Sabtu, 28 Januari 2023
06 Rajab 1444

Tidak Ada Sepak Bola Seharga Nyawa

Minggu, 02 Okt 2022 - 10:09 WIB
Komnas PA Minta Kapolri Bentuk Tim Investigasi Internal di Insiden Kanjuruhan
Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai laga sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu malam (1/10/2022). (Foto: Ist)

Tragedi kerusuhan pascapertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022) malam, yang menewaskan sedikitnya 127 orang menyisakan kepedihan dan duka yang mendalam.

Wakil Wali (Wawali) Kota Surabaya Armuji menyampaikan keprihatinan atas terjadinya tragedi yang sangat memilukan itu. “Tidak ada sepak bola seharga nyawa. Ini tragedi kemanusiaan luar biasa. Saya ikut berbela sungkawa yang mendalam,” kata Armuji dalam keterangannya, Minggu (2/9/2022).

Dia menuturkan, insiden tersebut merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah sepak bola Indonesia, di mana ada suporter meninggal lebih dari seratus orang dan tentunya diharapkan tidak terjadi di masa mendatang.

Baca juga
BPOM Imbau Cermati Nilai Gizi di Label Kemasan untuk Cegah Diabetes

Armuji menekankan, untuk itu semua pihak harus berbenah bersama-sama. Antusiasme pendukung sepak bola di Jawa Timur dan banyak daerah sangat besar. Tentunya, kata dia, fanatisme buta ini harus dilawan.

“Sepak bola adalah alat untuk memperkuat semangat persaudaraan sebagai sebangsa setanah air bukan menjadi sarana pemecah belah,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Ji itu.

Menurut Cak Ji, loyalitas boleh namun harus memegang teguh norma-norma kemanusiaan. Dengan kejadian ini semua tidak ada yang untung karena semua tercoreng.

“Saya bonek dengan loyalitas tanpa batas tapi harus menjunjung semangat kemanusiaan, rasa sebangsa dan setanah air,” katanya menegaskan.

Baca juga
Pengungsi Erupsi Semeru Mulai Terserang ISPA dan Gatal

Di Indonesia, kata Cak Ji, biasanya kerusuhan itu pemicu utamanya kalau tidak timnya kalah ya fanatisme tim yang berlebihan hingga rusuh antarsuporter.

Cak Ji menyebut sebelumnya suporter Persebaya juga berbuat rusuh di dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo setelah timnya kalah 1-2 melawan RANS Nusantara FC pada 15 September lalu.

Begitu juga kejadian di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu malam (1/10/2022) dengan ulah yang sama dilakukan suporter Arema. Pemicunya sama karena timnya kalah 2-3 melawan Persebaya.

“Kami berharap semuanya menciptakan iklim sepak bola yang kondusif,” ucap Armuji menegaskan.

Tinggalkan Komentar