https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   23 September 2021 - 01:34 wib

"Islam Tengah" Apalagi Itu?

Viral
berita-headline

Amanat Institute menggelar kegiatan diskusi bertajuk "Indonesia Butuh Islam Tengah"

Persoalan ekstremisme, hate speech atau ujaran kebencian, dan anti terhadap perbedaan sejatinya bukan hanya terjadi di Indonesia. 

Di negara-negara demokrasi seperti Amerika Serikat dan Prancis bahkan lainnya juga mengalami persoalan yang sama, akibat model artikulasi politik yang eksklusif.

Persoalan itu masih menjadi 'pasangan' yang selalu hadir mewarnai dunia perpolitikan. Bahkan menjadi fenomena gunung es, sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara maksimal.

Di Indonesia dapat dikatakan dalam kondisi awas, mesti dilatarbelakangi banyak hal, namun kemungkinan besar faktor pemicunya adalah ketimpangan sosial. Ada perbedaan antara suatu keadaan dengan keadaan yang lain.

Jika terus dibiarkan bisa memicu ketidakstabilan ekonomi. Untuk itu, sebagai negara mayoritas berpenduduk umat Muslim, maka peran kelompok Islam tengah mesti hadir guna memutus  jurang perbedaan itu. 

"Kita butuh Islam tengah. Artinya saya mencoba melihat dari perspektif yang sepertinya belum banyak dikaji," kata Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi dalam acara diskusi bertajuk "Indonesia Butuh Islam Tengah" Rabu (21/9/2021).

Muncul Sebutan "Islam Tengah" 

Dalam konteks perspektif political science, wacana Islam tengah tak bisa terlepas dari upaya untuk pembangunan politik lebih baik ke depan. 

Dalam hal ini agama, tradisi, dan berbagai instrumen politik perlu berkolaborasi mensukseskan agenda-agenda pemerintah demi kemaslahatan orang banyak dalam lingkaran modernisasi.

Sementara itu, sebutan Islam tengah mulai menggelinding  beberapa waktu terakhir usai digaungkan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. 

Zulhas menekankan Islam tengah adalah karakteristik yang moderat, sesuai jati diri Indonesia yang disepakati para pendiri bangsa.

Islam tengah cenderung lebih mengambil sikap yang adil dan seimbang. Contohnya di antara kelicikan dan kedunguan  tengahnya akal.  Antara keangkuhan dan rendah diri memilih sikap lebih elegan, dan masih banyak contoh lainnya.

Tetapi posisi tengah mesti diperdebatkan lagi, bila dikaitkan dengan persoalan ketimpangan sosial. Pasalnya yang dirugikan adalah masyarakat kecil. Ada ketidakadilan di sana.

"Artinya ada hal yang bisa kita bersikap di tengah adalah hal yang kita harus mengambil sikap jelas.  Keberpihakan kita terhadap kelompok atau masyarakat yang dizalimi atau ditindas bila dikaitkan dengan sosial ekonomi," ujar Pendiri Kader Bangsa Fellowship Program, Dimas Oky Nugroho.

"Islam Tengah" Apalagi Itu?

Direktur Eksekutif Amanat Institute, Fahd Pahdepie menyampaikan,  ketika men-share poster acara diskusi bertemakan Islam tengah, muncul  banyak pertanyaan dari berbagai pihak dengan kata "Islam Tengah, Apalagi Itu?"

Dijelaskan, sebetulnya Islam tengah bukan sebuah istilah baru, hanya mungkin selama ini khalayak tak familiar ketika mendengar sebutan itu. 

Padahal jauh sebelumnya sudah terdegar sebutan Islam moderat, Islam wasathiyah, yang juga bagian dari Islam tengah. Saat ini hanya butuh memahami dengan bahasa yang lebih lugas. 

Diuraikan lagi bahwa, penyebutan sederhananya Islam tengah adalah sikap tengahan. Di mana upaya mengambil jarak terlebih dahulu saat menghadapi baik yang bersifat berbenturan atau konfliktual. Lalu mengambil sikap bijak yang bisa dikontribusikan umat Islam dalam mengatasi persoalan teraktual.

Ditambahnya lagi, gagasan Islam tengah merupakan karakter sejati umat Islam sesuai dengan apa yang disebut dalam Al-Qur'an ummatan wasathan. Jadi umat Islam ditakdirkan menjadi umat yang paling baik, pendengar, penengah, dan juru damai. 

Bila dikerucutkan lagi, inti daripada Islam tengah dalam pembahasan ini sebetulnya adalah menjembatani. Menghubungkan atau menjadi perantara antara pemerintah dengan kelompok Islam dalam mengatasi persoalan ketimpangan sosial atau hal terkait lainnya. 

"Bicara posisi, itu bicara keberpihakan. Terus apa yang dilawan? Politik global maupun lokal kan sebetulnya sudah tak seperti dulu di mana kawan dan lawan," kata Fahd Pahdepie.

Istilah Apapun Intinya Bagian Metode Dakwah 

Dalam konteks negara dan bangsa di belahan dunia yang lain, bila ditelisik sangat sulit menemukan konfigurasi Islam demokrasi dan kebudayaan seperti di Indonesia.  

Jadi baik Islam nusantara, Islam wasathiyah, ataupun Islam tengah semuanya adalah bagian dari metode atau cara bagaimana Islam bisa didakwahkan dan diterima.

Dalam berproses jika membawa kesejahteraan berbanding lurus dengan pembangunan demokrasi yang ada di Indonesia, maka harus terus dikerjakan anak bangsa dari semua komponen.

"Kemudian kalau ada yang memiliki pandangan lain, itu tak terlepas dari kegelisahan tentang permasalahan demokrasi yang ada di Indonesia.  Memang kadang mereka membangun atas narasi berbagai permasalahan di Indonesia," tutup Ketua Umum PB PMII, Abdullah Syukri.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Maulid Nabi, Melahirkan Sifat Muhammad

Rohatil atyaru tasydu, fi layalil maulidi. Wa bariiqun-nuri yabdu, min ma’ani ahmadi.
berita-headline

Kanal

Zulhas Aset Besar 'Beban' Politik Jokowi Berkurang

Bagi rakyat politik tak hanya sekedar urusan koalisi atau oposisi,
berita-headline

Kanal

Inilah Jurnalisme Solusi, Naufan Punya Harapan Lagi

Minggu lalu, tepatnya 30 Agustus 2021, saya mendapatkan kabar seorang santri di Garut y
berita-headline

Kanal

Cerita di Balik Sukses Tim Thomas Indonesia 2020, Yang Belum Pernah Anda Baca

Oleh FAHD PAHDEPIE* 
berita-headline

Kanal

Menyembuhkan Diri, Hidup Sebelum Mati