https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   14 September 2021 - 06:24 wib

Mencari Solusi Sampah Plastik untuk Nelayan Pangandaran

Viral
berita-headline

(ist)

Pemandangan sampah plastik akibat arus yang terbawa di kawasan pantai Pangandaran, Jawa Barat, membuat sejumlah petambak dan nelayan khawatir bakal sering muncul akibat berkepanjangan. Mereka berharap pembersihan sampah serta pemulihan kawasan segera dirampungkan sehingga dampaknya tidak meluas.

"Sudah beberapa bulan terakhir ini banyak sampah," kata Tarno, salah seorang nelayan di pantai timur Pangandaran kepada wartawan, Rabu (1/9).

Tarno mengatakan, berdasarkan pengalamannya saat melaut, sampah plastik paling banyak ditemukan di perairan sungai Citanduy, seperti yang ada di sungai-sungai kecil yang bermuara di kawasan pangandaran Bahkan, akibat banyaknya sampah plastik, dia terpaksa harus mengangkat mesin kapal setiap hendak meninggalkan muara menuju tengah laut.

Posisi mesin kapal yang memang terletak di sisi kapal sangat mudah terbelit sampah. Karenanya, jika mesin tidak diangkat, maka dipastikan sampah-sampah itu akan membelit baling-baling mesin kapal hingga tidak bisa jalan.

Selain itu, lanjut Tarno, sampah plastik juga sangat mengganggu proses penangkapan ikan. Nelayan yang biasa menangkap rajungan itu seringkali menemukan sampah yang ikut tergulung di dalam jaring saat jaring tersebut diangkat.

Sumber sampah tersebut dikatakan berkumpul di muara lalu terbawa ke laut lepas sebelum akhirnya terbawa arus laut ke pantai timur.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Pangandaran Tonton Guntari mengakui bahwa pencemaran lingkungan khususnya sampah plastik di perairan Pangandaran sudah cukup memprihatinkan.

"Pantai yang dekat dengan muara memang terjadi seperti itu. Setiap hari, sampah yang terjaring dan dikumpulkan di tepi pantai kami angkut, memang cukup banyak," kata Tonton.

Dia juga mengapresiasi sikap nelayan yang ikut membantu mengumpulkan sampah yang ikut terjaring. "Tapi sebaiknya jangan dibakar, kumpulkan saja nanti kami angkut," kata Tonton.

Dia mengatakan masalah tersebut bukan perkara mudah. Karena menyangkut kesadaran kolektif masyarakat di berbagai daerah wilayah hulu sungai.

Fenomena wabah sampah laut ini dinilai makin sulit tertangani, terlebih di tengah pandemi karena pembatasan kegiatan masyarakat, termasuk proses untuk clean-up karena akan mengumpulkan banyak orang.

Regulasi dan Edukasi soal plastik

Direktur Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira menilai, inisiatif regulasi dari pemerintah untuk menanggulangi sampah plastik masih harus diperbaiki dari segi sasaran.

Indonesia saat ini memang dikenal sebagai penghasil sampah plastik terbanyak di Dunia.

Selama ini, peraturan yang ada hanya fokus terhadap pasar modern, sementara pasar tradisional dan penjual sektor informal seperti warung dan kios belum terjangkau.

Tiza mengatakan, poin berikutnya yang harus diperhatikan pemerintah adalah cakupan wilayah. Saat ini, peraturan daerah masih terkonsentrasi pada kabupaten atau kota.

Sejauh ini, regulasi tingkat perda sudah ada, namun masih terbatas pada penggunaan kantong plastik. Tiza menilai, peraturan tersebut mungkin bisa diperluas ke plastik lain seperti sedotan dan styrofoam.

"Pilihannya bisa mengurangi dengan penetapan cukai atau pelarangan sekaligus," tuturnya.

Sementara Pendiri Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi menilai terkait sampah plastik bukan hanya mendorong inisiatif dari sisi pemerintah, para produsen plastik juga diminta turut berkontribusi mengelola sampah yang mereka hasilkan.

“Jadi mereka harus menyediakan kontainer sampah khusus. Sebab sampah plastik produsen seperti kemasan makanan itu bentuknya multi layer susah didaur ulang sehingga harus ada tanggung jawab produsen karena mereka membebani lingkungan kita. Kami juga mendorong masyarakat setop makan plastik. Mari mengurangi pemakaian plastik sekali pakai seperti saset, botol minum kemasan, sedotan, dan styrofoam,” ungkap Prigi dikutip dari VOAindonesia.

Pusat daur ulang

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) tengah menyiapkan pusat daur ulang di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP3K) guna menangani permasalahan sampah di laut. Kegiatan ini merupakan program kegiatan bantuan sarana dan prasarana penanggulangan pencemaran di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Direktur Jenderal Pengelolan Ruang Laut KKP Tb. Haeru Rahayu, menyampaikan masalah sampah di Indonesia menjadi perhatian besar pemerintah. Hal ini disebabkan karena 80 persen sampah yang masuk ke laut berasal dari daratan, sehingga dalam proses pelapukan sampah plastik untuk menjadi nanoplastik membutuhkan proses yang panjang dan terdapat kemungkinan pula masuk dalam rantai makanan di ekosistem laut. Karenanya, Tebe menjelaskan KKP melakukan langkah-langkah strategis dalam penanganan sampah.

“KKP akan melakukan beberapa kegiatan di wilayah pesisir dan pulau kecil seperti penanganan pencemaran, pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS)/Pusat Daur Ulang dan Pengembangan kawasan pesisir bersih,” kata Tebe dalam keterangannya pada Rabu (9/6/2021).

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Muhammad Yusuf, juga menjelaskan jenis bantuan Tempat Penampungan Sementara/Pusat Daur Ulang (TPS/PDU) yang akan dibangun di beberapa lokasi percontohan di Indonesia memiliki bentuk bangunan sederhana semi permanen dengan fasilitas alat pengolah sampah seperti mesin pencacah plastik, mesin press dan mesin komposter.

Keberadaan TPS/PDU di pesisir bisa menjadi solusi, sehingga sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat dapat langsung dibuang atau didaur ulang.

Bantuan Prasarana TPS/PDU menyasar kelompok masyarakat, masyarakat hukum adat, lembaga swadaya masyarakat yang melakukan kegiatan pada bidang kelautan dan perikanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Saat ini, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik hingga mencapai 30 persen dan penanganan pengelolaan sampah plastik sebesar 70 persen, serta mengurangi sampah yang masuk ke laut sebesar 70 persen pada tahun 2025, sehingga kebocoran sampah ke laut seperti yang terjadi di kawasan Pangandaran diharapkan dapat berkurang setiap tahunnya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Susi Pudjiastuti, Konsen Jaga Laut Meski Tak Lagi Menteri

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dikenal karena perhatiannya terhadap kekay
berita-headline

Inersia

Kemasan Isi Ulang Jadi Solusi Pengurangan Sampah Plastik

Masalah sampah plastik merupakan persoalan terkini dari perkotaan bahkan masalah global. Pengguna
berita-headline

Inersia

Ubah Sampah Plastik jadi Aspal

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019 menyebutkan timbunan sampah di Indonesi
berita-headline

Viral

Sampah Kali Busa Bekasi Masih Terlihat Berserakan

Tumpukan sampah di saluran irigasi Kali Busa, Desa Satria Mekar, K
berita-headline

Inersia

Continental Kembangkan Ban Ramah Lingkungan dari Bahan Daur Ulang

Produsen ban asal Jerman, Continental AG, memperkenalkan konsep ban ramah lingkungan yang dibuat