Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

Tantangan Penyintas Kanker Ovarium, Kerap Alami Kekambuhan

Jumat, 14 Jan 2022 - 11:56 WIB
Penyintas Kanker Ovarium - inilah.com
istimewa

Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K)-Onk, sebagai Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI), menjelaskan kekambuhan menjadi musuh utama sekaligus tantangan yang dihadapi pasien kanker ovarium usai masa pengobatan. Tantangan penyintas kanker ovarium adalah kerap mengalami kekambuhan.

“Musuh utama kanker ovarium adalah kekambuhan, karena sebagian besar terdeteksi bukan dalam stadium dini,” katanya dalam sebuah diskusi virtual, ditulis di Jakarta, Jumat, (14/01/2022).

Tingkat kekambuhan 80 persen pada penyintas kanker ovarium

Dokter yang menjadi konsultan ginekologi onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), RS Dr Seotomo dan RS UNAIR Surabaya itu mengatakan, pada mereka yang terkena kanker pada stadium lanjut, tingkat kekambuhannya mencapai 80 persen meskipun sudah menjalani pengobatan.

Baca juga
Empat Tips dari WHO Agar Anak Tetap Aman Saat PTM

Penanganan kekambuhan nantinya berbeda antarpasien. Ada yang perlu menjalani kemoterapi, pembedahan terlebih dulu sebelum kemoterapi atau bahkan terapi target.

“Kalau kambuh, sangat variatif per orang. Ada yang dikemoterapi, ada yang dioperasi dulu baru kemoterapi, ada pula yang menjalani target terapi. Ditentukan dokter bersama tim,” ujar Brahmana.

Penyintas harus terus terpantau

Oleh karena itu, menurut Brahmana, pasien kanker ovarium yang sudah selesai menjalani pengobatan perlu dipantau secara terus menerus. Setidaknya mereka perlu kontrol teratur ke dokter tiga bulan sekali untuk mendeteksi ada tidaknya keluhan, benjolan baru dan lainnnya.

“Kanker ovarium perlu dipantau terus menerus. Tidak bisa setelah operasi dan kemoterapi maka selesai. Paling tidak dia harus kontrol teratur 3 bulan sekali untuk melihat ada tidaknya keluhan, munculnya benjolan baru dan lainnya,” tutur dia.

Baca juga
COVID-19 dan TBC Punya Gejala Sama

Saat melakukan kontrol ke dokter, penyintas bisa menjalani sejumlah tes dan pencitraan seperti CT-scan, MRI dan lainnya untuk mengonfirmasi adanya kekambuhan atau tidak.

Kanker ovarium dikatakan sebagai salah satu sillent killer karena tidak memiliki gejala khas yang dirasakan pasien pada stadium dini. Kanker dapat berasal dari ovarium kanan atau kiri atau keduanya.

Ovarium berukuran kecil sekitar 2cm, tetapi bila menjadi tumor atau kanker maka ukurannya bisa menjadi 50 cm dan terkadang walau ukuran tidak besar tetapi menyebar ke organ lain seperti paru-paru.

Tinggalkan Komentar