Telanjangnya Perbedaan Hukum Coki, HRS dan Nia Ramadhani

Telanjangnya Perbedaan Hukum Coki, HRS dan Nia Ramadhani - inilah.com

Proses hukum terhadap Komika Coki Pardede dihentikan, Coki dikirim ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur daripada ke penjara.

Alasannya, Coki dianggap sebagai korban penyalahgunaan narkoba.”Namanya proses penjara atau tidak, melihat unsur pidananya, memenuhi unsur atau tidak. Nah ini kan tidak memenuhi, dia adalah korban dan direhabilitasi,” kata Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Deonijiu De Fatima Senin (6/9/2021).

Sedang yang harusnya dipenjara, adalah si bandar yang menjual barang haram itu ke Coki.

Coki Pardede diamankan di kediamannya di kawasan Cisauk, Tangerang Selatan pada Rabu (1/9/2021). Dalam penangkapan itu, petugas menemukan sabu seberat 0,3 gram dan jarum suntik.

Sementara itu kuasa hukum Coki, Milano Lubis mengungkap bahwa kliennya mengaku sudah lama mengkonsumsi narkoba. Namun saat digrebek, Coki dalam proses pengobatan.”Coki ini memang, pemakaiannya ini mungkin dua tahunlah, tapi memang sedang dalam pengobatan. Kita punya track record-nya. Intinya pengobatan dia di mana? Dengan dokter siapa? Obat yang dia konsumsi apa? Memang dia dalam proses pengobatan,” terang Milano Lubis.

Keinginan Coki Pardede untuk sembuh dari ketergantungan narkoba memang sudah lama diniatkan. Bahkan lingkungan terdekat Coki juga mengetahui hal itu.”Sebenarnya bukan dia sendiri (yang mau berobat sendiri), teman-teman support dia buat berobat, teman-teman dekatnya dialah. Pokoknya, teman-teman tahu dia berobat, memang dia pengin sembuh juga. Pengin punya kehidupan normallah,” tutur Milano.

Baca juga  Proses Parkir Porsche Taycan Kini Bisa Dikontrol dari Smartphone

Beda Coki Beda HRS

Keputusan polisi memasukkan Coki ke rehabilitasi dan proses hukumnya dihentikan membuat Waketum Front Persaudaraan Islam (FPI) Syahid Joban protes.

Syahid Joban mempertanyakan penegakan hukum yang dianggap tebang pilih. Nama Coki masuk dalam daftar protes Syahid Joban yang disampaikannya dalam acara konferensi pers HRS Center (6/9/21) di Matraman, Jakarta. Berikut daftarnya;

Setelah mengamati, mengikuti dan mendampingi proses hukum yang dijalani oleh Imam Besar Habis Rizieq Shihab (HRS) hingga vonis 4 tahun Penjara. Maka sebetulnya Pemerintah sedang Menunjukkan Kezalimannya dihadapan rakyat Indonesia.
    
Penegakkan Hukum tebang pilih, penerapan hukum yang suka-suka menunjukkan hukum di negeri ini bisa dipesan sesuai syahwat penguasa.
    
Coki Pardede diciduk dan terbukti mengonsumsi sabu-sabu disebut korban narkoba yang harus direhabilitasi. Harun Masiku koruptor yang kabur disebut korban korupsi yang harus diberikan penyuluhan. Djoko Candra dan Jaksa Pinangki koruptor yang merugikan negara diberikan potongan masa tahanan.
    
Sedangkan HRS yang mengatakan dirinya sehat dan baik-baik saja saat dirawat di RS Umi disebut “pembohong & penjahat pembuat onar” sehingga harus ditangkap, diadili dan divonis 4 tahun penjara, organisasinya dibubarkan, dan 6 pengawalnya diculik, disiksa dan dibunuh
    
Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berjuang melawan segala bentuk kezaliman demi tegakknya keadilan.

Baca juga  Nia Ramadhani-Ardi Bakrie Jalani Sidang Perdana Hari Ini

Beda Coki Beda Juga Nia

Jika membandingkan kasus Coki Pardede dengan HRS terlalu jauh, maka dengan Nia Ramadhani yang juga ditangkap karena narkoba rasanya cukup relevan.

Coki Pardede setidaknya dijerat Pasal 114 ayat (1) subsider Pasal 112 jo Pasal 132 Undang-Undang Narkotika. Namun, dalam Kasus Nia Ramadhani, istri Ardie Bakrie itu dijerat dengan Pasal 127 Undang-Undang Narkotika. Berbeda tidak hanya angka saja, tapi isi dan dampak pasalnya sangat berbeda.

Pasal 127 Undang-Undang Narkotika benar-benar menempatkan pelaku atau tersangka sebagai korban penyalahgunaan narkoba yang dapat dilakukan rehabilitasi meskipun ada ancaman hukuman pidana penjara. Namun, tidak terlalu berat seperti pada Pasal 114 atau 112 Undang-Undang Narkotika.

Baca juga  Habib Rizieq Belum Respon Permintaan Maaf McDanny

Kedua pasal ini menempatkan tersangka tidak hanya sekadar sebagai pengguna. Tapi lebih dari itu, tersangka diduga terlibat dalam peredaran narkoba tersebut seperti menjadi penjual, pembeli, kurir, orang yang menyimpan atau sekadar hanya sebagai orang yang dititipi saja.

Dampak ancaman Pasal 112 dan 114 Undang-Undang Narkotika tidak sembarangan. Pasal 114 saja paling singkat dipenjara 5 tahun dan maksimal 20 tahun. Sedangkan, Pasal 112 meskipun lebih ringan sedikit tapi tetap berat rasanya. Ancamannya paling singkat dipenjara empat tahun dengan maksimal hukuman penjara 12 tahun.

Perlu diingat itu masih hukuman pidana penjara saja, belum yang pidana denda. Kasus Coki Pardede juga dikenakan Pasal 132 Undang-Undang Narkotika, yang intinya Coki Pardede ini bisa dikenakan pemberatan kalau terbukti ngelakuinnya secara terorganisir.

Dalam aturan SEMA No. 4 Tahun 2010 jo SEMA No. 3 Tahun 2011 yang dijadikan acuan. Salah satu syarat yang harus terpenuhi adalah tidak terbukti yang bersangkutan terlibat dalam peredaran narkotika.

Tapi sekarang pasal yang dikenakan ke Coki tak lagi berlaku. Polisi menghentikan kasusnya dan mengirim Coki ke RSKO untuk melakukan rehabilitasi tanpa melewati proses persidangan.

 

Tinggalkan Komentar