Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

TikToker Idap Tumor Jinak Gara-gara Micin, Benarkah MSG Berbahaya?

Minggu, 18 Sep 2022 - 05:09 WIB
Tumor Micin
(foto: tastingtable.com)

Seorang perempuan viral di media sosial TikTok setelah mengunggah video seusai menjalani operasi pengangkatan tumor jinak gara-gara terlalu banyak mengonsumsi jajanan mengandung micin atau MSG. Ia sangat menyukai jajanan seperti seblak, mie ayam, gorengan dengan bubuk micin dan bakso. Benarkah micin sangat berbahaya?

Dalam video di akun TikTok @nanndduuyy itu terlihat perempuan pemilik akun itu terbaring lemas di kasur rumah sakit dengan infus di tangannya, serta memperlihatkan hasil pengangkatan tumor jinak atau Fibroadenoma Mammae (FAM).

Nanduy juga mengklarifikasi tentang diperbolehkannya mengonsumsi makanan yang membuatnya dioperasi tersebut jika tidak berlebihan, hal itu lantaran videonya dikhawatirkan merugikan pedagang makanan tersebut.

Penggunaan micin atau MSG (Monosodium Glutamat) sebagai penyedap makanan sudah umum di masyarakat. Apabila tidak menggunakan micin atau penyedap rasa dalam makanan menurut sebagian orang adalah rasanya tidak enak. Apalagi pada jajanan-jajanan yang biasa kita temui di sepanjang jalan atau pedagang keliling.

Apa itu MSG?

MSG merupakan penambah rasa yang berasal dari asam L-glutamat, yang secara alami ada di banyak makanan. Asam L-glutamat adalah asam amino nonesensial, artinya tubuh dapat memproduksinya sendiri dan tidak perlu mendapatkannya dari makanan.

MSG berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau, yang biasa digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Dalam industri makanan, ini dikenal sebagai E621 yang larut dengan mudah dalam air, memisahkan menjadi natrium dan glutamat bebas. Bahan penambahan rasa ini dibuat dengan memfermentasi sumber karbohidrat seperti bit gula, tebu, dan molase.

Baca juga
Waduh, Bule di Lombok Curhat Tes PCR Sampai Rp6 Juta

Mengutip Healthline, tidak ada perbedaan kimiawi antara asam glutamat yang ditemukan secara alami di beberapa makanan dan yang ditemukan di MSG. Ini berarti tubuh tidak dapat membedakan antara kedua jenis ini. MSG populer dalam masakan Asia dan digunakan dalam berbagai makanan olahan di Barat. Diperkirakan asupan harian rata-rata orang adalah 0,3-1,0 gram.

MSG memiliki rasa khusus yang dikenal sebagai umami, rasa dasar kelima di samping manis, asam, asin, dan pahit. Umami memiliki rasa daging yang mengacu pada adanya protein dalam makanan.

Efek penambah rasa MSG karena rasa umaminya, yang menginduksi sekresi saliva. Dengan kata lain, rasa umami membuat mulut Anda berair, yang dapat meningkatkan rasa makanan. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa zat umami dapat menurunkan keinginan untuk mengasinkan makanan.

Beberapa penelitian mendalilkan bahwa mengganti garam dengan MSG dapat mengurangi asupan natrium sekitar 3 persen tanpa mengorbankan rasa. Demikian pula, MSG dapat digunakan sebagai pengganti garam dalam produk rendah sodium seperti sup, makanan kemasan, daging dingin, dan produk susu.

Awal Kontroversi MSG

Mengapa orang berpikir micin berbahaya? MSG mendapat reputasi buruk pada 1960-an ketika dokter China-Amerika Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada New England Journal of Medicine menjelaskan bahwa dia sakit setelah mengonsumsi makanan China. Dia menulis bahwa dia yakin gejalanya bisa diakibatkan oleh konsumsi alkohol, sodium, atau MSG.

Baca juga
Pukul Ojol, TNI AL Pastikan Mayor BH Ditahan dan Diproses Hukum

Ini memicu sejumlah informasi yang salah tentang MSG, yang kemungkinan terkait dengan bias yang ada saat ini terhadap imigran China dan masakan mereka. Surat itu menyebabkan penunjukan gejala Kwok sebagai ‘sindrom restoran China’, yang kemudian menjadi ‘kompleks gejala MSG’.

Belakangan, banyak penelitian mendukung reputasi buruk MSG, yang menyatakan bahwa aditif itu katanya beracun. MSG juga telah dikaitkan dengan obesitas, gangguan metabolisme, hingga toksisitas otak.

Belum ada bukti kuat asupan MSG makanan mempengaruhi berat badan atau metabolisme lemak dan masih memerlukan lebih banyak penelitian pada manusia. Selain itu, secara keseluruhan, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa MSG mengubah kimia otak ketika dikonsumsi dalam jumlah normal.

Hingga saat ini, otoritas kesehatan seperti Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), Food and Drug Administration (FDA), dan European Food Safety Association (EFSA) menganggap MSG secara umum diakui sebagai aman.

Mereka juga telah menentukan asupan harian yang dapat diterima sebesar 14 mg per pon (30 mg per kilogram) berat badan per hari. Ini jauh lebih banyak daripada jumlah yang biasanya Anda konsumsi setelah diet normal.

Efek Samping

Beberapa orang mungkin mengalami efek samping dari mengkonsumsi MSG karena suatu kondisi yang disebut MSG gejala kompleks (MSC). Hanya saja persentasenya kecil diperkirakan mempengaruhi kurang dari 1 persen dari populasi umum.

Baca juga
Meski Sudah Minta Maaf, Hotman Paris Bakal Laporkan Anggota DPRD Palembang ke Prabowo

MSC ditandai dengan gejala yang mirip dengan yang dijelaskan oleh Dr. Kwok dalam suratnya. Gejala itu termasuk lesu, kulit memerah, pusing, sakit kepala, mati rasa, ketegangan otot, kesulitan bernapas, dan bahkan kehilangan kesadaran. Dosis ambang batas yang menyebabkan gejala jangka pendek dan ringan pada orang yang sensitif adalah 3 gram atau lebih MSG tanpa makanan.

Namun, perlu diingat bahwa dosis 3 gram adalah dosis yang tinggi. Sajian khas makanan yang diperkaya MSG mengandung kurang dari setengah gram zat aditif, jadi sangat tidak mungkin untuk mengonsumsi 3 gram sekaligus.

Jadi meskipun aman, Anda tetap harus memperhatikan kadar micin yang dikonsumsi. Tak hanya MSG, masih banyak yang perlu diperhatikan saat menikmati jajanan jalanan, seperti kebersihannya, kemasan yang aman hingga bahan-bahan yang digunakan.

Tinggalkan Komentar