Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Ternyata ini Makna Jumat bagi Kristen dan Hindu

Jumat, 13 Jan 2017 - 07:00 WIB
Penulis : Derry Oktriana Syofiadi

BAGI yang beragama Nasrani, mereka mengenal Jumat Agung yakni hari Jumat sebelum Minggu Paskah. Hari yang diperingati untuk mengingat Penyaliban Yesus Kristus dan wafatnya di bukit Golgota (bukit Tengkorak) Jerusalem.

Meskipun dari sebagian literatur menyebutkan bahwa wafatnya Yesus jatuh pada hari Rabu tanggal 14 Nisan (kalender Yahudi). Satu hari menjelang hari Pesakh (Hari Paskah Yahudi).

Jumat dalam terminologi Hindu

Nama lain lagi untuk hari jumat ini adalah Sukra, yang diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti planet Venus, mirip dengan pengertian dalam bahasa-bahasa di Eropa. Sukra (Sanskerta) dalam mitologi Hindu, adalah nama seorang acarya, dan merupakan salah satu graha di antara sembilan graha (Nawagraha), yang menguasai planet Venus dan hari Jumat (Sukrawara).

Menurut kitab Purana, ia adalah keturunan Resi Bregu. Istrinya adalah Jayanti, putri Indra. Ia memiliki seorang putri bernama Dewayani, yang kemudian menjadi istri Raja Yayati, keturunan Candra. Dalam mitologi Hindu, Sukra bergelar sebagai guru para raksasa, saingan Wrehaspati, guru para dewa. Konon Dia mengetahui mantra sakti yang disebut mertasanjiwani, mampu menghidupkan orang mati, meskipun jenazahnya telah menjadi abu. Mantra itu diperolehnya dari Sang Hyang Sangkara (Siwa), dan kemudian diturunkan kepada salah satu muridnya, Kaca, putra Wrehaspati.

Menurut mitologi Hindu, pada zaman dahulu kala, para raksasa seringkali berperang dengan para dewa. Banyak raksasa yang gugur dalam peperangan melawan para dewa. Sukracarya menjadi sedih karena hal tersebut. Kemudian ia bertapa memuja Sang Hyang Sangkara atau Dewa Siwa, dengan dilayani oleh putri Dewa Indra yang bernama Jayanti. Setelah melakukan tapa yang berat selama ribuan tahun, Siwa berkenan mengabulkan permohonan Sukracarya. Siwa memberikan sebuah mantra yang disebut mertasanjiwani, yang mampu digunakan untuk menghidupkan orang mati. Setelah menerima anugerah tersebut, Sukracarya menikah dengan Jayanti sebagai balas budi atas pelayanannya.

Sementara Sukracarya tidak melindungi para raksasa, para raksasa menginap di kediaman Resi Bregu, dengan maksud memperoleh perlindungan di sana. Selama berlindung, mereka menjalani kehidupan sebagai pertapa. Wrehaspati, guru para dewa memanfaatkan waktu tersebut dengan menyamar sebagai Sukracarya. Penyamaran tersebut tidak diketahui oleh para raksasa sehingga saat Sukracarya palsu datang, mereka melayaninya dengan sangat baik seolah-olah mereka sedang melayani Sukracarya asli. Ketika Sukracarya asli datang, para raksasa terkejut sebab mereka merasa bahwa ada dua Sukracarya. Keadaan fisik keduanya persis sama sehingga sulit dibedakan. Saat para raksasa diminta menentukan siapa Sukracarya yang asli, mereka menunjuk Sukracarya yang palsu, sebab mereka sudah melayani orang tersebut dengan baik selama sepuluh tahun, sebelum kedatangan Sukracarya yang asli. Hal itu membuat Sukracarya yang asli marah. Lalu ia mengutuk para raksasa bahwa kaum mereka akan hancur. Setelah mengucapkan kutukan tersebut, Sukracarya yang palsu kembali ke wujudnya semula, yaitu Wrehaspati. Kemudian Wrehaspati melesat ke angkasa dengan perasaan lega karena kaum raksasa akan hancur akibat kutukan guru mereka sendiri.

Jumat dalam Mitologi Nordik

Dalam Mitologi Nordik, Frigg atau Frigga adalah istri Dewa Odin. Ia bergelar: Ratu para Æsir, pemimpin para Dewi, Dewi Kasih Sayang, Dewi Kesuburan, Dewi Rumah Tangga, Dewi Perkawinan, dan Dewi Langit.

Dia punya kemampuan meramal namun ia tidak menceritakan apa yang ia ketahui. Anak-anaknya bernama: Balder, Hodhr, dan Wecta. Anak-anak tirinya bernama: Hermodhr, Heimdall, Tyr, Vidar, Vali, Skjoldr. Thor adalah saudaranya sekaligus anak tirinya. Nama Frigg berarti “cinta” atau “yang tersayang” (bahasa Proto-Jerman: frijjō; atau dalam bahasa Sanskerta: priyā; “yang tersayang”).

Balairung Frigg di Ásgard bernama Fensalir yang berarti “Balairung Rawa”. Mungkin tempat berawa-rawa terkesan sakral untuknya namun tidak diketahui batasan yang jelas. Saga, Dewi yang diceritakan minum bersama Odin dengan cangkir emas di balairungnya, “Bangku Cekung”, mungkin adalah Frigg dengan nama lain.

[akarnews]