Selasa, 09 Agustus 2022
11 Muharram 1444

Tembakan Mortir dari Ukraina Hancurkan Pos Perbatasan Rusia

Senin, 21 Feb 2022 - 21:17 WIB
Pos Perbatasan Rusia
(foto: 112.international)

Dinas keamanan federal Rusia (FSB) mengatakan pada Senin (21/2/2022), sebuah mortir yang ditembakkan dari wilayah Ukraina telah menghancurkan sebuah pos penjagaan perbatasan di daerah Rostov, Rusia, tapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Ukraina menolak bertanggung jawab atas insiden itu, yang terjadi di tengah ketegangan ekstrem di antara kedua negara ketika Moskow terus membantah pernyataan AS dan sekutunya bahwa Rusia bisa menyerang Ukraina kapan saja.

“Pada 09.50 pagi (13.50 WIB) sebuah proyektil tak dikenal yang ditembakkan dari wilayah Ukraina menghancurkan pos jaga perbatasan FSB di daerah Rostov, sekitar 150 meter dari perbatasan RusiaUkraina,” kata FSB dalam pernyataannya yang dilansir Reuters.

“Tak ada korban jiwa. Pasukan sapper (pencari ranjau) sedang bekerja di sana,” lanjut mereka.

Baca juga
Rusia Desak DK PBB Bahas 'Provokasi' Bucha

Kantor berita RIA membagikan rekaman video dari FSB yang memperlihatkan sebuah pos kecil yang hancur lebur. Rekaman itu tidak menunjukkan proyektil yang disebut-sebut oleh FSB.

Ukraina mengatakan mereka tidak menembakkan mortir ke wilayah Rusia.

Militer Ukraina sebelumnya menuduh Rusia memalsukan gambar-gambar mortir yang seakan-akan milik Ukraina. Mereka mengatakan para tentara bayaran telah tiba di wilayah timur Ukraina yang dikuasai pemberontak untuk melakukan provokasi dengan bantuan pasukan khusus Rusia.

Tembakan mortir di sepanjang garis yang memisahkan pasukan pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia di timur Ukraina semakin intensif sejak Kamis pekan lalu. Upaya diplomatik untuk mencegah konflik militer antara Rusia dan Ukraina telah meningkat.

Pemberontak dukungan Rusia merebut sebagian besar wilayah timur Ukraina pada 2014, tahun yang sama dengan aneksasi Krimea oleh Rusia.

Baca juga
IOC Larang Pengibaran Bendera Rusia di Kejuaraan Olahraga Internasional

Pemerintah Ukraina mengatakan bahwa sejak itu, sekitar 15.000 orang telah tewas dalam konflik di wilayah timur tersebut.

Tinggalkan Komentar