https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   28 September 2021 - 16:44 wib

1.600 Anak Meninggal karena Covid-19, PTM Harus Terapkan Prokes Ketat

Viral
berita-headline

Dokumentasi INILAHCOM/AGUS PRIATNA

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kini sudah mulai diberlakukan. Meski dilakukan secara terbatas di tengah pandemi Covid-19, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama soal penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon), Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI menjelaskan, IDAI dalam hal ini menganggap sekolah memang harus segera dijalankan. Artinya, jika melihat pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari 18 bulan, bisa dilihat adanya gangguan di beberapa sistem. Mulai dari pendidikan, ekonomi, dan perkembangan sumber daya manusia yang kurang maksimal.

"Untuk long term-nya, suatu saat para remaja tidak siap mendapat pekerjaan, tidak siap untuk sebuah market, dan banyak yang tidak sekolah, terjadi early merried, dan kehamilan dini. Human capital kita ini menjadi kurang kualitasnya untuk bersaing di dunia," papar Aman dikutip dari tayangan video yang ditampilkan di instagram resmi IDAI @idai_ig, Jakarta, Selasa, (28/09/2021).

Namun, ada hal yang lebih penting dari itu adalah ketika banyak anak-anak yang menjadi korban terinveksi Covid-19 hingga meninggal dunia. Menurut data dari IDAI, 50 persen anak-anak yang meninggal akibat Covid-19 di bawah usia 5 tahun, dan sekitar 30 persen adalah para remaja.

"Kita lihat saat ini, banyak juga anak kita yang meninggal. Jadi, yang meninggal saat ini hampir 1.600, oke. Dan yang menyedihkan itu 50 persen di bawah 5 tahun, sekitar 30 persen adalah remaja," tambah Aman.

Lantas apakah boleh PTM dilakukan saat ini?

"InsyaAllah boleh. Karena positif rate kita sudah di bawah 8 persen. Kita merekomendasi yang sudah diimunisasi, dan guru serta di lingkungannya sudah diimunisasi," kata Aman.

Hal yang lebih teknis lagi adalah memastikan anak tidak membuka maskernya saat berada di sekolah.  

"Teknisnya, anak tidak boleh buka masker di sekolah. kita merekomendasikan maksimal 2 jam dulu di sekolah. Sistem ini harus diterapkan. Trial tatap muka itu harus diterapkan. Tetapi masih ada beberapa yang makan di kantin. Ada yang buka masker," tambahnya.

Solusi dari PTM


Agar tidak menimbulkan cluster di saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM), hal yang paling penting adalah bagaimana cara memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini bukan saja menjadi tanggung jawab pihak sekolah kepada pemerintah dan Pemda.

"Tetapi kepada orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah," tegas Aman.

Hasil riset jumlah anak terpapar Covid-19

Berdasarkan studi retrospektif dari data berdasarkan laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat oleh dokter anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama Maret-Desember 2020 (gelombang pertama covid di Indonesia), didapatkan 37.706 kasus anak terkonfirmasi Covid-19.

Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu. Dikatakan oleh Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon) selaku Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, adanya gelombang pertama covid-19 menyebabkan kematian pada anak cukup tinggi.

“Penelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus Covid-19 anak di Indonesia pada gelombang pertama Covid-19. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat," kata Aman B. Pulungan, Jakarta, Senin, (27/09/2021).
 
Berdasarkan data tersebut, di antara anak-anak terkonfirmasi Covid-19 yang ditangani oleh dokter anak, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun (26 persen), diikuti 1-5 tahun (23 persen), 29 hari- kurang dari 12 bulan (23 persen), 0-28 hari (15 persen), dan 6- kurang dari 10 tahun (13 persen).




 
"Berdasarkan laporan tersebut, diperoleh Case Fatality Rate (CFR) covid-19 pada anak di Indonesia: 522 kematian dari 35.506 kasus Suspek (CFR 1.4 persen), dan 177 kematian dari 37.706 kasus Terkonfirmasi (CFR 0.46 persen)," kata Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K) - Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Nadiem Terus Pastikan Percepatan Vaksinasi Pelajar

Percepatan program pembelajaran tatap muka (PTM) di Indonesia harus segera terealisasikan untuk m
berita-headline

Viral

Angka Kematian Covid-19 Hilang Kemana?

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan beberapa tanggapan terk
berita-headline

Viral

Hasil Riset: Imunisasi Anak Rendah Selama Pandemi

Hasil penelitian cepat yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada April 2020 menunjukka
berita-headline

Kanal

Erick Thohir Harapkan Kontribusi BUMN untuk Pulihkan Pariwisata Bali

Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi salah satu destinasi wisata
berita-headline

Viral

Dokter Reisa, Sudah Vaksin Jangan Abai Prokes

Juru bicara Penanganan covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro menjelaskan