Senin, 28 November 2022
04 Jumadil Awwal 1444

Televisi Sedot Belanja Iklan Rp107,5 Triliun

Kamis, 11 Agu 2022 - 21:19 WIB
Televisi Sedot Belanja Iklan Sebesar Rp107,5 Triliun
Director Client Lead Nielsen Indonesia Selly Cahyani Putri/Foto:ist

Nielsen Indonesia mencatat, media televisi menyerap Rp107,5 triliun dari total belanja iklan yang mencapai Rp135 triliun di semester I-2022.

Director Client Lead Nielsen Indonesia, Selly Cahyani Putri mengatakan, televisi masih mendominasi serapan belanja iklan ketimbang media lain. Dengan presentase sebesar 79,7 persen pada periode tersebut.

Menurutnya, rate card televisi yang naik sekitar tujuh persen, justru membuat belanja iklan pada media itu tumbuh sebesar delapan persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Jadi delapan persen kenaikan TV ini lebih didorong karena kenaikan rate card. Jadi stasiun TV nya menaikkan harga rate card sekitar 7 persen” ujar Selly dalam Nielsen Press Club di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Baca juga
Belanja Iklan Naik Jadi Rp135 Triliun, 79,7 Persen Lari ke Televisi

Selly mengatakan belanja iklan pada televisi didominasi oleh industri Fast Moving Consumer Good (FMCG), yakni seperti makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan, produk kebersihan dan lainnya.

Dia mengatakan jumlah spot iklan di televisi juga terus mengalami kenaikan, yakni pada semester I 2019, spot iklan sebanyak 2,13 juta, semester I 2020 naik menjadi 2,34 juta, semester I 2021 naik menjadi 2,88 juta dan semester I-2022, naik menjadi 2,91 juta. “Kenaikan spot iklan di TV tahun ini naik sekitar satu persen,” ujar Selly.

Selain 79,7 persen diserap televisi, belanja iklan yang sebesar Rp135 triliun pada semester I-2022, sebesar 15,2 persen diserap media digital, 4,8 persen diserap media cetak, dan 0,3 persen diserap radio.

Baca juga
Industri Mulai Pulih Pasca Pandemi, Nielsen Catat 7% Peningkatan Belanja Iklan Semester Pertama 2022

Nielsen melakukan monitoring terhadap 15 stasiun televisi, 161 media cetak, 104 radio, 200 situs dan 3 media sosial. Dalam melakukan perhitungan, Nielsen menggunakan metode gross rate card, yakni tidak memasukkan unsur diskon, promo, paket dan lainnya. [ipe]

Tinggalkan Komentar