Sabtu, 03 Desember 2022
09 Jumadil Awwal 1444

Tak Ada Perencanaan, Banyak Bandara Sepi Setelah Diresmikan Jokowi

Sabtu, 17 Sep 2022 - 08:56 WIB
Presiden Jokowi resmikan Bandara Ngloram, Blora, Jawa Tengah.

Membangun bandar udara atau bandara, tak seperti membangun rumah. Bukan asal megah dan indah, selesai. Bukan pula bangun sekaligus besar, sekaligus pula sepi. seperti banyak bandara di negeri ini, sepi setelah diresmikan Presiden Jokowi.

Saat berbincang dengan Inilah.com, Jumat (16/9/2022), pengamat penerbangan Alvin Lie, setidaknya menyebut 5 contoh bandara di era Jokowi yang sepi penumpang, atau bahkan tak ada jadwal penerbangan. Yakni, Bandara Kertajati (Majalengka), Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Bandara Wiriadinata (Tasikmalaya), Bandara Ngloram (Blora) dan Bandara JB Soedirman (Purbalingga).

“Bandara yang baik, atau sukses adalah bandara yang terus berkembang. Bukan yang hadir sekaligus besar, tetapi sekaligus berhenti. Kita lihat Changi atau Soekarno-Hatta (Soetta), selalu ada pembangunan. Tidak pernah berhenti. Soetta, awalnya punya 1 terminal dan 1 runway. Berkembang punya 2 terminal dan 2 runway. Terus membangun, mungkin kini sampai terminal keempat,” terang Alvin.

Saat Bandara Kertajati yang diresmikan pada 25 Mei 2018, Presiden Jokowi sempat berharap bisa dimanfaatkan untuk mudik 2018. Kini, bandara yang pembangunannya menelan dana Rp2,6 triliun ini, sepi dan tak terurus. Sempat jadi wahana prewedding dan foto-foto selfie.

Baca juga
Bandara Tebelian Baru Diresmikan Jokowi Bisa Jadi Proyek Mubadzir Seperti Kertajati dan Yogyakarta

Awalnya, kata Alvin, seluruh pejabat begitu yakin bahwa Bandara Kertajati beroperasi, bakalan ramai. Ternyata kan tidak. “Kita menjadi bertanya, siapa yang akan terbang ke Kertajati? Ada apa di Kertajati sehingga membuat orang tertarik. Industrinya? Pertaniannya atau lainnya. Kalau tidak ada ya, berarti mengandalkan orang di sekitar Kertajati keluar. Sekarang, jumlahnya banyak atau sedikit? Kalau banyak bisa menghidupi bandara. Kalau sedikit ya mati,” tuturnya.

Faktor lainnya yang menentukan hidup dan matinya bandara, lanjut Alvin, adalah konektivitas. “Orang ke bandara kan melihat bagaimana transportasinya. Baik itu menuju atau keluar bandara. Antara penumpang dan transportasi lanjutan ini, seperti telur dan ayam. Yang mana dulu. Sistem transportasi lanjutannya ada dulu, atau penumpangnya? Sempat ada layanan bus Damri gratis dari Bandung ke Kertajati. Ternyata tetap saja tidak ada penumpang. Akhirnya Damri berhenti juga karena tak kuat,” ungkapnya.

Baca juga
Proyek IKN dan Kereta Cepat China Jalan Terus di Tengah Penderitaan Rakyat

Pun begitu nasib Bandara Wiriadinata yang diresmikan Presiden Jokowi pada 10 Juni 2017, atau Bandara Ngloram pada 17 Desember 2021, kini menjadi bandara sepi. Membangun bandara perlu memperhitungkan pergerakan masyarakat, daya beli serta kultur atau budaya masyarakat setempat. “Misalnya daerah A perlu bandara. Kebutuhannya ada tetapi daya belinya enggak ada. Dikasih pesawat juga enggak akan kebeli tiketnya,” ungkap mantan Ombudsman RI ini.

Lalu bagaimana dengan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA)? Menurut Alvin, meski tak separah Kertajati, bandara senilai Rp12 triliun yang diresmikan Presiden Jokowi pada 28 Agustus 2020 itu, kondisinya ya tergolong sepi. “Selain Kertajati, Bandara YIA juga mirip-mirip kondisinya meski tak separah Kertajati. Penumpang pesawat kan tidak bisa mepet-mepet keberangakatan. Paling dua jam atau bahkan tiga jam sebelum berangkat, sudah berada di bandara. Nah, kalau delay atau cancel, apakah sudah ada hotel di sekitar bandara atau rumah sakit kalau ada penumpang yang sakit. Hal-hal seperti haruslah dipikirkan,” terangnya.

Baca juga
Jokowi Kumpulkan 12 Organisasi Mahasiswa di Istana, Bahas IKN hingga Harga Migor

Mantan anggota DPR asal PAN ini, masuk akal. Sebelum membangun bandara perlun kajian dari berbagai sisi yang mumpuni. Bisa jadi masih banyak bandara-bandara mubazir di era Jokowi. Sebut saja, Bandara Trunojoyo yang baru diresmikan Jokowi namun ditinggalkan sejumlah maskapai. Karena, dari sisi bisnis tidak menguntungkan.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar