Senin, 15 Agustus 2022
17 Muharram 1444

Tips Cegah Infeksi Paru yang Diderita Tjahjo Kumolo dan Banyak Tokoh Lainnya

Jumat, 01 Jul 2022 - 18:41 WIB
Infeksi Paru Tjahjo Kumolo
(foto: Inilah.com)

Infeksi paru makin menjadi momok yang menakutkan. Sejumlah tokoh hingga artis terkena penyakit ini, yang terakhir kabar duka datang dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Tjahjo Kumolo. Yuk kenali penyakit ini dan cara mencegahnya.

Menpan RB Tjahjo Kumolo, Jum’at (1/7/2022), meninggal dunia diduga karena infeksi paru. Penyakit yang sama juga pernah merenggut banyak tokoh terkenal seperti Harmoko, Rima Melati, Ustaz Arifin Ilham, Nana Krip, Ameer Azzikra (Anak kedua ustaz Arifin Ilham), Robby Tumewu, Pak Raden, Pretty Asmara, hingga Rinto Harahap. Kebanyakan mereka meninggal karena komplikasi dengan penyakit lainnya.

Infeksi paru atau pneumonia adalah infeksi yang menyerang kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru. Kantung udara dapat berisi cairan atau nanah, menyebabkan batuk berdahak atau bernanah, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Berbagai organisme, termasuk bakteri, virus dan jamur, dapat menyebabkan pneumonia.

Pneumonia dapat menjadikan korbannya dari yang berefek ringan hingga mengancam jiwa. Penyakit ini akan sangat serius jika menimpa bayi dan anak kecil, orang tua di atas 65 tahun, serta orang dengan masalah kesehatan atau sistem kekebalan yang lemah. Faktor risiko lainnya juga terhadap dengan kondisi kesehatan lain, seperti asma, cystic fibrosis, atau kondisi jantung, ginjal atau hati, termasuk perokok berat.

Komplikasi pneumonia dengan penyakit lainnya membuat korbannya juga mengalami sakit parah hingga meninggal dunia. Seperti yang dialami Rima Melati yang juga mengalami sakit ginjal, demikian pula Ameer Azzikra, yang mengalami komplikasi penyakit infeksi paru dan ginjal.

Kenali Penyebabnya

Mengutip Mayo Clinic, banyak kuman dapat menyebabkan pneumonia. Yang paling umum adalah bakteri dan virus di udara yang kita hirup. Tubuh biasanya mencegah kuman ini menginfeksi paru-paru. Namun terkadang kuman ini dapat mengalahkan sistem kekebalan tubuh, meskipun kesehatan Anda secara umum baik.

Baca juga
Setelah Sembuh Joe Biden Kembali Positif COVID-19, Kenapa?

Pneumonia umumnya berasal dari komunitas di luar rumah sakit atau fasilitas perawatan kesehatan lainnya. Ini mungkin disebabkan oleh bakteri yang dapat terjadi dengan sendirinya jika Anda mengalami pilek atau flu. Kondisi ini dapat mempengaruhi satu bagian (lobus) paru-paru, yang disebut pneumonia lobar.

Ada pula yang berasal dari organisme mirip bakteri seperti Mycoplasma pneumoniae. Ini biasanya menghasilkan gejala yang lebih ringan daripada pneumonia lainnya. Pneumonia jenis ini biasanya tidak cukup parah dan hanya memerlukan istirahat di tempat tidur.

Yang paling sering terjadi adalah jamur. Jenis pneumonia ini paling sering terjadi pada orang dengan masalah kesehatan kronis atau sistem kekebalan yang lemah, dan pada orang yang menghirup organisme dalam dosis besar. Jamur yang menyebabkannya dapat ditemukan di tanah atau kotoran burung dan bervariasi tergantung pada lokasi geografis.

Selain itu ada juga beberapa virus pilek dan flu yang dapat dapat menyebabkan pneumonia seperti yang pada COVID-19. Virus adalah penyebab paling umum dari pneumonia pada anak-anak di bawah 5 tahun. Pneumonia virus biasanya ringan. Namun dalam beberapa kasus bisa menjadi sangat serius. Seperti virus COVID-19 yang dapat menyebabkan pneumonia lebih parah.

Kenali Gejalanya

Tanda dan gejala pneumonia bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman yang menyebabkan infeksi, dan usia serta kondisi kesehatan Anda. Tanda dan gejala ringan seringkali mirip dengan pilek atau flu, tetapi berlangsung lebih lama.

Tanda dan gejala pneumonia mungkin termasuk nyeri dada saat bernapas atau kesulitan bernapas. Pernapasan bisa cepat dan dangkal, dan mungkin merasa sesak napas, bahkan saat beristirahat. Batuk juga bisa menjadi gejala ini, yang mungkin kering, atau menghasilkan lendir kental berwarna kuning, hijau, coklat atau bernoda darah (dahak).

Ada pula gejala kelelahan, demam, berkeringat dan menggigil kedinginan, kehilangan selera makan, dan detak jantung lebih cepat. Beberapa pasien mengalami kebingungan atau perubahan kesadaran mental terutama pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.

Baca juga
Gelar Rakernas, NasDem Diprediksi Ambil Tiga Capres dari Luar Partai

Terkadang gejalanya dibarengi dengan mual, muntah atau diare, sakit kepala, nyeri sendi atau otot hingga batuk darah (hemoptysis). Pada bayi baru lahir mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Bisa jadi mereka mungkin muntah, demam, batuk, tampak gelisah atau lelah serta tanpa energi, atau mengalami kesulitan bernapas dan makan.

Mengobati dan Mencegah

Reaksi tubuh terhadap penyakit ini bervariasi dari yang ringan hingga berat. Penangangannya pun disesuaikan dengan bobot yang diderita pasien. Jika mengalami gejala ringan, pengobatannya biasanya dapat dilakukan di rumah dengan melakukan banyak istirahat, minum lebih banyak serta meminum antibiotik jika kemungkinan disebabkan oleh infeksi bakteri.

Jika tidak memiliki masalah kesehatan lain, Anda harus merespons pengobatan dengan baik dan biasanya segera pulih, meskipun batuk mungkin berlangsung selama beberapa waktu. Untuk kelompok berisiko, pneumonia bisa parah dan mungkin perlu dirawat di rumah sakit. Hal ini karena dapat menyebabkan komplikasi serius, yang dalam beberapa kasus bisa berakibat fatal, tergantung pada kesehatan dan usia seseorang.

Bagaimana jika terjadi komplikasi? Komplikasi pneumonia lebih sering terjadi pada anak kecil, orang tua, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, seperti diabetes atau ginjal.

Kemungkinan komplikasi pneumonia meliputi radang selaput dada, di mana lapisan tipis antara paru-paru dan tulang rusuk (pleura) menjadi meradang, yang dapat menyebabkan gagal napas.

Juga bisa terjadi komplikasi langka seperti abses paru-paru yang bisa terjadi pada orang dengan penyakit serius yang sudah ada sebelumnya atau riwayat penggunaan alkohol berat. Keracunan darah (sepsis) juga merupakan komplikasi yang jarang namun serius. Untuk komplikasi penyakit seperti ini harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Baca juga
Tahun Depan Jadi Tahun Suram Buat Wong Cilik, Minyak Goreng Curah Dilarang

Untuk pencegahan, Layanan Kesehatan Nasional (NHs) Inggris mengungkapkan, meskipun sebagian besar kasus pneumonia adalah bakteri dan tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, memastikan standar kebersihan yang baik akan membantu mencegah penyebaran kuman.

Misalnya, Anda harus menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan atau tisu saat batuk atau bersin. Segera buang tisu bekas mengingat kuman dapat hidup selama beberapa jam setelah meninggalkan hidung atau mulut. Lakukan cuci tangan secara teratur untuk menghindari penularan kuman ke orang atau benda lain.

Gaya hidup sehat juga dapat membantu mencegah pneumonia. Misalnya, Anda harus berhenti merokok karena merusak paru-paru dan meningkatkan kemungkinan infeksi. Juga tidur yang cukup, olahraga teratur dan makan makanan sehat.

Penyalahgunaan alkohol yang berlebihan dan berkepanjangan juga melemahkan pertahanan alami paru-paru terhadap infeksi, membuat Anda lebih rentan terhadap pneumonia.

Salah satu yang juga dapat mencegah pneumonia adalah mendapatkan vaksin. Vaksin tersedia untuk mencegah beberapa jenis pneumonia dan flu. Vaksin pneumonia juga penting bagi anak-anak di bawah usia 2 tahun dan untuk anak-anak usia 2-5 tahun yang berisiko terkena penyakit pneumokokus.

Seperti penyakit lainnya, jika Anda ingin tetap sehat tentu harus melakukan pencegahan dengan pola hidup sehat dan asupan gizi seimbang. Yang tak kalah pentingnya adalah hindari stres. Orang bijak bilang, menjaga dan mencegah kesehatan Anda sejak dini jauh lebih baik ketimbang mengobati. [ikh]

Tinggalkan Komentar