Sabtu, 25 Juni 2022
25 Dzul Qa'dah 1443

Telur Ayam, Cabai Hingga Daging Sapi Terlalu Mahal, INDEF: Jaga Permintaan

Senin, 06 Jun 2022 - 19:17 WIB
Telur Ayam Hingga Daging Sapi Terlalu Mahal, Indef: Jaga Permintaan
Pedagang Telur ayam. (Sumber: JPNN).

Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, M Rizal Taufikurahman menyebut harga barang di Tanah Air, masih terlampau tinggi. Terlihat dari indeks harga konsumen (IHK), sehingga permintaan perlu dijaga.

“Harga komoditas memang masih di atas ya. Seperti kita lihat dari inflasi saja misalnya, inflasi pada Mei 2022 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) memang angkanya cukup besar,” kata Rizal di Jakarta, Senin (6/6/2022).

Rizal menyampaikan, meskipun pada Mei 2022, angka inflasi atau indeks harga konsumen masih relatif lebih kecil, yakni 0,40 persen, dibanding April sebesar 0,95 persen. Namun, untuk komoditas tertentu masih tinggi.

“Inflasinya ini menunjukkan bahwa masih terjadi inflasi meskipun angkanya turun. Artinya dari inflasi inti, volatile food, maupun administered pricesnya itu terjadi penurunan,” ujar Rizal.

Baca juga
Minyak Dunia Makin Mahal, INDEF: Kencangkan Ikat Pinggang Kementerian

Secara tahunan, inflasi IHK pada Mei 2022 tercatat 3,55 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Masih lebih tinggi ketimbang inflasi pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,47 persen (yoy).

Oleh karena itu, lanjut Rizal, harga barang dan jasa masih cukup tinggi (yoy). Hal itu dapat dilihat dari kenaikan beberapa harga komoditas pangan, di antaranya telur ayam, daging sapi, dan cabai merah, serta beberapa jenis beras.

“Artinya, harga barang dan jasa masih di atas besaran angka yang ditargetkan. Di mana tahun ini inflasi ditargetkan 3 persen,” ujar Rizal.

Oleh karena itu, tambahnya, stabilisasi harga perlu dijaga melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah agar inflasi berada pada tingkat sasaran makro ekonomi 2022 yaitu di angka 3 persen.

Baca juga
Selain Utang Menggunung, Faisal Prediksi Jokowi Wariskan Jutaan Rakyat Miskin

Menurut Rizal, terdapat beberapa skenario yang dapat dilakukan, misalnya pemerintah perlu mengidentifikasi penyebab turunnya inflasi inti di samping terjadinya naiknya inflasi kebutuhan pangan. “Untuk itu, permintaan masyarakat perlu dijaga dengan harga yang tidak volatile,” tukas Rizal.

Hal tersebut, lanjut Rizal, juga perlu dukungan dari Bank Indonesia untuk menjaga target inflasi tahun ini tercapai dengan mengarahkan pada konsistensi kebijakan BI.

Sementara itu, seiring dengan menjaga permintaan tersebut, masyarakat juga diarahkan untuk memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri. Dalam hal ini, Rizal menyampaikan bahwa produk dalam negeri perlu berdaya saing dari segi harga, kualitas, maupun kuantitasnya.

Baca juga
Usai Lebaran Harga Daging Sapi di Medan Turun Jadi Rp130.000 per Kilogram

“Jadi, untuk penggunaan produk dalam negeri, perlu diperhatikan juga bahwa produk dalam negeri harus mampu bersaing dengan produk impor, terutama dari sisi harga dan kualitas,” tukas Rizal. [ikh]

Tinggalkan Komentar