang menyebabkan banjir, gempa bumi, termasuk peperangan di antara umat manusia. Semuanya bisa menjadi potensi untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan berharap kepada Allah.

Bencana demi bencana yang terjadi di negeri ini seharusnya menjadi ‘alarm’ bagi kita agar lebih banyak mengingat akhirat dan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal kepulangan kita ke sana. Betapa fananya kehidupan dunia ini dan hanya sementara. Allah Mahaluas dan begitu besar kasih sayang-Nya, tetapi sedikit manusia yang bersyukur hingga Allah kemudian menghadirkan bencana untuk ‘memanggil’ manusia agar kembali mengingat-Nya.

Bahwa hakikatnya kita adalah ‘hamba’ dengan tugas utama menyembah kepada-Nya. Allah sudah mengingatkan kita tentang hal ini dalam Kalam Suci-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyât, 51:56).

Baca juga
Foto: Suasana Tenda Darurat Pasien RSUD Cimacan Korban Terdampak Gempa Cianjur

Namun, banyak di antara manusia yang lalai dengan tujuan utama kehadirannya di dunia ini. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan berbagai kenikmatan fasilitas duniawi. Allah SWT sudah mengaruniakan negara yang subur makmur seperti Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah baik di darat maupun di lautan. Seharusnya semua karunia itu menjadi jalan bagi kita untuk bersyukur dan menambah tebal keimanan kita kepada Allah. Akan tetapi, realitasnya malah sebaliknya.

Mengingatkan perbuatan manusia

Sebagian orang tidak menerima pernyataan gempa sebagai peringatan dari Allah. Mereka beranggapan bahwa gempa sama sekali tidak memiliki kaitan dengan perbuatan dan maksiat manusia. Kejadian gempa itu murni fenomena alam, bukan hukuman Tuhan. Beristigfarlah.

Jawaban pernyataan ini, sesungguhnya Allah menjelaskan bahwa gempa bumi, statusnya sama dengan fenomena alam yang lain. Allah ciptakan fenomena semacam ini untuk menakut-nakuti hamba-Nya, agar mereka meninggalkan dosa dan larangannya serta kembali kepada Penciptanya.

Di negeri kita, setiap bencana memiliki kecenderungan besar untuk dibaca sebagai azab, siksa atau hukuman Allah bagi masyarakat pendosa. Di tahun politik seperti kini, setiap bencana dihubungkan dengan pilpres dan kondisi sosial politik lainnya. Bacalah media sosial, begitu ramainya model pembacaan bencana seperti itu.

Baca juga
Gempa Banten yang Terasa hingga Jakarta Dipicu Sesar Aktif Dasar Laut

Menarik mengungkapkan pendapat almarhum Prof Dr KH Ahmad Imam Mawardi, dalam sebuah tulisannya bahwa ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan bencana. Memang ada yang langsung menyebutnya sebagai azab sebagaimana azab yang ditimpakan pada umat pembangkang pada masa lalu. “Mereka menyebut bahwa ada ‘alaqah (hubungan) antara bencana dengan kemaksiatan penduduk. Pandangan seperti ini bukan tanpa kritik,” ungkap pendiri Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya itu.

Kritik itu pertama, bagaimana dengan wilayah dan lain yang lebih terang benderang kemungkaran dan kemaksiatan di dalamnya. Mengapa tidak wilayah itu yang mengalami gempa dan bencana? Kedua, ayat tentang kaum masa lalu itu adalah di masa dakwah awal yang ditantang dan ditolak. Kini, masa dan model penyebaran Islam tidaklah seperti zaman dulu yang jelas memusuhi Nabi dan syariatnya.

Maka muncul beberapa ulama lainnya yang menafsirkan bencana dengan tafsir yang lebih saintifik dengan menyebut gempa dan bencana sebagai dzahirah kawniyyah (fenomena alam) biasa. Bencana bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. “Tentang ini, sungguh membutuhkan banyak lembaran untuk membahas hal ini. Lalu, tak ada kaitan sama sekalikah antara bencana dengan perilaku keseharian manusia?” tambahnya.

Muncul pandangan menengahi semuanya, yaitu bahwa bencana atau gempa itu adalah balasan siksa bagi pendosa, ujian bagi orang yang shalih dan pelajaran bagi orang yang selamat. Pandangan seperti ini sungguh fair. Ada banyak orang alim dan shalih yang menjadi korban bencana dan gempa. Mereka bukan pendosa. Bagi mereka, musibah ini adalah ujian, termasuk untuk keluarganya.

Baca juga
Memilukan, Ibu dan Anak Korban Gempa Cianjur Tewas Berpelukan

Hadapi dengan doa dan usaha

Musibah juga merupakan salah satu bentuk kekuasaan Allah Ta’ala. Agar terhindar dari malapetaka dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak amal shaleh. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak doa, memohon perlindungan serta pertolongan dan bertobat memohon dengan ampun berserah diri kepada Sang Pencipta.

Dengan banyak berdoa kepada Allah dan terus berupaya keluar dari musibah ini, insyaAllah Allah akan memberikan titik terang diangkatnya musibah dari negeri kita. Karena akan sia-sia jika kita hanya berusaha menangkal atau menyelesaikan musibah tanpa diiringi dengan memperbanyak ibadah atau berdoa kepada Allah. Wallahu a’lam bishowab.

Tinggalkan Komentar