Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Tahun Depan Makin Banyak Negara Kena Resesi, Indonesia Potensinya Naik

Sabtu, 01 Okt 2022 - 13:53 WIB
Ini serius. Menteri Keuangan Sri Mulyani khawatirkan resesi ekonomi 2023.

Tahun depan semakin banyak negara yang terkena resesi dunia, nasib Indonesia bisa saja tersengat dampaknya. Lama-kelamaan resesi juga. Indonesia trennya naik.

Praktisi restrukturisasi utang, Hendra Setiawan Boen mengingatkan adanya tren kenaikan resesi Indonesia dari 4,7 persen pada Agustus 2022, menjadi 7 persen. Hal ini ditandai dengan permintaan ekspor sejumlah produk unggulan Indonesia, seperti tekstil, furnitur dan kerajinan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, mulai melemah.

“Pelemahan juga terjadi pada komoditas seperti logam mulia, minyak dan kelapa sawit, padahal ekspor berkontribusi 23 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022,” papar Hendra, Jakarta, Sabtu (1/10/2022).

“Salah satu ekspor utama dan penggerak ekonomi Indonesia adalah komoditas sehingga pelemahan harga komoditas adalah kabar kurang baik karena pasti memberi pengaruh kepada kinerja sektor usaha lain. Demikian juga surplus perdagangan saat ini justru berubah menjadi defisit, terutama karena rupiah melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika. Eksportir mungkin senang dolar menguat tapi importir pasti merana,” imbuh Hendra.

Baca juga
Sri Mulyani Loloskan 2 Wajah Lama ke Seleksi OJK Tahap Tiga

Ketika barang pokok semakin mahal, akibat kenaikan harga BBM dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp15.000, lanjut Hendra, daya beli pasti melemah. Lantaran pengetatan belanja terjadi di kelompok rumah tangga. Tidak adalagi anggaran untuk rekreasi atau plesiran. Alhasi, perekonomian nasional menjadi semakin tertekan.

Melemahnya konsumsi berarti permintaan terhadap produk barang dan jasa dari pelaku usaha akan sepi dan mempengaruhi pendapatan padahal beban operasional harus berjalan seperti sewa gedung, kewajiban pajak, listrik, karyawan, membayar utang dan lain-lain. Seperti praktik selama ini, karena kapasitas produksi dan permintaan berkurang maka akan berdampak pada pekerja seperti pemotongan gaji atau pemutusan hubungan kerja.

“Saya rasa krisis tahun depan akan berbeda dari resesi pada saat lockdown COVID-19. Saat COVID-19, rata-rata rumah tangga dan pelaku usaha memiliki likuiditas cukup sehat, hanya karena lockdown mereka tidak mudah mengeluarkan dan menerima uang sehingga menjelang akhir pandemi likuiditas mereka menjadi semakin ketat. Ketika mulai recovery, muncul turbulensi keuangan sehingga membuat keuangan rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia semakin berdarah,” bebernya.

Baca juga
Inilah Perkembangan Pasar Keuangan yang Perlu Dicermati Investor

Menurut Hendra, resesi global tahun depan kemungkinan akan menaikan angka permohonan pailit dan PKPU karena debitur yang utangnya sudah jatuh tempo dan dapat ditagih tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban sementara pihak kreditur juga memerlukan uang tersebut guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan mereka.

“Saran saya dalam menghadapi resesi kali ini adalah para pelaku usaha dan rumah tangga memerlukan endurance atau stamina agar mampu bertahan dalam jangka panjang, antara lain mulai mengerem pengeluaran yang tidak perlu dan menyisihkan uang agar kita punya dana tunai darurat apabila diperlukan sebab kita akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan. Apabila mau investasi maka sebaiknya ambil investasi beresiko rendah. Investasi beresiko tinggi itu seperti pasar saham atau reksa dana di pasar saham karena dana kita akan berkurang apabila nilainya jatuh. Untuk pelaku usaha, sebaiknya mulai melakukan restrukturisasi utang dengan kreditur agar tidak jatuh tempo pada saat resesi global melanda Indonesia,” ujar Hendra

Baca juga
BI Kerek Suku Bunga, Cicilan Rumah Hingga Pengangguran Naik Drastis

Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah mengkhawatirkan potensi resesi ekonomi global semakin berat di tahun depan. Dia mengistilahkan tiga kekhawatiran dengan ‘triple horror’ yang mengancam ekonomi global. Yakni, lonjakan inflasi, suku bunga tinggi, dan pelemahan ekonomi.

Khusus inflasi, Sri Mulyani mengatakan telah terjadi kenaikan harga barang yang dipengaruhi beberapa faktor. Seperti perang Rusia-Ukraina dan inflasi global.

“Dulu tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah pandemi, sekarang tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah kenaikan barang-barang tersebut,” kata Sri Mulyani.

 

Tinggalkan Komentar