Selasa, 24 Mei 2022
23 Syawal 1443

Ukraina dalam Keadaan Darurat, Wall Street Tersungkur

Ukraina dalam Keadaan Darurat, Wall Street Tersungkur - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Indeks harga saham di Wall Street pada pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis (24/2/2022) pagi WIB tutup terkoreksi turun. Ini lantaran pengumuman Ukraina dalam keadaan darurat.

Begitu juga dengan negara-negara barat yang meluncurkan lebih banyak sanksi terhadap Rusia atas langkah invasinya ke Ukraina timur.

Dow Jones Industrial Average turun 309,45 poin atau 0,92 persen, menjadi 33.287,16 poin, indeks S&P 500 merosot 53,36 poin atau 1,24 persen, menjadi 4.251,4 dan Nasdaq Composite turun 234,72 poin atau 1,75 persen menjadi 13.146,79.

Nasdaq memimpin penurunan sekitar 1,8 persen pada perdagangan sore, sementara saham sektor teknologi informasi SPLRCT menjadi penghambat terbesar pada indeks S&P 500.

Baca juga
Respons Pasukan Rusia, Amerika Serikat Kerahkan Ribuan Tentara ke Polandia dan Rumania

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina masih berpotensi terjadi. Sejalan dengan itu, Washington belum melihat indikasi Rusia mundur.

Sebagai tanda kemungkinan serangan militer Rusia, Moskow mulai mengevakuasi kedutaan besarnya di Kyiv. Sementara, serangan siber di situs web negara Ukraina menambah kekhawatiran investor.

“Ada risiko geopolitik dan retorika yang membuat investor lebih khawatir. Saya tidak ingin mengecilkan itu. Tetapi, apa yang Barat lakukan (sanksi) adalah memperburuk. Memperburuk momentum yang sudah ada ke sisi negatif,” kata Kepala Strategi investasi di SoFi, Liz Young.

Ketegangan geopolitik yang memburuk telah menekan sentimen investor yang telah dirusak oleh kekhawatiran tentang pengetatan kebijakan agresif oleh Federal Reserve untuk memerangi inflasi.

Baca juga
Keras! Putin Ancam Negara Barat Jika Ikut Campur

Nasdaq terpuruk lebih dari 15 persen sepanjang tahun ini, sementara S&P 500 mengkonfirmasi koreksi di sesi sebelumnya karena 70 persen komponennya merosot lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya dan lebih dari 200 saham harganya turun lebih dari 20 persen.

Tinggalkan Komentar