Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

The Fed Semakin ‘Hawkish’ dan Faktor Geopolitik Buat Wall Street Bergejolak

Rabu, 26 Jan 2022 - 07:46 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Antarafoto Us Traders Newyorkstockexchange 11012022 - inilah.com
Foto: Antara

Wall Street lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu (26/1/2022) pagi WIB. Hal itu terjadi setelah berputar-putar di sesi sore dengan saham sektor teknologi yang sensitif suku bunga tertekan paling berat. Sebab, ketidakpastian tentang Federal Reserve (Fed) yang semakin hawkish dan meningkatnya ketegangan geopolitik berkontribusi pada gejolak pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 66,77 poin atau 0,19 persen, menjadi menetap di 34.297,73 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 53,68 poin atau 1,22 persen, menjadi berakhir di 4.356,45 poin. Sedangkan Indeks Komposit Nasdaq anjlok 315,83 poin atau 2,28 persen, menjadi ditutup di 13.539,30 poin.

Dalam pola yang mirip dengan Senin (24/1/2022), saham AS bergerak antara penurunan tajam dan kenaikan moderat. Ekuitas berakhir dengan baik dari posisi terendah sesi, di mana S&P 500 sekali lagi bermain-main dengan mengkonfirmasi koreksi.

Jika indeks penentu arah ditutup 10 persen atau lebih di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 3 Januari, itu akan mengkonfirmasi bahwa ia memasuki koreksi pada tanggal tersebut. Indeks S&P 500 mengakhiri sesi 9,2 persen di bawah level tersebut.

Baca juga
China Vs Korea Selatan di Final Piala Asia Wanita

“Kami mengambang di sepanjang garis 10 persen yang berubah-ubah ini, dan investor bertanya. ‘Apakah sudah waktunya untuk melindungi modal saya dengan menjual atau sudah waktunya untuk membeli penurunan?’,” kata Manajer Portofolio Senior GLOBALT, Tom Martin, di Atlanta. “Dan antara kemarin dengan gerakan ke bawah dan ke atas, Anda memiliki pertempuran di antara keduanya.”

Indeks Volatilitas Pasar CBOE ditutup pada level tertinggi sejak 29 Januari 2021.

Anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berkumpul pada Selasa (25/1/2022) untuk pertemuan kebijakan moneter dua hari mereka. Pelaku pasar pada Rabu akan mencermati pernyataan pada kesimpulan pertemuan, bersama dengan sesi tanya jawab Ketua Fed Jerome Powell berikutnya, untuk kejelasan mengenai garis waktu bank sentral untuk menaikkan suku bunga utama guna memerangi inflasi.

“Tentu saja, data ekonomi akhir-akhir ini menunjukkan beberapa pelemahan,” tambah Martin. “Anda akan berpikir mungkin ada pesan yang lebih dovish dari The Fed.”

Baca juga
Beda dengan Jokowi, PM Malaysia Berani Batalkan Proyek Kereta Cepat Meski Bayar Ganti Rugi

Ketegangan geopolitik menambah ketidakpastian investor, dengan NATO menempatkan pasukan dalam siaga dan Amerika Serikat menempatkan pasukan dalam siaga tinggi guna menanggapi penumpukan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina.

Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah di tengah kekhawatiran atas pengetatan pasokan, yang pada gilirannya memberi perusahaan energi dorongan yang kuat.

Energi adalah pencetak keuntungan teratas di antara 11 sektor utama di S&P 500, dengan saham teknologi mengalami penurunan persentase terbesar.

Musim pelaporan keuangan perusahaan kuartal keempat berjalan lancar, dengan 79 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan. Dari jumlah tersebut, 81 persen telah memberikan hasil yang lebih baik dari perkiraan, menurut Refinitiv. Tetapi ada kegagalan penting, seperti Netflix.

Analis sekarang memperkirakan agregat pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan S&P 500 sebesar 24,1 persen untuk periode Oktober-Desember, menurut Refinitiv.

Baca juga
Rusia Siap Rilis NashStore, Aplikasi Pengganti Layanan Google Play Store

General Electric anjlok 6,0 persen setelah konglomerat industri itu, terbebani oleh gangguan pasokan global, melaporkan penurunan pendapatan kuartalannya.

IBM melonjak 5,7 persen setelah raksasa teknologi informasi itu mengalahkan perkiraan hasil kuartalan Wall Street karena kekuatan di bisnis cloud dan konsultasinya.

American Express melampaui estimasi laba kuartal keempat, membuat saham perusahaan kredit konsumen itu melonjak 8,9 persen, sementara Johnson & Johnson naik 2,9 persen setelah melaporkan mereka memperkirakan lonjakan penjualan vaksin 46 persen pada 2022.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 13,13 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,23 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Tinggalkan Komentar