Minggu, 14 Agustus 2022
16 Muharram 1444

TPU Cikadut Jejak Etnis Tionghoa Kota Bandung

Rabu, 12 Mar 2014 - 08:31 WIB
Penulis : Ariez Riza Fauzy
TPU Cikadut

BERBICARA soal kaum Tionghoa di Kota Bandung, tidak pas jika tidak menyebut nama Cikadut. Daerah di timur pusat Kota Bandung itu memiliki tempat yang identik dengan warga keturunan negeri Tirai Bambu tersebut. Itulah TPU (Tempat Pemakaman Umum) Hindu/Buddha atau yang akrab disebut warga ‘Kuburan Cina’.

Ornamen khas Tionghoa yang didominasi warna merah dan kuning emas jelas terlihat di bangunan makam. Batu nisan di makam pun ditulis dengan menggunakan huruf hanzi. Secara historis,  TPU tersebut beroperasi sejak tahun 1918. Namun, secara de facto kondisi di lapangan, makam warga etnis Tionghoa sudah ada satu tahun sebelumnya, Tepatnya tanggal 23 Agustus 1917 yakni makam seorang tokoh penting etnis Tionghoa di Kota Bandung, Tan Joeng Liong.

Pada batu nisan (bongpai) Tan Joeng Liong, tertulis Kapiten Titulair Der Chineezeen. Kapten Titulair berarti kapten kehormatan. Gelar tersebut didasarkan atas jasa dan pengabdian beliau saat menjabat sebagai opsir Bandung dengan pangkat Letnan selama 25 tahun (1888-1917).

Nama lain yang juga tidak kalah terkenal yakni raja tekstil, Yo Giok Sie. Dia meninggal pada 23 Agustus 1963. Yo Giok Sie sendiri merupakan pendiri pabrik tekstil terbesar di Kota Bandung saat itu yakni PT Badan Tekstil Nasional (BTN) yang berlokasi di Cicaheum. Hingga saat ini, bangunan pabrik yang didirikannya masih berdiri kokoh dan menjadi lokasi beberapa pabrik di dalamnya.

Kepala TPU Hindu/Buddha, Supardjo menuturkan, sebelum tahun 1960, TPU tersebut memiliki nama Kuburan Cina Cikadut. Namun karena larangan penggunaan hal-hal berbau etnis Tionghoa saat masa orde baru, nama pemakaman tersebut pun berubah menjadi TPU Hindu/Buddha hingga kini.

"Komplek makam ini membentang luas di kawasan perbukitan Bandung Utara. Luas makam mencapai 561.557 M2. Hal inilah yang membuat kawasan pemakaman ini dinobatkan sebagai kawasan pemakaman terbesar se-Asia Tenggara,” ujar Supardo di ruang kerjanya, Jalan Cikadut, Kota Bandung, Selasa (11/3/2014).

Salah seorang pengurus makam, Ade menambahkan, dalam tradisi Tionghoa, kematian merupakan hal yang sakral. Lahan pemakaman pun, biasanya, sudah disiapkan pihak keluarga atau ahli waris meski mereka masih hidup ataupun dalam keadaan koma. Selain lahan pemakaman, ritual penguburan jenazah pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Hal ini terlihat dari makam atau bong yang sudah disiapkan di komplek pemakaman Cina Cikadut yang tidak sembarangan. Biasanya, anak lelaki paling tua dalam keluarga akan memegang peranan penting dalam mengurusi kematian orang tuanya. Anak lelaki tertua pun yang kelak akan menyimpan abu jenazah orang tuanya.

"Minggu ini saja saya ada pemintaan dari pihak keluarga untuk menyiapkan makam dari keluarga yang punya pabrik tekstil," aku Ade.

Ade menambahkan, ketaatan dalam tradisi penghormatan kepada leluhur bagi masyarakat Tionghoa masih sangat kental. Hal itu terlihat dari kebiasaan mereka warga Tionghoa yang memintanya untuk mengurusi makam sejak 1990. Mulai dari membersihkan hingga membuat ornamen makam yang tak lepas dari arsitektur gaya Tionghoa. Sebagian warga Tionghoa yang masih memegang kuat tradisi pun, diakuinya sering berziarah dengan bersembahyang setiap minggunya.

"Biasanya mereka sembahyang di hari minggu," pungkasnya. [rni]