https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   06 September 2021 - 06:30 wib

Menelusuri Kebenaran Polemik Doa Iftitah UAH yang Dipermasalahkan

Viral
berita-headline

(ist)

Sebagian dari kita mungkin masih saja disibukkan dengan perdebatan terkait ibadah (ikhtilaf) keseharian. Yang muncul kemudian adalah jarak menimbulkan perpecahan satu pihak, sehingga ada yang merasa paling benar dan menyalahkan orang lain.

Baru ini, dilansir dari pemberitaan suaranasional, Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar membuat pernyataan yang memberikan atensi publik. Ia mengatakan untuk tidak mempercayai para ustaz di luar NU atas pernyataan Ustaz Adi Hidayat (UAH) bahwa tidak ada haditsnya bacaan iftitah takbirotul ihrom Allahu Akbar Kabira Walhamdulillahi Katsira dan seterusnya.

“Kok bisa Ustaz Adi Hidayat da’i setingkat nasional jadi kebanggaan Muhammadiyah bisa bicara bacaan iftitah kabira tidak ada haditsnya. Itu makin membuktikan jangan percaya ustadz di luar NU,” paparnya dalam video dari akun channel youtube info at.

Kiai Marzuki menyesali pernyataan Ustaz Adi Hidayat tentang bacaan iftitah takbirotul ihrom Allahu Akbar Kabira Walhamdulillahi Katsira dan seterusnya yang ia katakan tidak ada haditnya.


Potongan Video

Di sisi lain, dalam telisik pantauan INILAHCOM, video UAH yang ditanggapi Kiai Marzuki tersebut dipotong-potong dan diedit sehingga bisa menimbulkan polemik bagi masyarakat di bawah organisasi kemasyarakatan islam besar NU dan Muhammadiyah.

Disini kesalahpahaman terjadi, dalam video UAH yang dipotong merujuk frase kata "inni wajjahtu" membuat seolah-olah doa iftitah yang dipakai kaum Nahdiyin tidak memiliki sumber hadits yang shahih.

Akibat dari potongan ini tentu saja melahirkan kesalahpahaman. Membuat framing Tafsir terhadap potongan video itu menjadi liar—disertai tuduhan-tuduhan yang mengarah ke Ormas tertentu.

Sebenarnya dalam video official Ustaz Adi Hidayat yang utuh telah membahas bahwa ada 12 doa pembuka shalat yang diajarkan Nabi SAW kepada umat Islam.

"Dari 12 macam doa itu, ada yang bacaannya sangat pendek, menengah, dan panjang," ujar UAH.

Di sini UAH mengatakan ada semacam persepsi keliru yang berkembang di tengah-tengah kaum Muslim Indonesia bahwa masing-masing bacaaan itu punya afiliasi Ormas atau golongan tertentu.

Misalnya, doa iftitah 'Allahumma baa'id' sering dikesankan sebagai amalannya orang-orang Muhammadiyah atau Persis (Persatuan Islam). Sementara, kalau 'Wajjahtu' lebih dikesankan milik orang-orang NU (Nahdlatul Ulama). Padahal, pandangan seperti itu jelas tidak benar. Karena, kedua doa tersebut sama-sama diamalkan Rasulullah SAW semasa hidup beliau," ujar UAH.

Ustaz Adi Hidayat pun melanjutkan setidaknya ada dua doa di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Doa yang pertama berbunyi "Allahumma baa'id bainii wa baina khathayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaaya kamaa yunaqqatstsawbul abyadhu minaddanas. Allahumaghsilnii min khathaayaya bil maa-i watstsalji wal bardi.' Doa ini ditemukan dalam HR Bukhari No 2/182 dan HR Muslim No 2/98 dari Abu Hurairah RA.

Sementara, doa pembuka shalat yang kedua mempunyai lafaz, "Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa anaa awwalul muslimiin." Doa ini tercantum dalam HR Muslim No 2/185-186 dari Ali bin Abi Thalib RA.

Sebagai diketahui, perbedaan pandangan di tengah sementara kalangan mengenai doa iftitah dalam shalat. Seperti diketahui, antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) ada sejumlah perbedaan, termasuk dalam perkara bagian doa awal takbir sholat ini.

Sesekali, perbedaan itu jangan sampai-sampai memunculkan perdebatan di tengah umat. Keduanya sama-sama memiliki dasar dan pemahaman sesuai dengan sanad hadits shahih yang dianutnya.

Saling Menghormati

Sebagai nasihat dari KH Ahmad Mustofa Bisri atau disapa Gus Mus menggarisbawahi, tak jarang perdebatan soal ikhtilaf tak dibawa ke ranah akademik, melainkan emosi semata. Alhasil, masing-masing peserta debat justru tak menunjukkan tanda-tanda rajin beribadah.

Di pihak lain, ada yang merasa direndahkan sehingga tak terima. “Semua itu kian memalingkan para peserta debat dari esensi ibadah itu sendiri. Ada yang sibuk memperdebatkan ibadah, hingga tak sempat ibadah,” kata Gus Mus.

Marilah kita saling menghormati dan menerima serta merawat keberagaman perbedaan (khilafiah) yang ada.

Berikan kesempatan kepada semuanya untuk mengamalkan pilihannya dan tidak boleh mengganggu, apalagi memaksakan kehendaknya. Hormati tradisi dan pilihan perbedaan yang sudah ada pada sesuatu tempat karena semuanya masih dalam lingkup mengamalkan dan mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah.

Begitulah salah satu nasihat tokoh Rais Aam Syuriah Nahdlatul Ulama pada 2015 itu, seperti dirangkum dalam buku bertajuk 'Jangan Merasa Benar Sendiri' .

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Habib Ali Kwitang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, atau dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang diusulkan menjadi
berita-headline

Viral

Ronaldo Pulang ke MU, UAH: Welcome Home, Stay Away From Alcohol

Bintang sepak bola dunia Cristiano Ronaldo resmi bergabung dengan klub lamanya, Manchester United
berita-headline

Viral

Mengungkap Nominal Penghasilan Para Dai Kondang Mulai dari Rp10 Juta hingga Rp1 M

Isu tarif pendakwah tengah menjadi banyak perbincangan orang. Metode berdakwah tanpa diundang seb
berita-headline

Viral

Soal Ceramah UAH Disinggung PWNU Jatim, Cak Nanto: Kami Harap Pahami Secara Utuh Ceramahnya

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau Cak Nanto mengajak semua tokoh agama u
berita-headline

Viral

Prihatin Kondisi Tenis Meja Tanah Air, Turnamen Super Seri 2021 Digelar

Dualisme kepemimpinan pengusur Tenis Meja Nasional membuat dunia tenis meja tanah air suram. Tak