Selasa, 04 Oktober 2022
08 Rabi'ul Awwal 1444

Tiket Pesawat Mahal, Apjapi: Maskapai Jangan Cuman Cari Untung Besar

Rabu, 20 Apr 2022 - 14:39 WIB
Tiket Pesawat Mahal, Apjapi: Maskapai Jangan Cuman Cari Untung Besar

Untuk mudik 2022, tiket pesawat terbang kemungkinan harganya selangit. Naga-naganya, mskapai penerbangan bakal untung besar.

Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi), Alvin Lie berharap, maskapai penerbangan yang masih survive, tidak menaikkan harga tiket hanya demi mengeruk untung besar. “Setelah adanya kebijakan tuslah atau biaya tambahan tiket pesawat berupa fuel surcharge,” kata Alvin, dikutip Rabu (20/4/2022).

Alvin menerangkan, kebijakan fuel surcharge ini, sudah lama menjadi pembahasan bersama dengan pemerintah dan Indonesia National Air Carries Association (INACA). Masalah ini penting untuk mengimbangi biaya operasional maskapai penerbangan.

Alvin menyebutkan, harga avtur saat ini, naik sekitar 50 persen dibandingkan awal Januari 2022. Kenaikan avtur mengikuti kenaikan harga minyak dunia.

Baca juga
Anak 5-12 Tahun Bisa Terbang Sendirian dengan Aman, Begini Tips Alvin Lie

Alvin memaparkan untuk rute-rute yang dilayani pesawat baling-baling atau propeller, maskapai mengalami kerugian besar. Oleh karena itu, sebagian maskapai memilih untuk tidak melayani penerbangan dibandingkan dengan beroperasi tetapi merugi besar.

Dia menyebutkan, biaya operasional maskapai yang menggunakan pesawat berbaling-baling, lebih tinggi 30 persen ketimbang maskapai yang menggunakan pesawat bermesin jet. Alhasil, kebijakan fuel surcharge ini bukan menaikkan laba maskapai, tetapi untuk menutup rugi maskapai agar bisa tetap beroperasi.

“Kami berharap dengan adanya fuel surcharge maskapai tetap membuka layanan. Kebijakan ini tidak wajib. Bagi yang masih beroperasi tidak usah berlakukan fuel surcharge. Kalau memang rugi berat daripada tidak melayani tidak ada pilihan lain,” ujar Alvin.

Baca juga
Bangkrut, Pramugari Maskapai Italia Ramai-Ramai Turun ke Jalan Lepas Seragam

Pemerintah, sebutnya, juga sudah melakukan penghitungan kemungkinan terbitnya fuel surcharge. Kebijakan ini hanya bersifat sementara dan tidak mengubah Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) yang telah ditentukan.

Dengan demikian, maskapai hanya dapat membebankan penaikan tarif kepada penumpang pesawat pada hanya saat kondisi harga avtur yang tak kunjung turun. “Kami berharap pemerintah memantau harga avtur juga sehingga ketika avtur sudah kembali normal. Harga mintak dunia bawah US$100, kebijakan fuel surcharge ini bisa segera dihentikan,” tekannya.

Indonesia National Air Carriers (INACA) menyambut baik penerbitan kebijakan tuslah atau biaya tambahan selama periode mudik Lebaran 2022 dalam mengantisipasi penaikan harga avtur imbas melonjaknya minyak dunia.

Baca juga
Selama Pandemi, Bali International Flight Academy (BIFA) Rekrut 108 Pilot Baru

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menuturkan kebijakan tersebut tertuang dalam KM 68/2022 yang telah ditandatangani Senin (18/4/2022).

Besaran tuslah atau fuel surcharge yang ditetapkan dalam KM ini maksimal adalah sebesar 10 persen untuk pesawat bermesin jet dan 20 persen untuk propeller di atas Tarif Batas Atas yang berlaku di luar PPN.

 

Tinggalkan Komentar