Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Upaya Mencetak 17 Juta Tenaga Kerja Melek Teknologi di 2030

Sabtu, 24 Sep 2022 - 07:55 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
tenaga IT
Foto: ist

Pemerintah menyebut bahwa Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang melek teknologi pada tahun 2030 mendatang.  Namun kapasitas sumber daya manusia atau SDM dan penguasaan teknologi masih menjadi tantangan di berbagai sektor termasuk dunia bisnis membuat Indonesia saat ini menghadapi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi informasi (IT) yang sangat tinggi. Sayangnya, tenaga baru di bidang IT yang berhasil dicetak perguruan tinggi masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut.

Berdasarkan catatan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kebutuhan tenaga kerja di TIK diperkirakan bakal terus meningkatkan sejak 2022 hingga 2025. Proyeksi kebutuhannya pada tahun ini sebanyak 1,23 juta orang. Jumlahnya diperkirakan naik 21,4 persen menjadi sebanyak 1,49 juta orang pada 2023.

Meski demikian, jumlah tenaga ahli di bidang IT di tanah air masih jauh dari permintaan, baik dari kualitas maupun kuantitas. Menurut riset McKinsey, Indonesia membutuhkan 9 juta profesional digital selama periode 2015 – 2030. Artinya, Indonesia harus dapat melahirkan 600.000 lulusan digital secara rata – rata setiap tahunnya.

Baca juga
Kuliah Umum di UIN Palembang, Airlangga: Pemulihan Jadi Momentum Keluar dari ‘Middle Income Trap’

Dari kebutuhan tersebut, perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 – 200.000 lulusan digital, yang berarti ada kesenjangan sekitar 400.000 – 500.000 lulus digital. Kekurangan tersebut berpotensi menghambat proses transformasi digital perusahaan di berbagai industri, termasuk perbankan.

Dengan skill gap digital yang masih sangat besar di Indonesia, masih diperlukan keselarasan antara perguruan tinggi, vokasi, serta lembaga pendidikan lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Menjawab tantangan tersebut, Refocus Digital Academy hadir di Indonesia sebagai platform pendidikan online yang berfokus untuk mengubah seseorang menjadi profesional dalam industri digital. Tim Refocus mengajarkan profesi digital kepada orang-orang, dimana bidang ini sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Baca juga
Kemendag Genjot Kompetensi SDM di DIY demi Kendalikan Inflasi

Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp 1,7 kuadriliun atau $ 124,1 miliar pada tahun 2025 (tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp 548,2 triliun). Menurut laporan terbaru oleh perusahaan konsultan strategi AlphaBeta, karyawan dengan keterampilan digital memiliki potensi untuk berkontribusi lebih dari Rp 4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030.

Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus Education Project yang mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, kondisi geografi Indonesia menentukan pengembangan IT serta aksesibilitas layanan dan teknologi. Kami memperkirakan 40% dari pertumbuhan lowongan pekerjaan dalam dua tahun ke depan akan menghasilkan kebutuhan rekrutmen yang sangat besar di pasar.

Baca juga
Rekomendasi HR systems, Penjelasan dan Daftar Terbaik

“Kami ingin orang-orang untuk memiliki kesempatan edukasi yang baik serta keterampilan yang terpakai sehingga memungkinkan mereka mendapat penghasilan yang lebih besar, terus bertumbuh dan mengembangkan berbagai produk untuk mencapai tujuan mereka. Kami sendiri mengutamakan pengembangan Refocus secara regional, tim kami menetapkan misi untuk mampu melatih lebih dari 1.000.000 profesional di level internasional yang mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan ambisius,” katanya

Tinggalkan Komentar