Tiga Jenderal Ramaikan Bursa Panglima TNI

Tiga Jenderal Ramaikan Bursa Panglima TNI - inilah.com
Bursa Panglima TNI

Bursa Panglima TNI semakin memanas, mencari sosok pengganti Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan pensiun pada November 2021 mendatang.

Tiga nama jenderal dari tiga matra berdiri paling depan untuk mengisi posisi pemimpin tertinggi di militer. Bicara rotasi matra, Panglima TNI saat ini, Marsekal Hadi Tjahjanto, berasal dari TNI AU. Panglima TNI sebelum Hadi, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, berasal dari TNI AD. Jika sesuai rotasi matra, Panglima TNI selanjutnya harus berasal dari TNI AL.

Pemilihan Panglima juga sebagai upaya TNI memenuhi tantangan dan membentuk wajah TNI di masa depan.

Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono disebut-sebut sebagai kandidat terkuat calon Panglima TNI yang bakal menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto.

Sebetulnya, masih ada sosok KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo. Namun kansnya tak sebesar Yudo dan Andika mengingat Panglima TNI saat ini berasal dari matra Angkatan Udara.

Saat ini ada sejumlah PR yang harus diselesaikan panglima terpilih seperti masalah pengembangan personel baik SDM maupun karier serta penempatan personel sesuai kebutuhan; optimalisasi tata kelola antarmatra seperti lewat Komando Gabungan Wilayah Pertahanan maupun satuan lain; hingga soal prajurit nakal selain masalah pengembangan alutsista.

Jenderal TNI Andika Perkasa
Andika sendiri lulus dari Akademi Militer (Akmil) tahun 1987. Ia mengawali karier militernya dengan langsung bergabung di satuan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai komandan peleton.

Terhitung, Andika secara kumulatif telah menghabiskan kariernya di Kopassus selama 12 tahun dengan menduduki berbagai jabatan. Jabatan terakhir pria kelahiran Bandung 21 Desember 1964 silam di Korps Baret Merah itu sebagai Danton 32 Grup 3/Sandha Kopassus di tahun 2002.

Baca juga  Palestina Desak Masyarakat Internasional Akhiri Penjajahan Israel

Selama malang melintang di Korps Kopassus, Andika pernah melaksanakan pelbagai operasi militer. Di antaranya Operasi Teritorial di Timor Timur pada tahun 1992, operasi bakti TNI di Aceh (1994) dan pernah bertugas dalam misi operasi khusus di Papua.

Titik balik moncernya karier menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono di TNI itu ketika mendapat promosi sebagai komandan Korem 023/Kawal Samudera di Sibolga dengan pangkat Kolonel di awal 2013.

Sejak itu, kariernya makin melejit. Pangkat Mayor Jenderal berhasil direngkuh hanya dalam waktu 11 bulan. Ia diangkat pada 8 November 2013 menjadi kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) dan pangkatnya naik menjadi brigadir jenderal alias bintang satu.

Tak berselang lama atau pada 22 Oktober 2014 Andika mendapat promosi sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden setelah Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI ke-7.

Alhasil Bintang dua dengan pangkat mayor jenderal tersemat di pundaknya. Setelah itu Andika dipercaya menjadi Panglima Kodam (Pangdam) XII/Tanjungpura pada Mei 2016.

Pada awal Januari 2018, Andika mendapat promosi kenaikan pangkat menjadi letnan jenderal dengan posisi Komandan Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI.

Jabatan ini membuat dirinya menjabat sebagai Letnan Jendral dengan bintang tiga di pundak. Setelah itu, ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) sejak 23 Juli 2018. Lalu, Ia ditunjuk sebagai KSAD pada pertengahan November 2018 lalu sampai saat ini.

Baca juga  130 Koleksi Lakon Indonesia Dipamerkan di Candi Prambanan

Laksamana TNI Yudo Margono
Yudo Margono merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke XXXlII/tahun 1988.

Ia mengawali karirnya di TNI AL sebagai Asisten Perwira Divisi Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332. Yudo malang melintang berkarier di Kapal Republik Indonesia (KRI).

Tercatat, ia sempat bertugas di KRl Ki Hajar Dewantara, di KRI Fatahmah 36, KRI Pandrong 801, KRI Sutanto 877, dan KRI Ahmad Yani 351 dengan pelbagai jabatan.

Karier Yudo pun terus merangkak naik. Ia sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staf Koarmabar, Pangkolinlamil, Pangarmabar, dan Pangarmada I.

Setelah itu, Yudo dilantik menjadi Pangkogabwilhan I pada September 2019. Sebagai Pengkogabwilhan, pria kelahiran 26 November 1965 itu membawahi tiga matra TNI untuk wilayah Sumatera, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat hingga Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Yudo dipercaya Jokowi sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL). Ia dilantik bersama Marsekal Fadjar Prasetyo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), di Istana Negara Jakarta 20 Mei 2020.

Pelbagai pengalaman operasi turut dilakukan oleh Yudo sepanjang berkarier di TNI AL. Yudo sempat memimpin operasi evakuasi WNI ABK Grand Princess ke Pulau Natuna dan operasi evakuasi WNI ABK Diamond Princess ke Pulau Sebaru.

Yudo juga pernah memimpin pengendalian operasi siaga tempur terkait pelanggaran batas wilayah di laut Natuna Utara pada Januari 2020. Operasi ini dilakukannya selang beberapa bulan dilantik sebagai Pangkogabwilhan I.

Selama pandemi virus corona (Covid-19), Yudo juga kerap memberikan informasi soal corona ketika masih menjabat sebagai Pangkogabwilhan I. Mulai perencanaan karantina WNI di Pulau Natuna, kesiapan Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Pulau Galang Kepulauan Riau dan hingga Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Baca juga  9 Hari Sebelum Panglima Pensiun, DPR Masih Belum Terima Supres Nama Pengganti Hadi

Yudo juga kerap memberikan informasi jumlah pasien per hari, perkembangan fasilitas, hingga dipercaya Panglima TNI Hadi Tjahyanto mengakomodasi pasukan dari satuannya. Masuknya Yudo Margono dalam bursa calon Panglima TNI terkait dengan rotasi matra.

Marsekal Fadjar Prasetyo
Nama Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Fadjar Prasetyo juga berpeluang sebagai salah satu kandidat Panglima TNI menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Penyandang Brevet Kopaskhas itu memiliki pengalaman yang tak kalah mumpuni.

Fadjar Prasetyo lahir 55 tahun lalu di Jakarta pada 9 April 1966. Ia lulus dari Akademi Angkatan Udara tahun 1988 dengan pangkat letnan dua. Selanjutnya, ia mengikuti sekolah penerbang dan lulus tahun 1989.

Sebelum menjabat sebagai KSAU, Fadjar sempat menjabat sebagai Pangkoopsau I sejak 2018 hingga 2019. Setelah itu, dia menjabat sebagai Pangkogabwilhan II dari 2019-2020. Fadjar Prasetyo bertanggung jawab atas wilayah darat, laut, dan udara Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Akhirnya, Fadjar Prasetyo mencapai puncak karirnya di TNI AU pada Mei 2020 kala Presiden Jokowi mengangkat dirinya menjadi KSAU melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 31 tahun 2020. Selain itu, Presiden Jokowi juga mengangkat Fadjar menjadi perwira tinggi Angkatan Udara dengan pangkat marsekal dengan Keputusan Presiden Nomor 35 tahun 2020.

Tinggalkan Komentar