Tahun Depan RI Bayar Bunga Utang Rp400 Triliun, Jelas tidak Aman

Gedesandra - inilah.com
Analis Ekonomi Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Gede Sandra

Pemerintah boleh saja mengklaim utang pemerintah Indonesia sebesar Rp6.700 triliun, masih aman. Tapi, beban bunga utang 2022 sebesar Rp400 triliun, bukan sesuatu yang aman.

Analis Ekonomi Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra mengatakan, tahun depan, pemerintah mengalokasikan duit Rp400 triliun hanya untuk membayar bunga utang. “Ini adalah lingkaran setan utang, jebakan utang. Berutang dengan bunga tinggi, karena penerimaan pajak rendah, maka pemerintah terpaksa berutang dengan bunga yang lebih tinggi lagi dan seterusnya,” ungkapnya kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (7/12/2021).

Satu hal yang menjadi catatan, kata Gede, Menteri Keuangan Sri Mulyani tampaknya hanya berpaku kepada solusi konservatif, yakni menumpuk utang. Untuk menambal defisit anggaran akibat rendahnya setoran pajak. “Justru kita pertanyakan utang gede dengan bunga gede disebut aman. Justru sudah membahayakan,” papar Gede.

Baca juga  Meme Sri Mulyani Menantang Balik MPR Ada di Instagram 'Mensos'

Dia mengingatkan, beban bunga utang yang harus dibayar. Di mana, posisi Indonesia termasuk tertinggi di Asia. “Kalau di ASEAN, Indonesia yang tertinggi. Pembayaran bunga tiap tahun terus melonjak. Tahun 2022 saja, anggaran untuk bayar bunga di APBN mencapai Rp400 triliun. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Gede bilang, utang Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Selama ini, pemerintah hanya berpatokan kepada rasio utang terhadap Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB). “Itu enggak logis,” ungkap Gede.

Untuk menghitung normal tidaknya utang suatu negara, kata dia, harus dilihat dari rasio kemampuan bayar utang. “Utang kita harus dilihat dari rasio kemampuan bayar. Itu yang lebih realistis ketimbang Debt to GDP Ratio, yaitu Debt Service Ratio (DSR),” paparnya.

Baca juga  Omicron Datang, IMF Turunkan Proyeksi 2022, Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi

Saat ini, kata dia, nilai DSR Indonesia sudah mencapai 40%. Angka ini dinilau jauh melampaui ambang batas alias threshold sebesar 25 persen. “Artinya, utang Indonesia sudah tidak lagi aman,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala BKF Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu menyebut utang Indonesia per Oktober 2021, sebesar Rp6.687,28 triliun, masih aman. Alasannya, rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih yang terendah sebelum pandemi COVID-19.

“Utang Indonesia tidak masalah. Tidak ada masalah utang kita sekarang. Selama bertahun-tahun khususnya mulai 2016, defisit kita selalu di bawah 3 persen, lebih sering di bawah 2 persen dari PDB,” paparnya.

Baca juga  Meski Mahalnya Sampai Rp11 Triliun, Sri Mulyani Setujui Program Kartu Prakerja

Saat ini, Febrio mengklaim, kebijakan fiskal masih sangat disiplin. “Itulah yang membuat rasio utang kita terhadap PDB sangat rendah, di level 30 persen sebelum pandemi 2019. Itu salah satu level utang terendah di dunia apalagi untuk negara yang nomor 16 seperti Indonesia,” kata Febrio dalam webinar Presidensi G20- Manfaat Bagi Indonesia dan Dunia, Senin (6/12/2021).

Pemerintah pun akan menekan defisit fiskal sebesar 3% pada 2023 sehingga masyarakat diminta tak perlu khawatir. Target itu diyakini bisa tercapai karena Indonesia memiliki komitmen disiplin fiskal yang selama ini sudah dipegang baik.

Tinggalkan Komentar