Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Tarif Ojol Mahal, Ojek Pangkalan atau Motor Pribadi Jadi Pilihan

Rabu, 21 Sep 2022 - 14:55 WIB
Ojek Pangkalan
(ist)

Tarif ojek online (ojol) sudah mengalami kenaikan. Masyarakat pun mulai berhitung untuk menggunakan transportasi lebih murah. Pilihannya menggunakan motor pribadi, pindah ke ojek pangkalan (opang) atau menggunakan moda transportasi lainnya yang lebih murah.

Bagi Anda pengguna ojol, mungkin sudah merasakan kenaikan tarif. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengumumkan soal kenaikan tarif ojol dan berlaku mulai 11 September 2022 lalu. Ketentuan tarif ojol naik 2022 ini terbagi dalam tiga zona, yakni zona I untuk wilayah Jawa (non Jabodetabek), Sumatera, dan Bali. Lalu, zona II untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kemudian, zona III untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan sekitarnya, Kepulauan Maluku dan Papua.

Untuk zona II, rincian tarif ojek online 2022 terbaru meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mendapat kenaikan tertinggi. Biaya jasa batas bawah Rp2.550 per km (naik 13 persen). Biaya jasa batas atas Rp2.800 per km (naik 6 persen). Sementara rentang biaya jasa minimal (per 4 km) Rp10.200 hingga Rp11.200.

Kenaikan ini tentu menggembirakan bagi para mitra ojek online. Sedangkan bagi masyarakat kenaikan tarif ojol akan cukup membebani anggaran rumah tangga karena banyak anak sekolah atau pelajar yang menggunakan jasa ojek online. Sayangnya, pelajar adalah kelompok yang tidak memiliki penghasilan sehingga beban tersebut akan kembali ke orang tua atau kepala rumah tangga.

Opsi Menggunakan Motor Pribadi

Lalu apa yang dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi bertambahnya beban akibat kenaikan harga tarif ojol ini? Dalam survei yang dirilis oleh Polling Institute terungkap pilihan apa yang dilakukan masyarakat dengan kenaikan tarif ojol ini.

Baca juga
Ingin Sejahterakan Driver Ojol, Sayangnya Kebijakan Menhub Budi Kurang Cerdas

Opsi utama sebagai respons pengguna yaitu tetap menggunakan ojol sebagaimana biasanya sebesar 29,1 persen, menyusul di bawahnya adalah menggunakan motor sendiri 26,6 persen antara menggunakan ojol/motor sendiri 14 persen, menggunakan motor sendiri/angkutan umum 5,3 persen atau menggunakan angkutan umum 5,3 persen. Selebihnya opsi lain, adalah masing-masing kurang dari 4 persen.

Analis Polling Institute Kennedy Muslim menjabarkan kelompok laki-laki, usia lebih muda, kalangan pegawai pemerintahan, guru/dosen dan pelajar/mahasiswa cenderung menggunakan motor pribadi jika tarif ojol dinaikkan. Sementara kelompok perempuan, usia lebih tua, kalangan wiraswasta, ibu rumah tangga dan profesi lainnya, cenderung lebih banyak tetap menggunakan ojol.

Populasi survei ini adalah setiap warga yang berumur 17 tahun, atau lebih, atau sudah menikah dan merupakan pengguna ojek online yang pernah bepergian minimal satu hari dalam seminggu terakhir (atau mitra driver). Mereka pengguna Go-Ride, Grab-Bike, Maxim-Bike, atau ojek online lainnya yang berbasis aplikasi.

Menarik melihat data ini, masyarakat kini mulai memilih menggunakan motor sendiri untuk berpergian. Pakar Transportasi Publik Yayat Supriyatna menilai penggunaan motor pribadi dengan jarak yang sama dianggap lebih hemat dibandingkan dengan naik ojol. Ini juga memicu kenaikan pembelian motor bekas. “Masyarakat akan lebih banyak pindah ke sepeda motor, mengingat mahalnya biaya hidup tetapi gaji atau pendapatan juga tidak naik,” ujarnya, Minggu (11/9/2022).

Baca juga
Sebanyak 1.882 Unit Sepeda Motor Honda Terjual Sepanjang GIIAS 2022

Sebagai contohnya, Yayat menuturkan dengan membayar BBM Rp10.000 pengguna motor pribadi bisa menggunakannya untuk bepergian hingga empat hari tergantung jarak. Berbeda jauh dengan kemungkinan untuk tarif ojol yang dengan harga Rp10.000 hanya dapat digunakan untuk sekali perjalanan.

Bahkan, hematnya penggunaaan sepeda motor dengan biaya BBM per liter untuk jarak maksimal yang ditempuh juga tidak bisa menyamai untuk penggunaan angkutan umum lainnya seperti angkot. Menurutnya, dengan tingginya potensi pergeseran ke penggunaan sepeda motor, dia mewaspadai bahwa konsekuensinya adalah tingkat kemacetan di jalan pun semakin tinggi.

Pilihan masyarakat untuk menggunakan sepeda motor memang tidak bisa disalahkan. Pasalnya, minimnya pendapatan dan makin mahalnya biaya hidup mengharuskan mereka untuk mencari opsi penghematan.

Masyarakat akan berusaha untuk membeli sepeda motor baru baik kendaraan baru atau bekas. Apalagi saat ini banyak fasilitas pinjaman yang ditawarkan pihak ketiga untuk mempermudah kepemilikan motor.

Yang terjadi kemudian adalah kemacetan akan lebih parah gara-gara peralihan moda dari ojol ke kendaraan roda dua pribadi ini. Jumlah kendaraan roda dua perlahan akan membengkak. Dalam data Electronic Registration Identification (ERI) Korlantas Polri, jumlah sepeda motor yang terdaftar di Jakarta dan sekitarnya mencapai 17.621.463 unit, paling tinggi di Indonesia.

Tarif Ojek Pangkalan Jadi Lebih Murah

Yang juga menarik dari fenomena kenaikan tarif ini adalah, para pengemudi ojek pangkalan bisa mendapat limpahan penumpang dari ojol. Hal ini mengingat dari sisi tarif bisa lebih kompetitif dari ojol. Artinya tarif ojek online atau tarif ojol sudah di atas tarif ojek pangkalan.

Baca juga
Foto: Sosok Jek-Jek Nung di Nepal Van Java, Gunung Sumbing, Magelang

“Namun persoalannya, semua pendapatan ojek pangkalan masuk ke pengemudi, sedangkan para pengemudi ojol harus membaginya dengan aplikator berupa biaya komisi. Selain komisinya yang besar, ojol juga mengambil biaya penggunaan aplikasi ke konsumen,” kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi tuturnya.

Masalahnya, semua aset, risiko, dan tenaga kerja ditanggung mitra pengemudi ojol. Sehingga dengan kenaikan harga BBM, ongkos produksi pun naik. Alhasil kenaikan tarif bagi mitra tidak otomatis meningkatkan pendapatan. Sementara bagi aplikator, kenaikan tarif langsung meningkatkan pendapatan.

Selama ini belum terbuka kepada masyarakat soal formula perhitungan dan pembagian antara ongkos produksi yang diharus dikeluarkan mitra pengemudi dan komisi yang didapat oleh aplikasi. Para aplikator juga terlihat enggan untuk mengurangi biaya komisinya.

Yang jelas, bagi Anda pengguna ojol sudah pasti merasakan kenaikan ini. Apakah Anda tetap bertahan menggunakan ojol atau memilih opsi lain? Yang pasti kenaikan ini bukan karena keinginan para pengemudi ojol, jadi tidak semestinya Anda memberikan nilai hanya bintang 1 atau 2 gara-gara tarif ini.

Tinggalkan Komentar