Senin, 04 Juli 2022
05 Dzul Hijjah 1443

Tahun Ini, BI Masih Bisa Borong SBN Rp224 Triliun untuk Jaga Inflasi

Rabu, 15 Jun 2022 - 22:17 WIB
Tahun Ini, BI Masih Bisa Borong SBN Rp224 Triliun untuk Jaga Inflasi
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Sumber: VOI).

Tahun ini, Bank Indonesia (BI) menyiapkan dana super jumbo untuk memborong surat berharga negara (SBN). Tak kurang dari Rp224 triliun. Dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencegah kenaikan harga alias inflasi.

Hal itu disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo seminar daring bertajuk Managing Inflation to Boost Economic Growth, Jakarta, Rabu (15/6/2022).

“Tahun ini, BI membei SBN sebesar Rp224 triliun. Bisa untuk pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan. Silahkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), mengalokasikan dana tersebut. Artinya, bisa digunakan untuk meredam inflasi di dalam negeri. Agar bisa terkendali. Tahun depan sudah tidak bisa lagi,” papar Perry.

Perry mengakui, kenaikan harga komoditas pangan dan energi yang memantik inflasi tinggi di sejumlah negara, tidak bisa dianggap remeh. Kini, angka inflasi di Indonesia mencapai 4,2 persen. Masih dalam koridor target APBN 2022 sebesar 3 persen plus-minus 1 persen.

Baca juga
IMF Sebut akan Terjadi Inflasi Tinggi Akibat Perang Rusia-Ukraina

“Kalau negara lain banyak yang terkena imbas mahalnya harga pangan dan energi, Indonesia tidak terlalu. karena komunikasi sektor fiskal dan moneter di kita begitu bagusnya. Kemarin, DPR setujui kenaikan angka subsidi energi. Nah ini tujuannya kan untuk mencegah harga tidak naik terlalu tinggi,” terang Perry.

Memprediksi ekonomi Indonesia di tengah gempuran inflasi global, pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah ini, merasa optimis. tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di di rentang 4,5-5,3 persen. Tahun depan naik di rentang 4,7-5,5 persen.

“Artinya, (pertumbuhan ekonomi) Indonesia kembali di atas 5 persen. Didukung ekspor, investasi, fiskal dan moneter. Jadi bukan sekedar konsumsi domestik saja,” ungkap alumni UGM ini.

Terkait kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) mengerek suku bunga (Fed Fund Rate/FFR), Perry tidak khawatir sedikit pun. Tahun ini, FFR diperkirakan naik 250 basis poin (Bps) menjadi 2,75 persen. Tahun diprediksi naik 50 bps menjadi 3,25 persen.

Baca juga
Dikerjai Hacker Rusia, 487 MB Data di BI Amblas

Sementara yield treasury AS pada 2022 diprediksi naik menjadi 3,35 persen, sedangkan 2023 diprediksi turun menjadi 2,9 persen. Kebijakan ini terpaksa ditempuh The Fed guna menurunkan inflasi yang melejit ke angka 8,6 persen per Mei 2022 (year on year/yoy). Angka inflasi ini tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

“Dengan koordinasi fiskal dan moneter yang baik, kami yakin semuanya bisa kita lalui dengan bagus,” paparnya.

Dia menyampaikan, kenaikan FFR tidak membuat BI bertindak gegabah. Dengan serta merta menaikkan suku bunga acuan. “Kami memilih untuk pengaturan likuiditas melalui kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM). Dalam Rapat Dewan Gubernur BI, kita percepat GWM naik. Sebesar 6 persen pada Juni, 7 persen Juli dan 9 persen pada September,” imbuh Perry.

Baca juga
Rupiah Keok terhadap Dolar AS Akibat Lonjakan Kasus Positif Covid-19

Sebagai informasi, GWM adalah dana atau simpanan minimum dari bank berbentok rekening giro yang ditempatkan di BI. Di mana, besaran GWM ditetapkan BI berdasarkan persentase dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan.

Dalam hal ini, GWM merupakan instrumen moneter atau makroprudensial yang berfungsi untuk mengatur peredaran uang di masyarakat, termasuk likuiditas perbankan. Kalau GWM naik, maka likuiditas perbankan atau penyaluran kredit menjadi agak seret. Begitu pun sebaliknya. [ikh}

Tinggalkan Komentar