https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   07 September 2021 - 22:06 wib

10 Tahun Lagi, Bank Tradisional Berguguran Ganti Bank Digital, Bos BCA Punya Ramalan Begini

Saat ini, bank konvensional atawa tradisional, harus ikut perkembangan zaman kalau tak mau tergulung. Kompetisi di industri perbankan semakin ketat, segera berbenah dan jadilah bank digital. Manjakan nasabah dengan layanan digital yang mudah, aman dan cepat. Satu lagi, murah.

Terkait sektor perbankan, bankir senior, Jahja Setiaatmadja punya ramalan. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, bilang, dalam 10 tahun ke depan, kemungkinan jumlah bank bakalan susut. Tersisa maksimal tiga bank digital yang akan memimpin sektor terkait. Seleksi alamiah akan dilalui seluruh bank di tanah air, termasuk bank digital. Karena mereka hidup di kolam yang sama.

Jahja menyebutkan, pengalaman seleksi bank tradisional yang terjadi sebelumnya, bakal terulang. Semisal, pada  1980-an, jumlah bank di Indonesia mencapai 200-an bank. Namun, kini menyusut setengahnya. Sedangkan bank yang masuk level papan atas atau bank pemimpin, jumlahnya tak lebih dari 20 bank.

Perihal seleksi pasar ini, tentunya, tak terjadi di Indonesia saja. Di negara lain, bahkan berlangsung lebih ketat. Misalnya di China ada WeChat, KakaoBank di Korea Selatan, dan Rakuten Bank di Jepang yang menjadi pemimpin keuangan digital di negara masing-masing. "Saya pikir di Indonesia, 10 tahun dari sekarang, saya melihat sorry to say (maaf saja), hanya akan ada 3 digital bank. Jujur saja," kata Jahja dalam webinar Banking Outlook 2021, Jakarta, Selasa (7/9/2021).

Belajar dari persaingan kartu kredit, Jahja menilai perusahaan yang ingin memimpin harus mampu berdiri tanpa melakukan bakar uang atau mengandalkan promo. Dia bilang, kunci untuk memenangkan persaingan, sederhana namun bukan perkara mudah. Bank yang berhasil merebut loyalitas konsumen tanpa embel-embel diskon dan promo, adalah pemenangnya.

Kata Jahja, promosi hanya berlaku sementara saja. Bila tak ada promo, jasa perusahaan tidak akan lagi dipakai bila tidak ada loyalitas. "Kalau ada promo, baru pakai. Makanya sudah setop itu promo-promo kartu kredit karena sudah mengalami babak belur semua, ini salah satu contohnya," paparnya.

Kendati semua bank digital akan menggunakan trik dan strategi berbeda, namun ia menilai bank digital yang bakal menang adalah bank yang mampu memilih partner tepat dan mendapat dana investasi yang memadai.

Lantas, apa sebenarnya bank digital? Dilansir dari The Balance, perbankan online atau atau bank digital diartikan sebagai layanan perbankan secara daring. Melalui layanan ini, nasabah dapat melakukan transaksi secara online dan hanya menggunakan smart phone serta kartu kredit. Dengan adanya bank digital, nasabah tak perlu repot untuk mengambil uang dimesin ATM jika ingin melakukan transaksi.

Pasalnya, semua layanan dari bank digital sudah bisa diakses lewat smart phone. Cara kerja layanan bank digital dirancang senyaman mungkin agar menghemat waktu nasabah, dan memungkinkan melakukan kegiatan perbankan, sesuai jadwal nasabah. Artinya, nasabah tidak terbatas ruang dan waktu operasional kantor bank.

Hampir semua hal bisa dilakukan via daring atau online di bank digital, seperti halnya di bank tradisional atau lokasi credit union. Misalnya, membuka rekening, menabung atau menarik duit. Dengan bank digital, nasabah dimanjakan dengan kecepatan transaksi.

Lalu bagaimana dengan keamanan? Bank digital memiliki sistem keamanan yang mumpuni. Jika ada hal yang aneh atau berbau penipuan, sistem keamanan di bank digital langsung bekerja dengan memberikan peringatan. Namun ada kekurangan terkait data pribadi nasabah bank digital lebih riskan diretas ketimbang nasabah bank tradisional.

Untuk bunga tabungan atau simpanan, bank digital memberikan tawaran lebih tinggi. Dan, biaya bulanan juga lebih rendah ketimbang bank konvensional. Keuntungan lain, bunga pinjaman bank digital lebih rendah ketimbang konvensional.

Di Indonesia, beberapa bank umum mendirikan unit usaha baru, yaitu bank digital. Misalnya, Bank Jago milik konglometerat Jerry Ng. Sebelumnya sudah ada Jenius dari BTPN, Digibank dari DBS, TMRW dari UOB, D-Save dari Danamon dan Permata ME dari Bank Permata. Ini jelas daftar sementara. Nantinya bakal semakin panjang.





Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Era Bank Digital, BNI Bikin Platform untuk Pasarkan Produk Jawara

Saat ini, digitalisasi banking menjadi harga mati bagi perbankan di tanah air. Upaya menyempurnak
berita-headline

Viral

Pandemi, CIMB Niaga Syariah Beri Solusi Buka Tabungan Secara Digital

CIMB Niaga Syariah terus meningkatkan customer experience untuk pembukaan tabungan melalui